Latihan Liturgi Bersama: Belajar, Berbagi, dan Bertumbuh dalam Semangat Pelayanan


Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hangat pada Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk yang menyelimuti kawasan gereja, satu per satu para pelayan liturgi dari berbagai lingkungan datang dengan wajah penuh semangat. Hari itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk berlatih tata perayaan, tetapi juga untuk belajar dan memperdalam pemahaman tentang makna liturgi, dalam kegiatan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Liturgi dan Peribadatan Stasi Maguwo, dan diikuti oleh tim liturgi lingkungan serta para prodiakon yang setiap minggunya dengan setia melayani umat dalam berbagai perayaan ekaristi maupun ibadat sabda di wilayah masing-masing.

Pembuka yang Hangat dan Menggugah

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ibu Elisabeth Purna, mengundang seluruh peserta untuk menenangkan diri dan menyerahkan hati dalam suasana doa.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Stasi, yang diwakili oleh Sekretaris Stasi ibu Elisabet Amy Andriani menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pembelajaran liturgi ini. Beliau menekankan bahwa pelayanan liturgi adalah salah satu bentuk kesetiaan umat dalam mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

“Menjadi pelayan liturgi bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam setiap perayaan Ekaristi,” ungkap beliau dalam sambutan yang disambut dengan tepuk tangan hangat para peserta.

Pengantar yang Menyadarkan Arti Persiapan Liturgi

Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Y. Saptanto Sarwo Basuki yang memberikan pengantar dengan sangat sistematis dan aplikatif. Beliau mengajak peserta untuk memahami proses menyiapkan perayaan misa secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi dengan pastor, hingga pelaksanaan di lapangan.

Beliau juga menekankan pentingnya prosedur perizinan misa, koordinasi dengan pihak paroki atau pastor, serta penyiapan buku-buku liturgi yang tepat, mulai dari Misale, Tata Perayaan Ekaristi, Madah Bakti, hingga Puji Syukur. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab tim liturgi untuk memastikan bahwa perayaan iman berlangsung dengan penuh hormat dan teratur.

Pendalaman Liturgi Bersama Romo Yohanes Ngatmo, Pr

Setelah pengantar yang membuka wawasan, sesi dilanjutkan dengan materi utama yang dibawakan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh humor, Romo Ngatmo mengajak seluruh peserta untuk menyelami liturgi bukan hanya sebagai aturan atau urutan perayaan, tetapi sebagai pengalaman iman yang hidup.

“Liturgi bukan sekadar hafal kapan berdiri, duduk, atau menjawab. Liturgi adalah doa bersama Gereja yang mempersatukan kita dengan Kristus. Maka, setiap gerak dan kata dalam liturgi mengandung makna yang mendalam,” ujar Romo Ngatmo yang berhasil membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.

Romo juga menegaskan bahwa pelayan liturgi harus memahami makna dari setiap bagian misa — mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga liturgi ekaristi — agar dapat membantu umat berpartisipasi secara sadar dan penuh iman.

Diskusi, Game, dan Pembelajaran Interaktif

Selepas sesi materi, suasana menjadi lebih santai dan interaktif. Ibu Y.V. Retno Wulandari memandu sesi permainan dan diskusi kelompok per wilayah: Loyola, Sang Timur, De Britto, dan Don Bosco.

Di dalam game ini masing-masing kelompok diberikan soal yang berbeda. Soal tersebut didiskusikan bersama dalam kelompok untuk kemudian di presentasikan dan saling memberikan feedback. Soal-soal tersebut berisi hidden subject dimana masing-masing kelompok harus memahami jenis misa khusus yang sering dihadapi oleh tim liturgi di lingkungan, seperti:

  1. Misa Memule dengan lebih dari satu ujud (intensi misa), yang perlu disiapkan dengan tertib agar setiap niat umat tersampaikan dengan benar.
  2. Misa pemberkatan jenazah, di mana kepekaan pastoral dan ketepatan liturgi sangat dibutuhkan agar keluarga yang berduka mendapatkan penghiburan sejati.
  3. Misa tirakatan jenazah, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bagi jiwa yang dipanggil Tuhan, sembari meneguhkan iman akan kebangkitan.
  4. Pemberkatan perkawinan beda agama, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai prosedur izin misa dan tata cara yang sesuai dengan ketentuan Gereja.

Tiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana cara menyiapkan : mulai dari prosedur, tata cara misa / panduan doa dan peralatan liturgi yang digunakan.

