Pada hari Sabtu, 21 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan Doa APP I dan II di rumah Bapak Winarso. Meskipun hujan turun sejak sore hari, semangat umat tidak surut. Sebanyak 10 orang umat tetap hadir untuk mengikuti doa bersama dengan penuh sukacita dan kebersamaan.
Pertemuan APP pertama mengangkat tema “Potret Kondisi dan Potensi untuk Mengawal Aksi.” Dalam permenungan ini, umat diajak untuk melihat secara jujur kondisi lingkungan sekitar, baik tantangan maupun peluang yang ada. Umat bersama-sama merefleksikan situasi sosial yang dihadapi serta menggali potensi yang dimiliki, agar dapat diwujudkan dalam aksi nyata selama masa APP.
Selanjutnya, pada APP kedua dibahas tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.” Umat diajak untuk memahami pentingnya dana sosial Gereja sebagai wujud kepedulian dan solidaritas. Dana sosial tidak hanya berfungsi membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi sarana perwujudan kasih dan tanggung jawab bersama sebagai satu tubuh Kristus. Dalam diskusi, ditegaskan bahwa dana sosial Gereja bersifat sukarela, penuh keikhlasan, dan digunakan demi kesejahteraan bersama.
Suasana doa berlangsung dengan khidmat dan penuh keakraban. Hujan yang turun justru semakin menguatkan rasa kebersamaan umat yang tetap setia hadir. Pertemuan ditutup dengan doa penutup dan harapan agar setiap umat mampu menghidupi semangat APP dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga melalui Doa APP ini, Lingkungan Santo Petrus semakin bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Dalam masa Prapaskah, umat Katolik diajak untuk menghayati semangat doa, mati raga, dan aksi sebagai wujud pertobatan dan solidaritas. Pada tahun 2026 ini, Panitia APP Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengangkat tema, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera.” Tema ini mengajak seluruh umat untuk semakin peka terhadap kondisi sekitar serta terlibat aktif dalam membangun kesejahteraan bersama.
Pada Kamis, 19 Februari 2026, umat Lingkungan St. Gabriel melaksanakan Pertemuan APP 1 di rumah keluarga Bapak Suroso. Pertemuan dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Bapak Jiwo, Bapak Arif, serta Bapak Simbolon. Sebanyak 20 umat hadir, terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua, yang mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian dan semangat kebersamaan.
Pertemuan APP 1 mengangkat tema “Potret Kondisi dan Potensi, Dasar untuk Mengawal Aksi.” Melalui tema ini, umat diajak menyadari pentingnya data sebagai dasar dalam merencanakan gerakan yang tepat sasaran. Dalam konteks Gereja KAS, pendataan umat melalui sistem Ecclesia yang terus diperbarui diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi umat beriman. Sistem ini perlu semakin dikenal dan dimanfaatkan, khususnya oleh para pelaku pastoral, agar setiap program dan kegiatan dapat dirancang sesuai kebutuhan riil umat.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan. Melalui sharing dan diskusi bersama, umat saling berbagi pandangan mengenai kondisi lingkungan sekaligus menggali potensi yang dimiliki. Pertemuan ini menjadi langkah awal yang baik untuk semakin menguatkan kebersamaan serta komitmen dalam mewujudkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera, dimulai dari lingkungan sendiri.
Sebagai penutup, umat Lingkungan St. Gabriel berharap agar pertemuan-pertemuan APP selanjutnya semakin mempererat persaudaraan dan menumbuhkan semangat pelayanan. Semoga melalui proses refleksi, pendataan, dan aksi nyata yang dilakukan bersama, umat semakin mampu menghadirkan Gereja yang hidup, peduli, dan membawa sukacita bagi sesama.
Setelah pertemuan APP selesai, kegiatan dilanjutkan dengan latihan koor sebagai persiapan ibadat memule untuk memperingati dua tahun wafatnya Ibu Maria Waginem Budiarjo. Latihan dilakukan dengan penuh kesungguhan sebagai wujud pelayanan dan dukungan kepada keluarga. Ibadat memule tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Minggu, 22 Februari 2026.
Melalui rangkaian kegiatan ini, umat Lingkungan St. Gabriel semakin diteguhkan dalam kebersamaan, baik dalam refleksi iman maupun dalam pelayanan nyata di tengah lingkungan.
