Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan dalam Terang Kisah Para Rasul

Pertemuan APP 4

Hari Kamis, 19 Maret 2026, Lingkungan Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan APP ke-4, dan juga Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan di Rumah Bapak Sugiyono di Kradenan. Sebelum Pertemuan APP dimulai, umat menyelesaikan administrasi, arisan, lotre dan lain-lain. Setelah dirasa cukup, baru sembahyangan dimulai. Pada Pertemuan kali ini umat diajak untuk menyadari pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan, agar setiap usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, teratur, dan menghasilkan buah yang nyata.

Bacaan dari Kisah Para Rasul 6:1–7 menggambarkan situasi jemaat perdana yang mulai berkembang pesat. Dalam perkembangan tersebut, muncul persoalan mengenai pembagian bantuan kepada para janda, di mana terjadi ketidakadilan yang menimbulkan keluhan. Para rasul tidak mengabaikan masalah ini, melainkan mencari solusi yang bijaksana dan terarah.

Mereka kemudian menetapkan suatu pedoman dengan memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani kebutuhan tersebut. Para rasul sendiri tetap fokus pada tugas utama mereka, yaitu doa dan pelayanan firman. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan yang baik membutuhkan aturan, struktur, dan pedoman yang jelas agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan maksimal.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa tanpa pedoman yang jelas, sebuah gerakan dapat mengalami kekacauan, ketidakadilan, bahkan perpecahan. Sebaliknya, dengan adanya pedoman yang disepakati bersama, pelayanan dapat berjalan lebih efektif, tertib, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Dalam kehidupan umat saat ini, baik di lingkungan, paroki, maupun masyarakat, pedoman sangat diperlukan. Pedoman membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan bersama, menjaga keadilan, serta memastikan bahwa setiap orang dilayani dengan baik. Pedoman juga menjadi sarana untuk membangun kerja sama, saling percaya, dan tanggung jawab bersama.

Melalui Pertemuan APP 4 ini, umat diajak untuk tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga menghargai dan mengikuti pedoman yang ada. Bahkan lebih dari itu, umat didorong untuk terlibat dalam menyusun dan menghidupi pedoman tersebut demi kebaikan bersama.

Akhirnya, seperti jemaat perdana yang semakin bertumbuh karena keteraturan dan kesatuan, demikian pula kita diharapkan mampu membangun komunitas yang kuat, terarah, dan penuh kasih. Dengan pedoman yang jelas dan semangat pelayanan, setiap gerakan yang kita lakukan akan semakin mencerminkan karya Tuhan di tengah dunia.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DWILtWfD9Zy/

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Pertemuan APP Ke 4 Lingkungan St. Stefanus

Tetulung ning ora waton”

Membantu sesama adalah panggilan hati yang mulia, namun ketulusan saja tidaklah cukup. Dalam pertemuan ke-4 APP (Aksi Puasa Pembangunan) ini, kita diajak untuk merenungkan makna “Memberi dengan Hikmat.”

Berikut adalah narasi singkat dan menyentuh yang bisa digunakan sebagai pengantar atau renungan:


Membantu dengan Hati, Memberi dengan Hikmat

Seringkali, tangan kita begitu ringan terulur karena rasa iba yang mendalam. Kita ingin segera menghapus air mata sesama tanpa berpikir panjang. Namun, kasih yang sejati tidak hanya sekadar “memberi,” melainkan “peduli pada pertumbuhan.”

Ada istilah “Tetulung ning ora waton”—menolong tetapi tidak asal-asalan. Membantu tanpa hikmat ibarat menyiram air di atas tanah yang sudah banjir; niatnya baik, namun hasilnya justru merusak. Jika kita memberi tanpa tuntunan dan kebijakan, bantuan tersebut bisa saja hanya menciptakan ketergantungan, bukan kemandirian.

Penyaluran dana APP yang tepat sasaran adalah bentuk penghormatan kita terhadap pengorbanan sesama yang telah mengumpulkan receh demi receh dalam kotak APP mereka. Dengan bersikap bijak, kita memastikan bahwa setiap Rupiah yang disalurkan benar-benar menjadi jembatan bagi mereka yang terpinggirkan untuk bangkit kembali, bukan sekadar pemuas kebutuhan sesaat yang cepat hilang.

Mari kita memohon hikmat kepada Sang Pemberi Hidup, agar setiap bantuan yang kita salurkan:

  • Tepat Sasaran: Menyentuh mereka yang benar-benar membutuhkan.
  • Terarah: Memiliki tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan bersama.
  • Bermartabat: Menghargai kemanusiaan mereka yang menerima.

Sebab, membantu dengan bijak adalah bentuk tertinggi dari kasih yang bertanggung jawab.