Dalam suasana akrab dan penuh tawa, para peserta berdiskusi mengenai berbagai situasi liturgi yang sering terjadi di lapangan — seperti bagaimana menghadapi perubahan mendadak dalam misa, atau bagaimana berkoordinasi jika imam datang terlambat. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui feedback yang diberikan, peserta dapat saling belajar dari pengalaman nyata di lapangan.

Kegiatan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar pelayan liturgi lintas lingkungan. “Rasanya seperti retret mini,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum. “Kita jadi saling mengenal, saling belajar, dan yang paling penting, semakin cinta pada pelayanan ini.”

Pengenalan Alat-Alat Liturgi oleh Misdinar

Menjelang akhir acara, suasana kembali semarak ketika tiga misdinar muda — Valent, Marlin, dan Ratna — tampil memperkenalkan berbagai alat liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan percaya diri dan gaya yang ringan, mereka menjelaskan fungsi dari setiap alat, mulai dari piala, sibori, patena, ampul, hingga wirug dan navikula.

Sesi ini bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati, karena memperlihatkan bagaimana generasi muda turut mengambil bagian dalam kehidupan liturgi Gereja. Melihat semangat para misdinar ini, banyak peserta tersenyum bangga, menyadari bahwa pelayanan Gereja terus tumbuh di tangan yang muda dan penuh semangat.

Peneguhan: Menjadi Pelayan yang Setia dan Rendah Hati

Sebagai penutup, Ibu J.F. Ita Rinawati, selaku Ketua Bidang Liturgi & Peribadatan, memberikan peneguhan rohani yang kuat dan menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa pelayanan liturgi tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal kerendahan hati dan kesetiaan dalam panggilan. Pelayanan liturgi membutuhkan pemahaman untuk masing-masing misa khusus yang berbeda.

“Setiap kali kita membantu di altar, kita sedang melayani Kristus sendiri. Maka lakukan dengan hati yang bersih, dengan doa, dan dengan cinta. Dari situlah keindahan liturgi terpancar,” ucapnya dengan lembut, menutup kegiatan dengan suasana hening dan penuh refleksi.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak Justinus Catur Budi Hantoro dan sapaan akrab antar peserta. Wajah-wajah lelah kini berganti dengan senyum puas — senyum dari mereka yang telah belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.

Kegiatan “Belajar Liturgi Bersama” ini menjadi ruang perjumpaan yang indah, di mana setiap pelayan liturgi disegarkan kembali dalam semangatnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Semoga semangat kebersamaan dan pembelajaran ini terus berlanjut, menjadikan tim liturgi Stasi Maguwo semakin siap, terampil, dan setia menghadirkan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan iman.

Ibadat Doa Memule 100 Hari Bapak Yulius Imam Budaya – Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Rabu, 8 Oktober 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul di rumah Ibu Dewi untuk melaksanakan ibadat doa memule 100 hari berpulangnya Bapak Yulius Imam Budaya. Ibadat yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh Romo Sarce dan dihadiri oleh 19 orang umat.

Suasana doa berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Melalui ibadat ini, umat bersama keluarga almarhum menghaturkan syukur atas hidup dan karya Bapak Yulius semasa di dunia, sekaligus mendoakan agar beliau beristirahat dalam damai abadi di rumah Bapa.

Setelah rangkaian doa memule, acara dilanjutkan dengan pemberkatan Goa Maria yang berada di rumah Ibu Dewi. Goa Maria yang baru diberkati ini diharapkan dapat menjadi tempat doa dan devosi bagi keluarga maupun umat lingkungan yang hadir.

Sebagai penutup, umat bersama-sama melantunkan doa Rosario dengan penuh iman dan devosi, memohon perantaraan Bunda Maria agar senantiasa mendampingi keluarga yang ditinggalkan serta menguatkan seluruh umat dalam perjalanan hidup beriman.

Melalui rangkaian doa ini, umat Lingkungan Santo Petrus tidak hanya mengenang almarhum Bapak Yulius Imam Budaya, tetapi juga semakin dipersatukan dalam kasih Kristus dan kebersamaan sebagai satu keluarga Allah.

Pembukaan Bulan Rosario Lingkungan Antonius



Ibadat dan pembukaan bulan Rosario lingkungan Antonius di Taman Doa Maria Dhamparing Kawicaksanan, Turi. Dilaksanakan Minggu, 5 Oktober 2025 dan dihadiri kurang lebih 30 org. Selain ibadat dan doa rosario, pertemuan diisi dg pengambilan video gerak dan lagu.