Kamis, 19 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang pertama dengan tema “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawali Aksi.” Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bersama akan pentingnya kepedulian sosial, khususnya dalam hal bantuan sosial (bansos).
Sebanyak 30 umat hadir dalam pertemuan tersebut, terdiri dari OMK (Orang Muda Katolik), bapak-ibu, serta para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam membangun lingkungan yang semakin peduli dan solider.
Pertemuan diawali dengan doa pembuka dan pengantar mengenai makna APP sebagai momentum pertobatan yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial. Umat diajak untuk melihat realitas di sekitar: apakah bantuan sosial yang ada selama ini sudah sungguh menyentuh mereka yang paling membutuhkan?
Dalam sesi diskusi, umat diajak merefleksikan beberapa pertanyaan mendalam, antara lain:
Apakah saya atau keluarga saya termasuk penerima bantuan sosial yang sebenarnya tidak tepat sasaran?
Adakah anggota masyarakat di sekitar saya yang justru lebih membutuhkan bantuan tersebut?
Bagaimana peran saya agar bantuan sosial dapat tepat sasaran dan benar-benar membantu yang membutuhkan?
Diskusi berlangsung terbuka dan penuh kejujuran. Beberapa umat menyampaikan keprihatinan atas kondisi di sekitar lingkungan, di mana masih ada warga yang membutuhkan namun belum tersentuh bantuan. Ada pula refleksi pribadi mengenai pentingnya integritas dan kejujuran dalam menerima bantuan.
Melalui pertemuan ini, umat tidak hanya diajak untuk menilai situasi, tetapi juga menggali potensi yang dimiliki lingkungan, seperti semangat gotong royong, komunikasi antarwarga, serta kepedulian yang sudah tumbuh selama ini. Kesadaran bersama ini menjadi dasar untuk merancang aksi nyata selama masa APP, agar bantuan sosial dapat lebih tepat sasaran dan benar-benar menjadi wujud kasih yang konkret.
Pertemuan APP pertama ini menjadi pengingat bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada doa dan puasa, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian bersikap jujur, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Semoga semangat solidaritas yang telah tumbuh dalam pertemuan ini terus berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica mengadakan ibadah mitoni bagi Mbak Veka, putri dari Bapak Luddy dan Ibu Naning, pada Kamis, 12 Februari pukul 19.00 WIB. Ibadah dilaksanakan di Dusun Maguwo dan dihadiri oleh umat lingkungan yang dengan penuh sukacita turut mendoakan keselamatan ibu dan calon buah hati.
Ibadah dipimpin oleh Prodiakon Ibu Tiwi. Dalam permenungannya, beliau mengangkat kisah Injil tentang perjumpaan Maria yang mengunjungi Elisabeth. Keduanya sedang mengandung dan sama-sama merasakan sukacita yang mendalam saat berjumpa. Maria datang membawa kabar keselamatan, dan Elisabeth menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Pertemuan itu menjadi gambaran indah tentang kasih, perhatian, dan persaudaraan yang tulus.
Melalui kisah tersebut, umat diajak untuk merefleksikan makna kunjungan dan perjumpaan dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang mengunjungi maupun yang dikunjungi, keduanya merasakan kebahagiaan karena dapat bertemu dan berbagi kasih dengan sesama. Demikian pula dalam kehidupan menggereja, setiap perjumpaan menjadi sarana menghadirkan sukacita dan penguatan iman.
Ibadah berlangsung dengan khidmat dan penuh pengharapan bagi Mbak Veka dan keluarga. Umat bersama-sama memanjatkan doa agar proses kehamilan hingga persalinan kelak berjalan lancar dan penuh berkat.
Sebagai penutup, tuan rumah menyediakan suguhan sederhana yang semakin mempererat kebersamaan antarumat. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sosialisasi mengenai kotak APP (Aksi Puasa Pembangunan), mengingat minggu depan umat akan memasuki masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu. Umat diajak untuk mulai mempersiapkan hati, membangun semangat tobat, serta berbagi kasih melalui gerakan APP.
Semoga melalui kebersamaan dan doa yang terjalin dalam kegiatan lingkungan ini, iman umat semakin diteguhkan, Tuhan memberkati.