Pertemuan APP ke-4 Lingkungan St. Gregorius KadisokaSelasa, 17 Maret 2026

Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-4 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka telah dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Maret 2026, dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Pada pertemuan kali ini, umat diajak untuk mendalami tema “Pentingnya Pedoman Dalam Sebuah Gerakan.”

Melalui bacaan Injil yang diambil dari Kisah Para Rasul 6:1-7, umat diajak untuk merenungkan bagaimana para rasul pada masa Gereja perdana menghadapi tantangan dalam pelayanan. Dengan bijaksana, mereka menetapkan pedoman yang jelas serta membagi tugas secara teratur, sehingga pelayanan kepada umat dapat berjalan dengan baik, adil, dan terarah.

Dalam permenungan bersama, umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka menyadari bahwa setiap gerakan, khususnya dalam pelayanan Gereja dan kehidupan sosial, membutuhkan pedoman yang jelas agar tujuan bersama dapat tercapai dengan efektif. Pedoman tersebut menjadi dasar dalam bertindak, menjaga kesatuan, serta menghindari kesalahpahaman dalam pelayanan.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, dengan harapan agar seluruh umat semakin mampu menjadi pelayan yang setia, bijaksana, dan berpegang teguh pada nilai-nilai Injil dalam setiap gerakan kehidupan.

Media Social Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – GMBA :

Youtube : https://youtu.be/1A-pfDRASK8

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DV_VN59D-Tm/?igsh=MXZnbXBhMDJlN3Y4dQ==

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSuVBo25y/

Langkah Pertobatan di Bawah Hujan: Pengakuan Dosa GMBA

Langit kelabu menyelimuti Maguwoharjo pada Senin, 16 Maret 2026. Senin sore itu, hujan turun dengan derasnya namun tidak menghalangi langkah pertobatan umat Gereja Maria Bunda Allah yang mengharapkan pengampunan Tuhan. Air hujan yang turun bak air mata penyesalan manusia akan dosa-dosa mereka. Satu per satu umat datang, membawa beban dosa dan penyesalan, lalu menyerahkannya kepada Tuhan melalui perantara Imam.

Sebanyak 157 umat hadir dengan penuh kesungguhan hati berharap dosanya diampuni. Ketiga Romo Paroki Maria Marganingsih Kalasan, yakni Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., Rm. Yohanes Ngatmo, Pr., dan Rm. Murdi, dengan penuh kesabaran mendengarkan pengakuan umat, memberikan nasihat rohani, dan menyalurkan absolusi. Beban dosa yang terasa berat dan menyesakkan, perlahan sirna dan berubah menjadi kedamaian penuh syukur.

Sakramen Tobat yang diterimakan kepada umat Katolik, bukan sekadar kewajiban yang hanya semata-mata dijalankan sebagai rutinitas tradisi, melainkan ruang bagi umat dan Tuhan untuk kembali dekat. Pengakuan dosa yang dilakukan merupakan kesempatan emas bagi manusia untuk memperbaiki relasi dengan Tuhan, memperbarui diri, dan merasakan damai sejati. Dengan hati yang telah dilegakan, umat kembali ke rumah dengan membawa damai sukacita baru dan siap menyongsong masa Paskah dengan iman yang teguh.

Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Stefanus

Tema: Melampaui Materi, Menghidupkan Kepedulian

Pertemuan ketiga dalam rangkaian Aksi Puasa Pembangunan (APP) kali ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai sikap tidak peduli. Seringkali, kita terjebak dalam pola pikir bahwa menjadi “baik” atau “berkat bagi sesama” hanya diukur dari seberapa banyak materi yang kita bagikan. Padahal, tanggung jawab sosial jauh lebih luas dari sekadar dompet.


1. Belajar dari Kisah Si Kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31)

Dosa utama si kaya dalam perumpamaan ini bukanlah karena ia memiliki harta, melainkan karena ia memiliki gerbang. Gerbang itu secara simbolis memisahkan dirinya dengan realitas di sekitarnya—yakni Lazarus yang menderita di depan pintunya.

  • Ketidakpedulian sebagai Dinding: Si kaya tidak berbuat jahat secara aktif (ia tidak mengusir Lazarus), tetapi ia memilih untuk tidak melihat. Ketidakpedulian adalah “dosa kelalaian” yang sering kita lakukan saat kita membiarkan kesulitan orang lain berlalu begitu saja karena merasa itu bukan tanggung jawab kita.
  • Berkat itu Bukan Hanya Harta: Kita sering salah kaprah menganggap berkat hanya berupa uang atau barang. Padahal, berkat yang paling mendasar adalah waktu, perhatian, dan kesediaan kita untuk hadir bagi orang lain.