Ibadat Syukur Kehamilan 7 Bulan (Mitoni) Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Minggu, 5 Oktober 2025, umat Lingkungan Santo Petrus berkumpul dalam suasana penuh syukur untuk merayakan ibadat syukur kehamilan tujuh bulan (mitoni) dari pasangan Mas Robertus Anggreawan Nindya Kusuma dan Mba Maria Yasinta Chrisna Novrisa. Ibadat ini dilaksanakan di rumah Mas Anggre pada pukul 19.00 WIB, dan dihadiri oleh kurang lebih 25 orang umat.

Ibadat dipimpin dengan khidmat oleh Ibu Prodiakon, Ibu Tiwi, yang mengajak umat untuk bersyukur atas anugerah kehidupan baru yang sedang bertumbuh. Dalam doa-doa yang dinaikkan, umat memohon berkat Tuhan agar sang ibu diberi kesehatan, kekuatan, dan ketenangan menjelang persalinan. Tak lupa, doa juga dipanjatkan untuk keselamatan bayi agar dapat lahir dengan sehat dan membawa sukacita bagi keluarga serta lingkungan.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Umat yang hadir turut merasakan sukacita keluarga besar Mas Anggre dan Mba Chrisna, yang dengan rendah hati membuka pintu rumahnya untuk bersama-sama memanjatkan doa syukur.

Melalui ibadat syukur ini, umat diajak untuk semakin menyadari kasih dan penyertaan Allah dalam perjalanan hidup, khususnya dalam anugerah kehamilan. Doa dan dukungan dari umat menjadi penguat bagi keluarga yang sedang menantikan kelahiran buah hati, sekaligus mempererat tali persaudaraan dalam iman.

“Hidup yang Menjadi Doa: Kesaksian Iman Mas Yuda”


Tulisan kesaksian iman ini ditulis oleh Maria Verawati Alvares sebagai ungkapan syukur atas karya Tuhan yang nyata dalam diri almarhum Mas Yuda. Dalam doa dan perjumpaan sederhana di kamarnya, tampak betapa indahnya hidup yang dipersembahkan kepada Allah melalui altar kecil, kidung pujian, dan kesetiaan dalam doa. Semoga melalui kesaksian ini, kita semua diajak untuk semakin menyadari bahwa kasih Tuhan bekerja dengan cara yang lembut namun mendalam, bahkan dalam ruang-ruang sederhana kehidupan sehari-hari.


Bapak, Ibu, dan rekan muda saat ini Saya bersama dengan Suster Yohanina,OP dan Bapak Ibu Gusadi (orang tua mas Yuda) berada di dalam kamar mas Yuda untuk berdoa bersama.

Luar biasa keren dan hebat mas Yuda.

Berikut adalah foto Altar Mini tempat biasa mas Yuda selalu berdoa di dalam kamarnya. Sungguh tertata rapi, lengkap dengan lilin, salib, patung Yesus dan keluarga Kudus serta buku2 doa.

Dan luar biasa menginspirasi kita semua. Ternyata mas Yuda juga punya bakat dan kebiasaan atau bisa bermain keyboard. Dia adalah pribadi muda yang rendah hati dan penuh spiritual.

Di dalam kamarnya ada keyboard dimana sudah menjadi kebiasaannya setelah berdoa di depan Altar Mini tersebut dia bersenandung menyanyikan kidung pujian terutama saat dia ingin berangkat ke Gereja.

Yuda, kamu keren banget.. Terimakasih sudah menjadi inspirator dan guru kami


(Saya sudah mendapatkan ijin dari keluarga untuk membagikan warta baik ini kepada Bapak, Ibu, dan rekan muda)

Bersyukur dalam Gerak, Bersatu dalam Sukacita: Senam Lansia Perdana Stasi Maguwo


Sabtu 4 oktober 2025, pagi hari yang penuh berkat, Stasi Maguwo memulai sebuah langkah baru dalam pelayanan pastoral umat lanjut usia. Melalui prakarsa TIM PIUL Stasi Maguwo, diadakanlah kegiatan senam lansia perdana yang berlangsung dengan penuh semangat dan sukacita.

Sejak pagi, sekitar 40 orang lansia sudah hadir dengan wajah penuh kegembiraan. Meski usia mereka tidak lagi muda, semangat yang terpancar begitu luar biasa. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus, yang patut dirawat dengan sukacita dan syukur.

Dipandu oleh Bapak Kusno, acara senam dimulai dengan gerakan pemanasan sederhana. Lalu, dilanjutkan dengan senam Ling Tien Kung, sebuah rangkaian gerakan lembut yang berasal dari negeri Tiongkok dan sangat cocok bagi lansia. Gerakan demi gerakan dijalani dengan penuh kesungguhan. Bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga melatih ketenangan batin, kelenturan jiwa, dan kesadaran akan anugerah kesehatan yang masih diberikan Tuhan.

Keceriaan begitu terasa. Sesekali tawa kecil terdengar ketika ada peserta yang salah gerakan atau agak terlambat mengikuti. Namun, justru di situlah keindahannya: dalam kebersamaan, semua perbedaan dirangkul dengan sukacita. Senam ini bukan hanya untuk menguatkan jasmani, tetapi juga untuk mempererat tali persaudaraan umat beriman di Stasi Maguwo.

Setelah sesi senam, para peserta diajak beristirahat sejenak. Suasana menjadi semakin hangat ketika alunan lagu “Jogja Istimewa” mengiringi kebersamaan. Lagu itu seakan menjadi simbol bahwa kebersamaan umat, khususnya para lansia, adalah sesuatu yang istimewa dan patut dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Kegiatan ini menjadi tanda nyata bahwa Gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga ruang hidup bersama yang menghadirkan sukacita, kesehatan, dan persaudaraan. Senam lansia perdana ini menjadi awal yang penuh harapan. Semoga dapat dilaksanakan secara rutin, sehingga para lansia senantiasa diberi semangat untuk menjaga kesehatan, merawat tubuh sebagai anugerah Allah, serta memperdalam persaudaraan dalam iman.

Akhirnya, kegiatan sederhana ini menjadi sebuah ungkapan syukur: bahwa di usia senja sekalipun, umat tetap dapat menghadirkan semangat hidup, kebahagiaan, dan doa dalam setiap gerakan tubuh. Dengan tubuh yang sehat dan hati yang gembira, para lansia Stasi Maguwo pun diajak untuk terus memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenang Pelayan Muda GMBA: Jejak Iman dan Kasih Imanuel Anggara Wirayuda

Rabu, 1 Oktober 2025 merupakan rabu kelabu bagi segenap umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), kami kehilangan sosok muda inspiratif dan penuh kasih: Imanuel Anggara Wirayuda. Sosok yang akrab disapa ‘Mas Yuda’, berpulang setelah berjuang melawan rasa sakit.

Kepergiannya kepada Bapa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan segenap umat GMBA. Ia yang lahir pada 25 Desember 2001, seolah membawa makna mendalam sesuai namanya, “Imanuel” yang berarti Allah beserta kita.

Sosoknya yang tinggi, kurus, dengan rambut gondrong, mengingatkan banyak orang akan kehadiran Yesus. Bukan hanya penampilannya yang menjadikannya istimewa, melainkan api pelayanan tulus darinya yang tiada pernah padam.

Pelayan yang Selalu Ada

“Ada Mas Yuda”, sering terdengar khususnya di ruang lingkup pelayan liturgi. Celetukan tersebut seolah menghadirkan rasa tenang bagi seluruh pelayan liturgi, seolah tahu bahwa kehadirannya memberikan jaminan bahwa semua akan berjalan lancar.

Sebagai prodiakon muda, Mas Yuda adalah sosok yang energik, cekatan, dan ringan tangan. Ia tak hanya aktif dalam tim prodiakon, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan liturgi GMBA di bawah komando Ibu Ita Rinawati.

Hampir setiap minggu, Mas Yuda setia bersiap membantu siapa pun yang membutuhkan. Sebagai bagian dari tim ‘wira-wiri’, bersama dengan tim pelayanan peribadatan lainnya, seperti Ibu Purna, Bapak Saptanto, dan Ibu Retno, senantiasa hadir bukan karena kewajiban tapi karena panggilan hati.

Sikapnya yang bisa melakukan apa saja selagi mampu, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan bagi banyak orang di GMBA. Candaan khasnya yang sedikit sarkas tapi jujur, membuat suasana pelayanan menjadi lebih berwarna. Ia melayani dengan caranya sendiri, otentik dan tanpa kepalsuan.

Mas Yuda merupakan sosok pemuda Katolik yang memberikan inspirasi bahwa menjadi pelayan, khususnya pelayan liturgi, bukan hanya urusan “orang tua”. Melalui Mas Yuda, kita tahu bahwa pelayanan dapat tumbuh dan dijalani dengan semangat kaum muda masa kini.

Sejarawan Muda yang Menghidupkan Iman

Mas Yuda belum lama ini menyelesaikan studi di Program Studi Sejarah, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan diwisuda pada bulan Agustus yang lalu. Kecintaannya pada sejarah dan iman Katolik, Ia tuangkan dalam berbagai bentuk edukasi kreatif. Mas Yuda kerap membagikan tulisan-tulisan reflektif di media sosial, mengangkat kisah gereja bersejarah dan peristiwa penting dalam iman Katolik.

Tak hanya itu, ia juga menyalurkan passion-nya melalui gim Minecraft. Ia menciptakan map bangunan gereja seperti Katedral St. Petrus dan Paulus, terinspirasi dari Basilika St. Petrus lama. Bagi Mas Yuda, sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi jendela untuk memahami iman dan memperkuat komunitas Gereja.

Warisan Kebaikan yang Abadi

Putra dari Bapak Agustinus Gus Adi/KMT. Prajanalausada dan Ibu Yuliana Subaryati ini telah dimakamkan hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, di TPU Modinan, Sambilegi.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka: Gg. Udang, Jl. Anggrek, Sambilegi Lor, Depok, Sleman. Misa requiem dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dalam suasana penuh syukur dan haru. Doa-doa dipanjatkan, pujian dilantunkan, dan kenangan akan Mas Yuda mengalir dalam benak pelayat yang hadir.

Suasana rumah duka dipenuhi oleh pelayat dari berbagai kalangan, termasuk rekan-rekan alumni SMA Kolese De Britto. Dalam momen penuh haru, mereka memberikan penghormatan terakhir dengan menyanyikan Mars De Britto di depan peti jenazah Mas Yuda, sebuah tradisi khas yang menggambarkan persaudaraan, semangat, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Nyanyian itu menjadi simbol bahwa Mas Yuda telah menjalani hidupnya dengan nilai-nilai yang ia pelajari dan hayati: menjadi manusia yang utuh, peduli, dan berani.

Meski raganya telah tiada, kebaikannya tetap hidup dalam kenangan banyak orang. Ia adalah pelayan muda yang menjadi terang, penyelamat kecil bagi gereja masa kini. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak hati terhenyak. Namun kita percaya, Tuhan memanggilnya karena Ia melihat betapa besar kasih dan kerja keras yang telah Mas Yuda berikan. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan kini tibalah saat baginya untuk beristirahat dalam damai. Mari kita lanjutkan estafet pelayanan yang telah Ia jalankan.

Selamat jalan, Mas Yuda. Terima kasih telah menjadi teladan pelayanan, cinta, dan iman. Doa kami menyertaimu, dan kisahmu akan terus hidup dalam setiap sudut gereja yang pernah kau bantu, setiap liturgi yang kau layani, dan setiap hati yang pernah kau sentuh.

never imagined goodbye would be come this fast, rest easy Mas Yuda.

Bulan Rosario Umat Katolik: Paus Leo XIV Serukan Doa untuk Perdamaian


Sebentar lagi bulan Oktober sebagai bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia diajak untuk mendoakan butir-butir Rosario secara lebih intens. Doa sederhana yang lahir dari tradisi panjang Gereja ini mengajak umat merenungkan misteri hidup Kristus melalui bimbingan Maria. Paus Leo XIII (1878-1903) di abad ke-19 bahkan menyebut Rosario sebagai “doa yang paling istimewa” dan menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario.

Tahun ini, Bulan Rosario memperoleh makna khusus. Dalam Audiensi Umum pada 24 September 2025, Paus Leo XIV menyerukan agar umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari sepanjang Oktober, dengan intensi khusus memohon perdamaian dunia.

Paus menekankan agar doa ini dilakukan “secara pribadi, dalam keluarga, dan dalam komunitas,” serta mengundang umat di Roma untuk mendoakan Rosario bersama pada 11 Oktober dalam rangka Yubileum Spiritualitas Marian.

Seruan Bapa Suci hadir di tengah dunia yang penuh luka dan ketidakpastian. Kita melihat perang berkepanjangan di beberapa kawasan, konflik identitas, serta meningkatnya ketegangan sosial dan politik. Paus mengingatkan bahwa dunia sedang ditandai “reruntuhan yang diciptakan oleh kebencian pembunuh.”

Dalam situasi ini, Rosario menjadi lebih dari sekadar doa repetitif: ia adalah tindakan iman, perlawanan rohani terhadap logika kebencian, sekaligus kesaksian bahwa kasih Kristus masih menjadi harapan umat manusia.

RosarioDoa Perdamaian

Rosario adalah doa Kristologis yang berakar pada Kitab Suci (Luk 1:28; Luk 1:42). Salam Maria berasal dari Injil Lukas, dan setiap peristiwa yang direnungkan membawa umat masuk ke dalam misteri Kristus—dari kelahiran, karya, wafat hingga kebangkitan-Nya. Ketika doa ini dipanjatkan untuk perdamaian, umat Katolik sesungguhnya sedang menghubungkan penderitaan dunia dengan jalan salib Yesus, sekaligus berharap pada kebangkitan-Nya yang memberi kehidupan baru.

Selain itu, Rosario juga melatih batin: irama doa yang berulang mengundang ketenangan, membentuk kesabaran, dan membuka hati untuk mengampuni. Karena itu, doa Rosario dapat melahirkan spiritualitas perdamaian—sikap hati yang sabar, rendah hati, dan berani menolak kebencian.

Relevansi bagi Indonesia​​​​​​​

Bagi umat Katolik Indonesia, seruan Paus Leo XIV menemukan konteks yang amat nyata. Kita hidup di negeri yang kaya akan keragaman agama, budaya, dan etnis. Keragaman ini adalah berkat, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber konflik bila tidak dihayati dengan benar. DI beberapa lokasi, kita masih menyaksikan gesekan sosial, ujaran kebencian di media sosial, hingga tindak intoleransi yang melukai persaudaraan.

Dalam situasi ini, doa Rosario dapat menjadi sarana rohani untuk memperkuat komitmen pada kerukunan. Rosario yang didaraskan di rumah-rumah keluarga Katolik sesungguhnya adalah benih damai yang bisa memancar keluar. Umat yang tekun berdoa Rosario dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pribadi yang menyejukkan, sabar dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, serta aktif membangun dialog dan solidaritas lintas iman.

Rosario, dengan demikian, tidak berhenti di dalam tembok gereja atau dalam rumah, melainkan menemukan buahnya dalam kehidupan bersama. Setiap doa “Salam Maria” yang diucapkan seharusnya menumbuhkan kerinduan untuk menyapa sesama dengan hormat. Setiap misteri yang direnungkan seharusnya mendorong umat untuk ikut merawat kehidupan bersama di tanah air. Inilah bentuk nyata spiritualitas perdamaian: doa yang diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Spiritualitas Kerukunan​​​​​​​

Kerukunan bangsa tidak hanya ditopang oleh kebijakan negara atau peraturan hukum, tetapi juga oleh spiritualitas yang dihayati masyarakat. Spiritualitas kerukunan berarti kesediaan untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan ancaman.

Dalam konteks Indonesia, ini berarti keberanian untuk membangun jembatan antaragama, mengedepankan musyawarah daripada konflik, serta memperjuangkan keadilan bagi semua warga tanpa diskriminasi.

Rosario, meskipun khas Katolik, dapat menjadi salah satu jalan untuk membentuk spiritualitas kerukunan ini. Umat yang setia mendoakan Rosario akan belajar meneladani Maria yang rendah hati, penuh kasih, dan terbuka pada kehendak Allah. Sikap ini kemudian diterjemahkan dalam hidup sosial: menghormati keyakinan orang lain, memperkuat solidaritas dengan mereka yang lemah, dan menolak segala bentuk kekerasan.

Seruan Profetis​​​​​​​

Ajakan Paus Leo XIV agar umat mendoakan Rosario untuk perdamaian dunia adalah seruan profetis yang melampaui sekat gereja. Dunia haus akan damai, dan Indonesia pun menghadapi tantangan kerukunan yang nyata.

Dengan doa Rosario, umat Katolik tidak hanya memperdalam imannya, tetapi juga mengambil bagian dalam misi besar: menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat majemuk.

Bulan Rosario tahun ini menjadi momentum berharga. Di ruang-ruang keluarga Katolik, di komunitas basis, di paroki-paroki di seluruh Indonesia, doa Rosario yang dipanjatkan akan bersatu dengan doa Paus dan Gereja universal.

Semoga doa ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh melahirkan hati yang lebih damai, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun kerukunan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan perdamaian bagi bangsa.

Akhirnya, doa Rosario di bulan Oktober ini adalah ajakan untuk menyalakan kembali semangat: bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih berdaya daripada balas dendam, dan kerukunan lebih indah daripada perpecahan.

Inilah warisan rohani yang hendak ditumbuhkan oleh Paus Leo XIV: sebuah spiritualitas perdamaian yang dimulai dari butir-butir doa sederhana, tetapi mampu mengubah wajah dunia.

Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten)

“Bersama Bunda Maria, Kita Satukan Doa Rosario”


Memasuki bulan Oktober, Gereja Kudus senantiasa mengajak seluruh umat beriman untuk menimba kekuatan rohani melalui doa Rosario. Dalam semangat itulah, seluruh lingkungan Stasi Maguwo bersatu hati dan serentak melaksanakan doa Rosario, mempersembahkan doa-doa umat beriman bersama Bunda Maria kepada Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Dalam lantunan doa yang sederhana, tetapi penuh kuasa, umat merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang dari kehidupan Kristus. Melalui Rosario, umat diajak memasuki kedalaman misteri keselamatan, sambil meneladani ketaatan dan kerendahan hati Santa Perawan Maria. Doa Rosario menjadi tali emas yang mengikat hati umat agar semakin kokoh dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan berbuah dalam kasih.

Kebersamaan seluruh lingkungan dalam doa Rosario serentak ini adalah tanda nyata kesatuan Gereja Kristus yang hidup di tengah umat. Setiap butir manik-manik yang didaraskan menjadi persembahan doa syukur, permohonan, serta penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam doa ini, umat memohon berkat bagi keluarga, Gereja, bangsa, serta bagi mereka yang menderita, sakit, dan terlupakan.

Kiranya dengan doa Rosario yang dipanjatkan secara serentak ini, Umat Stasi Maguwo semakin diteguhkan sebagai komunitas yang sehati dan sejiwa dalam menghidupi iman. Semoga, berkat doa bersama Bunda Maria, kita semua dipimpin semakin dekat kepada Kristus, Sang Terang Sejati, yang adalah sumber pengharapan dan damai sejahtera.

Pertemuan I, II, III, IV Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.

Setiap bulan September, Gereja Katolik di seluruh Indonesia merayakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tahun 2025 ini, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama-sama mengadakan empat kali pertemuan dengan tema besar:

“Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”

Melalui pertemuan yang penuh doa, sharing, dan kehangatan, umat diajak untuk memperbarui relasi, mulai dari dengan diri sendiri, sesama, keluarga, hingga dengan Allah. Suasana sederhana di rumah-rumah umat menghadirkan pengalaman iman yang kaya dan berkesan.

Berikut rangkuman suasana penuh sukacita dari pertemuan BKSN I hingga IV.

Pertemuan I – Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri

Kamis, 4 September 2025
Kediaman Ibu Suprapto
Dihadiri 30 umat

Pertemuan pertama dipimpin oleh Mbak Tiya dan Mbak Monica. Suasana hening dan akrab terasa sejak awal, ketika tema “Pembaruan Relasi dengan Diri Sendiri” dibuka.

Lewat Kitab Suci, umat diajak menyadari bahwa menerima diri apa adanya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Menerima diri berarti berani berdamai dengan masa lalu, tidak lagi larut dalam amarah, penyesalan, atau “andai saja” yang kerap membebani hati.

Rangkaian refleksi malam itu membuat umat merenung: kita tak bisa sungguh-sungguh mengasihi orang lain bila belum mengizinkan diri untuk dikasihi terlebih dahulu oleh Allah. Kasih sejati lahir dari hati yang terlebih dahulu dipulihkan.

Dari pendalaman ini, umat menuliskan aksi nyata pribadi, misalnya dengan berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri, serta melakukan langkah pertobatan kecil setiap hari. Pertemuan pertama ini menjadi semacam “pintu masuk” untuk perjalanan iman BKSN selanjutnya, jalan pulang kepada Tuhan yang selalu menanti.

Pertemuan II – Pembaruan Relasi dengan Sesama

Jumat, 12 September 2025
Kediaman Bapak Maryoto
Dihadiri 28 umat

Pertemuan kedua dipandu oleh Bapak Bono dan Bapak Wawan. Tema “Pembaruan Relasi dengan Sesama” mengingatkan umat bahwa ibadah yang sejati kepada Allah selalu berjalan beriringan dengan tindakan kasih kepada sesama.

Setelah pendalaman Kitab Suci, umat dibagi menjadi tiga kelompok: Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan OMK (Orang Muda Katolik). Masing-masing kelompok mendiskusikan aksi nyata yang bisa dilakukan untuk orang sakit, orang miskin, penyandang difabel, atau mereka yang sedang mengalami kemalangan.

Hasil diskusi sungguh menarik. Kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu menghasilkan diskusi klasik nan realistis, seperti membantu dengan dana, mendoakan, atau mengunjungi mereka yang sakit. Namun, kelompok OMK tampil sangat kreatif dengan ide-ide segar, misalnya:

  • Menghubungkan para pengangguran dengan organisasi-organisasi nirlaba untuk memberikan pelatihan keterampilan, agar mereka bisa mandiri atau bahkan membuka usaha sendiri.
  • Mendorong umat yang memiliki usaha untuk membuka peluang kerja bagi penyandang difabel, tanpa membeda-bedakan, sehingga mereka juga bisa berkarya dengan layak.
  • Membuat aksi kecil di media sosial untuk menggalang dukungan atau doa bagi sesama yang membutuhkan.

Ide-ide ini membuat semua umat yang hadir terkesan. OMK menunjukkan bahwa semangat kasih bisa diwujudkan tidak hanya secara tradisional, tetapi juga dengan cara kreatif dan visioner. Perbedaan perspektif antar generasi justru memperkaya hasil pertemuan, membuat malam itu semakin bermakna.

Pertemuan III – Pembaruan Relasi dengan Keluarga

Jumat, 19 September 2025
Kediaman Bapak Terr Pratiknyo
Dihadiri 37 umat

Pertemuan ketiga bertema “Pembaruan Relasi dengan Keluarga.” Dipandu oleh Ibu Retno dan Ibu Aning, suasana malam itu penuh tawa, nostalgia, sekaligus kehangatan keluarga.

Salah satu dinamika kreatif yang dilakukan adalah permainan pasangan. Delapan pasangan suami-istri yang hadir diminta menulis atau menggambar sesuatu yang menurut mereka akan langsung dikenali oleh pasangan masing-masing. Kertas-kertas itu kemudian dicocokkan oleh Bapak-bapak yang mencari kertas pasangannya masing-masing.

Hasilnya, enam pasangan berhasil menebak pasangannya dengan tepat. Namun, dua pasangan justru tertukar, dan uniknya, mereka adalah pasangan senior dengan pernikahan hampir menginjak 50 tahun pernikahan! Suasana pun pecah oleh tawa, namun sekaligus menyentuh hati: pernikahan panjang ternyata tetap penuh dinamika, namun kasih setia membuat mereka selalu bertahan bersama.

BKSN III mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama kita belajar setia, menerima, dan saling menopang.

Pertemuan IV – Pembaruan Relasi dengan Allah

Jumat, 26 September 2025
Kediaman Ibu Agnes Minar Lukito
Dihadiri 22 umat

Pertemuan terakhir dipimpin oleh Bapak Jondit dan Bapak Yulius, dengan tema puncak: “Pembaruan Relasi dengan Allah.”

Lewat dinamika sharing, umat diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam doa. Topik yang diberikan oleh pemandu beragam: tentang doa Rosario, doa Salam Maria, waktu doa terbaik, doa syukur, hingga lagu rohani favorit. Umat dibebaskan untuk memilih topiknya masing-masing untuk kemudian kisahnya dibagikan ke seluruh umat.

Beberapa kisah yang dibagikan begitu menyentuh. Ibu Rus, misalnya, bercerita tentang pengalaman doa tengah malam di bawah langit terbuka, ketika ia sedang bergumul dengan kesedihan. Doa sederhana itu menjadi titik terang bagi masalah yang dihadapinya.

Sementara itu, Ibu Minar mengingatkan pentingnya doa syukur. Menurutnya, sering kali manusia mudah bersyukur saat bahagia, namun lupa bersyukur di tengah kesedihan. Padahal, justru doa syukur memberi energi baru dan membuka hati untuk berkat-berkat selanjutnya.

Sharing malam itu memperdalam kesadaran bahwa relasi dengan Allah bukan hanya soal permohonan, tetapi juga syukur yang tulus. Di sanalah iman kita dikuatkan, hingga kita bisa merasakan keselamatan sejati yang datang dari Allah.

Iman yang Diperbarui

Rangkaian empat pertemuan BKSN 2025 di Lingkungan St. Fransiskus Asisi bukan hanya kegiatan rohani, melainkan perjalanan iman yang hangat dan penuh warna. Dari diri sendiri, sesama, keluarga, hingga Allah, umat diajak untuk memperbarui relasi secara menyeluruh.

Malam-malam sederhana di rumah umat menjadi saksi bagaimana Kitab Suci sungguh hidup dan berbicara, mengikat umat dalam kasih Tuhan. Semoga semangat BKSN ini terus berbuah dalam keseharian, sehingga iman kita semakin kokoh, relasi semakin erat, dan kasih Allah semakin nyata di tengah kehidupan.