Lingkungan St. Theresia kembali mengadakan kegiatan doa rutin pada Kamis, 12 Februari 2026, yang diikuti oleh umat lingkungan dengan penuh kekhusyukan dan semangat kebersamaan. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan pengharapan umat dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan doa rutin ini dilaksanakan di rumah Keluarga Bapak Gelung Minangkoro, dengan rangkaian acara meliputi doa pembuka, pujian, pembacaan Injil, renungan, doa umat, serta doa penutup. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana hening, khidmat, dan penuh penghayatan.
Renungan pada kesempatan ini diambil dari Injil Markus 7:24–30 dengan tema “Perempuan Siro-Fenesia yang Percaya.” Bacaan Injil ini mengisahkan seorang perempuan non-Yahudi yang dengan penuh kerendahan hati dan ketekunan iman datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan bagi anaknya. Meskipun awalnya mengalami penolakan, ia tidak menyerah, melainkan tetap percaya penuh pada belas kasih dan kemurahan Tuhan. Keteguhan imannya menunjukkan bahwa iman sejati adalah iman yang gigih, teguh, dan tidak mudah menyerah.
Dalam konteks sosial dan religius pada masa itu, keselamatan dipahami hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi. Namun, melalui kisah ini, Yesus menegaskan bahwa keselamatan Allah terbuka bagi semua bangsa, tanpa dibatasi oleh latar belakang, suku, maupun status sosial. Tuhan hadir untuk menyelamatkan semua orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus dan penuh iman.
Kisah Perempuan Siro-Fenesia juga mengajarkan kepada kita tentang iman yang tidak menuntut, tidak memaksa, tetapi percaya sepenuhnya pada belas kasih dan kemurahan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap datang kepada Tuhan dengan berbagai tuntutan dan harapan. Namun, melalui renungan ini, umat diajak untuk belajar berserah, setia, dan sabar, sebab jawaban atas doa-doa kita selalu lahir dari kasih Tuhan, bukan dari paksaan manusia.
Beberapa pesan iman yang dapat direnungkan bersama dari Injil hari ini adalah:
Mukjizat Tuhan terjadi menurut kehendak-Nya
Jawaban atas doa-doa kita adalah karena belas kasih dan kemurahan Tuhan
Iman yang benar adalah percaya kepada Tuhan tanpa perlu bukti nyata.
Melalui kegiatan doa rutin ini, umat Lingkungan St. Theresia diharapkan semakin diteguhkan dalam iman dan pengharapan. Jangan menyerah, jangan berhenti berharap, dan jangan mundur karena satu penolakan. Tetaplah percaya dan berserah sepenuhnya pada belas kasih serta kemurahan Tuhan, sebab di sanalah sumber kekuatan sejati kita.
Pada hari Kamis, 12 Februari 2026, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan kegiatan sembayangan lingkungan rutin yang bertempat di rumah keluarga Bapak Hanadi. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan berlangsung dengan tertib serta penuh kekhusyukan.
Petugas dalam pelaksanaan ibadat pada malam hari tersebut adalah Bapak Junedi, Bapak Apri, dan Saudara Galang. Sembayangan dihadiri oleh 35 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, OMK, dan orang tua. Kehadiran umat dari berbagai kelompok usia mencerminkan semangat kebersamaan dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja di lingkungan.
Bacaan Injil hari itu diambil dari Injil Markus 7:24–30, tentang iman seorang ibu Siro-Fenisia yang memohon kepada Yesus agar anaknya yang kerasukan roh jahat disembuhkan. Walaupun ia bukan orang Yahudi, ia tetap percaya dan dengan rendah hati memohon pertolongan Yesus. Karena imannya yang besar, Yesus pun menyembuhkan anaknya.
Melalui bacaan Injil ini, kita diajak untuk memiliki iman yang teguh dan kerendahan hati dalam memohon pertolongan Tuhan. Seperti ibu tersebut, kita pun hendaknya tidak mudah menyerah dalam doa, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan mendengarkan dan menjawab setiap permohonan kita pada waktu-Nya.
Semoga melalui sembayangan lingkungan ini, iman umat Lingkungan St. Gabriel semakin bertumbuh, dan kebersamaan dalam kasih Kristus semakin erat.
Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman serta pembahasan agenda dan pembagian tugas Lingkungan St. Gabriel dalam waktu dekat. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan serah terima keuangan kas PWK dari bendahara lama, Ibu Nana, kepada bendahara baru, Ibu Fifin, sebagai bentuk tanggung jawab dan keberlanjutan pelayanan administrasi di lingkungan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada keluarga Bapak Hanadi atas kesediaannya menjadi tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB.
Doa Rutin yang dilakukan dua kali dalam sebulan, setiap hari Kamis, umat Lingkungan St. Theresia berkumpul untuk mengikuti doa. Di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas sehari-hari, momen ini menjadi waktu yang pas untuk berhenti sejenak, waktu memuji Tuhan bersama seluruh umat lingkungan.
Suasana doa berlangsung sederhana namun penuh makna. Dengan puji-pujian, bacaan Kitab Suci, serta doa bersama, umat diajak untuk saling menguatkan dalam iman dan pengharapan. Kehadiran umat yang setia menjadi bukti nyata kerinduan untuk terus bertumbuh secara rohani.
Tak hanya sebagai sarana pendalaman iman, doa rutin ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan dan kekeluargaan antarumat. Canda ringan, senyum, dan sapaan hangat setelah doa menambah rasa akrab dan memperkuat tali persaudaraan di Lingkungan St. Theresia.
Semoga melalui kegiatan sederhana namun penuh berkat ini, iman umat semakin diteguhkan, hati semakin dikuatkan, dan kasih Tuhan semakin nyata dalam setiap langkah kehidupan.
Diutus Menjadi Murid Kristus yang Setia dan Berani Bersaksi
Maguwo, 5 Februari 2026
Lingkungan St. Antonius Padua menyelenggarakan ibadat sembahyangan lingkungan rutin pada hari Kamis, 5 Februari 2026 bertempat di rumah Bapak TH. Yani Ismono (salah satu umat lingkungan Antonius). Ibadat sabda ini dipandu oleh Bapak Agustinus Djumingan dan diikuti oleh sekitar 30 umat Lingkungan St. Antonius Padua.
Ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghayatan, dengan bacaan Injil dari Markus 6:7–13 yang mengangkat tema “Yesus Mengutus Dua Belas Murid”. Ibadat juga diperkaya dengan pembacaan kisah Santa Agatha, perawan dan martir, dari buku Ensiklopedia Orang Kudus.
Rangkaian Ibadat
Ibadat sabda dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut:
1. Lagu Pembukaan PS 688 Umat mengawali ibadat dengan lagu pembukaan dari Puji Syukur no 688 “Ya YesusHamba Sedia” sebagai ungkapan syukur dan persiapan hati untuk berdoa bersama.
2. Doa Pembukaan Doa pembukaan dipanjatkan untuk menyerahkan seluruh rangkaian ibadat kepadaTuhan agar berjalan dengan lancar dan membawa buah rohani.
3. PembacaanKisah Santa Agatha Dibacakan kisah Santa Agatha, seorang perawan dan martir yang dengan teguhmempertahankan kesucian dan imannya kepada Yesus Kristus. Santa Agatha relamenanggung penderitaan dan wafat sebagai martir demi kesetiaannya kepada Tuhan. Kisah ini menjadi teladan iman yang kokoh dan keberanian dalam mempertahankannilai-nilai Kristiani.
4. PembacaanInjil (Markus 6:7–13) Injil mewartakan peristiwa Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergiberdua-dua, mewartakan pertobatan, mengusir roh jahat, serta menyembuhkan orang sakit. Yesus mengutus para murid dalam kesederhanaan, tanpa membawa bekalberlebihan, sebagai tanda kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Allah.
5. Sharing Dalam sharing-nya, Bapak Djumingan menegaskan bahwa pengutusan para murid bukan hanya kisah masa lalu, melainkan panggilan nyata bagi setiap orang berimansaat ini.
Umat diajak menyadari bahwa:
Setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi murid yang diutus untuk mewartakan Injil melalui sikap dan perbuatan hidup sehari-hari.
Kesederhanaan yang diajarkan Yesus mengingatkan umat untuk lebih mengandalkan Tuhan daripada kekuatan dan kenyamanan pribadi.
Keteladanan Santa Agatha menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Kristus menuntut keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman hingga akhir.