2. Memperluas Makna “Membantu”

Membantu tidak melulu soal materi. Jika kita merasa tidak memiliki kelebihan harta, bukan berarti kita tidak bisa menjadi berkat. Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan melalui:

  • Kehadiran (Presence): Menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang kesepian atau sedang berbeban berat. Terkadang, didengarkan adalah bentuk bantuan terbesar.
  • Advokasi: Berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, meskipun itu tidak menimpa kita secara langsung.
  • Edukasi & Pendampingan: Membagikan ilmu atau keterampilan yang kita miliki untuk membantu orang lain menjadi lebih mandiri.
  • Empati yang Aktif: Mengakui keberadaan sesama. Mengingat nama mereka, menanyakan kabar, dan memperlakukan setiap orang dengan martabat yang sama—inilah cara merobohkan “gerbang” yang memisahkan kita dari Lazarus-Lazarus di zaman sekarang.

3. Mengubah Sikap: Dari “Melihat” menjadi “Bertindak”

Sikap tidak peduli biasanya berakar dari rasa aman yang semu. Namun, tanggung jawab sosial menuntut kita untuk berani merasa “tidak nyaman” demi orang lain. Di minggu ke-3 ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • Mulai melihat orang-orang yang selama ini kita abaikan dalam keseharian kita.
  • Memberikan apresiasi dan perhatian yang tulus kepada orang-orang di sekitar kita.
  • Menyadari bahwa setiap talenta atau kebaikan kecil yang kita bagikan adalah bagian dari berkat yang harus diteruskan, bukan ditimbun untuk diri sendiri.

Sebuah Renungan : Menjadi Saluran Berkat dalam Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Oleh: Jatuh Padmi

Bayangkan taman yang besar di mana hanya satu sudut kecil yang diberi air cukup sampai tergenang. Sementara itu, area lain tampak kering sehingga tanaman di tempat itu menjadi layu dan mati. Kecantikan taman ini akan lenyap akibat ketidakseimbangan tersebut. Citra ini menyerupai kehidupan sosial kita. Gereja tidak dapat berkembang menjadi taman yang indah jika hanya merawat dirinya sendiri di dalam dinding sakristi. Di luar sana, komunitas sedang berjuang melawan kemiskinan dan putus asa. Tema APP 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera,” menjadi panggilan untuk menjadi “tukang kebun” Allah yang berani menyalurkan air kehidupan ke lahan yang kering.

Perjuangan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bukanlah hanya soal program sosial sementara. Ini adalah bukti nyata iman kita. Bagi orang Kristiani, kebahagiaan sejati terjadi saat setiap orang dihargai dan hak-haknya terpenuhi. Gereja harus hadir bukan sebagai tempat yang jauh dari kenyataan, tapi sebagai teman perjalanan bagi mereka yang terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial. Kita diajak untuk peduli bahwa kesejahteraan sesama juga merupakan tanggung jawab iman kita. Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini ditandai dengan tercukupinya kebutuhan mereka yang paling membutuhkan.

Masa Prapaskah tahun ini adalah kesempatan untuk memeriksa gaya hidup kita. Apakah cara kita hidup selama ini justru merugikan orang lain? Atau apakah kesederhanaan kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?

Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk lebih peduli pada ketimpangan di sekitar kita. Uang yang kita kumpulkan bukan hanya uang receh, tapi simbol pengorbanan dan komitmen kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan bermartabat. Secara teologis, kesejahteraan yang kita perjuangkan adalah kesejahteraan yang utuh, yang menyentuh aspek jasmani sekaligus rohani. Ketika Gereja terlibat aktif dalam memberdayakan ekonomi umat, menjaga kelestarian lingkungan, dan menyuarakan kejujuran di ruang publik, saat itulah Gereja sedang menghadirkan wajah Allah yang memelihara. Kebahagiaan masyarakat akan terwujud apabila ada rasa aman, rasa cukup, dan rasa dihargai sebagai sesama citra Allah. Oleh karena itu, perjuangan ini menuntut ketekunan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa aksi puasa adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita melangkah keluar dengan keberanian untuk menjadi agen kesejahteraan, mengubah keluhan menjadi harapan, dan mengubah kemiskinan menjadi kecukupan. Hari ini, biarlah dunia melihat bahwa Gereja tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh berjuang hingga kebahagiaan itu menjadi milik semua orang.

Nb : Foto ini diambil pada Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth, tgl 12 Februari 2026, di Ruman Bpk. Hary Mulyono, dengan petugas Ibu Jatuh Padmi. Sembahyangan ini dihadiri 28 orang.

Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur: Berjalan Bersama Mewujudkan Gereja yang Membahagiakan


Pada hari Minggu, 8 Maret 2026, dilaksanakan Pertemuan TPKP Rayon Sleman Timur Kevikepan Yogyakarta Timur yang bertempat di Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi para pelayan pastoral untuk memperdalam pemahaman serta menyelaraskan langkah dalam mewujudkan arah pastoral Gereja.

Pertemuan tersebut mengangkat fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2026, yaitu “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Tema ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan bersama dalam melaksanakan Arah Dasar (ARDAS) KAS IX tahun 2026–2030.

Dalam kesempatan ini, Stasi Maria Bunda Allah turut berpartisipasi dengan mengutus perwakilan dari Tim Pelayanan Pastoral Keluarga, yaitu Bapak Albertus Bagio Murdiato bersama istri. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen stasi untuk terus terlibat aktif dalam pengembangan pelayanan keluarga di tingkat rayon dan kevikepan.


Gereja yang Berjalan Bersama

Dalam ARDAS KAS IX ditegaskan bahwa umat Allah dipanggil menjadi persekutuan murid-murid Kristus yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus. Perjalanan bersama ini diwujudkan melalui perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah serta memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi semua orang.

Semangat ini juga sejalan dengan upaya bangsa Indonesia dalam membangun kehidupan bersama yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, seperti kesejahteraan yang berkeadilan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kehidupan demokrasi yang partisipatif, kehidupan beragama yang inklusif, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


Program Sekolah Keluarga

Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan rencana program Sekolah Keluarga yang akan diselenggarakan oleh TPKP Rayon Sleman Timur. Program ini ditujukan bagi pasangan suami-istri dengan usia perkawinan 0–25 tahun.

Setiap paroki akan mendapatkan kuota tiga pasangan untuk mengikuti program ini. Peserta yang mengikuti kegiatan akan dikenakan kontribusi sebesar Rp25.000 per orang sebagai bentuk partisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan.

Untuk pelaksanaan pertama, Gereja Babadan direncanakan menjadi tuan rumah kegiatan ini. Beberapa materi yang akan dibahas pada pertemuan awal antara lain:

  • Keluarga sebagai rencana Allah
  • Komunikasi dalam keluarga

Melalui program ini diharapkan pasangan-pasangan muda semakin diperkaya dalam kehidupan berkeluarga, sehingga mampu membangun keluarga yang harmonis, tangguh dalam iman, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.


Inspirasi dari Stasi Maguwo: Penyegaran Janji Perkawinan

Salah satu hal yang cukup menarik perhatian dalam pertemuan ini adalah pengalaman dari Stasi Maguwo, khususnya terkait program penyegaran janji perkawinan. Program ini dinilai cukup berhasil karena mampu menghadirkan sekitar 30 hingga 40 pasangan suami-istri dalam setiap kegiatan.

Tidak semua paroki atau gereja memiliki program seperti ini. Beberapa paroki sebenarnya sudah memiliki program serupa, namun jumlah pesertanya masih relatif sedikit. Oleh karena itu, dalam pertemuan tersebut muncul pertanyaan mengenai kiat atau strategi yang dilakukan oleh Stasi Maguwo sehingga program ini dapat diikuti oleh banyak pasangan.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  1. Berkoordinasi dengan tim Litbang untuk memperoleh data pasangan yang merayakan hari ulang tahun pernikahan dalam rentang waktu tiga bulan.
  2. Menghubungi ketua lingkungan (kaling) untuk memastikan apakah pasangan tersebut masih berdomisili di lingkungan yang bersangkutan.
  3. Membuat undangan fisik khusus, yang dirancang menyerupai undangan pernikahan, sehingga terasa lebih personal dan berkesan bagi pasangan yang diundang.

Pendekatan sederhana namun penuh perhatian ini ternyata mampu meningkatkan partisipasi umat secara signifikan. Bahkan dalam diskusi pertemuan tersebut, beberapa paroki menyampaikan ketertarikannya untuk mengadopsi model pelayanan yang dilakukan oleh Paroki Maguwo.


Harapan ke Depan

Melalui berbagai program pastoral keluarga yang dirancang, Gereja berharap semakin banyak keluarga Katolik yang mampu membangun kehidupan rumah tangga yang sehat, harmonis, dan penuh iman. Keluarga diharapkan menjadi tempat pertama pendidikan iman bagi anak-anak, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Allah, umat diajak untuk terus berjalan bersama mewujudkan Gereja yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Dengar Kata Umat: 1 Kata tentang Prapaskah

Dalam rangka menyambut masa Prapaskah, lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan “Dengar Kata Umat”, yaitu sebuah momen sederhana namun bermakna di mana setiap umat diminta menyampaikan satu kata yang menggambarkan makna Prapaskah bagi dirinya. Kegiatan ini menjadi sarana refleksi bersama untuk semakin menghayati masa tobat dan pertobatan.