Melalui Injil dan kisah Santa Agatha, umat diundang untuk hidup setia, jujur, dan beranimenjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Serta senantiasamengingat Prasetya (janji) babtis disetiap menghadapi godaan iblis.
6. Doa Penutup PS 695 Doa penutup dipanjatkan sebagai ungkapan syukur dan permohonan agar umat diberikekuatan untuk menjalani panggilan perutusan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Lagu Penutup Ibadat ditutup dengan lagu penutup “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu”yang meneguhkan semangat perutusan umat sebagai murid-murid Kristus.
Peneguhan Iman Umat
Melalui ibadat sembahyangan lingkungan ini, umat Lingkungan St. Antonius Padua Maguwo diteguhkan kembali dalam iman sebagai murid-murid Kristus yang diutus. Dengan meneladani para rasul dan keteguhan iman Santa Agatha, umat diharapkan semakin berani hidup setia dan mewartakan kasih Kristus melalui kesaksian hidup sehari-hari.
Hari/tgl : Kamis, 29 Januari 2026 Tempat : Rumah Bpk. Herjunanto Pemandu : Bpk. Mikhael Purwanto Umat yg hadir : 20 orang.
Renungan yg disampaikan bpk. Purwanto kali ini menggabungkan dua pesan penting untuk menguatkan iman kita. Pertama, kita belajar dr para pelayan Tuhn yg sederhana namun setia. Mereka menghadapi resiko dg hati yg gembira. Kedua, kita diajak merenungkan kerahiman Allah. Jika Tuhan saja menerima kita tanpa memandang status, mengapa kita sering membuat sekat dg sesama? Mari temukan kekuatan baru untuk tetap setia melayani dan mengasihi tanpa membeda-bedakan.
Selasa, 20 Januari 2026 – Suasana khidmat dan penuh doa menyelimuti kediaman keluarga almarhumah Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono saat umat berkumpul untuk merayakan Misa Ekaristi peringatan 2 tahun berpulangnya beliau ke rumah Bapa.
Ekaristi yang Penuh Harapan
Misa kudus dipimpin oleh Romo Yos Bintoro, Pr. Dalam homilinya, Romo Yos mengingatkan kembali akan janji keselamatan Kristus. Suasana doa berlangsung begitu tenang, membawa pesan mendalam tentang harapan Kristiani: bahwa wafat bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pintu menuju kehidupan kekal yang penuh sukacita bersama Tuhan di surga. Romo Yos juga menyampaikan pesan bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama, maka dari itu kita diingatkan kembali untuk mempergunakan hidup kita dengan sebaik-baiknya dalam mempersiapkan kehidupan abadi bersma Tuhan.
Kehadiran umat dari Lingkungan St. Stefanus dan Lingkungan St. Gregorius memberikan warna tersendiri. Partisipasi dari dua lingkungan ini menjadi bukti nyata kuatnya tali persaudaraan antarumat beriman. Bersama-sama, seluruh umat yang hadir melambungkan doa permohonan agar jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono diterima dengan penuh cinta dalam kerahiman Allah yang tak terbatas.
Wujud Solidaritas dan Penguatan Iman
Setelah perayaan Ekaristi usai, pihak keluarga menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh umat yang hadir. Dukungan doa dan kehadiran fisik dari para tetangga serta sahabat sejak masa duka hingga peringatan 1000 hari ini menjadi kekuatan luar biasa bagi keluarga yang ditinggalkan.
Solidaritas yang ditunjukkan malam itu tidak hanya sekadar tradisi, tetapi menjadi momen yang memperteguh iman dan mempererat ikatan persaudaraan dalam komunitas lingkungan. Kehadiran umat menjadi saksi bahwa dalam duka maupun syukur, gereja adalah sebuah keluarga yang saling menguatkan.
Doa yang Menghangatkan Hati
Perayaan malam itu berakhir dengan kehangatan yang meresap ke dalam hati. Sebuah ungkapan cinta, doa, dan pengharapan yang tulus telah dihantarkan. Semoga segala amal kasih almarhumah semasa hidup menjadi persembahan yang harum di hadapan-Nya.
“Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan, karena mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, sebab segala perbuatan mereka menyertai mereka.”
Semoga jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono beristirahat dalam damai Tuhan yang abadi. Amin.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo