Pertemuan APP Pertama Lingkungan Yohanes Pembaptis: Mewujudkan Kepedulian Melalui Refleksi Bantuan Sosial

Kamis, 19 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang pertama dengan tema “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawali Aksi.” Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bersama akan pentingnya kepedulian sosial, khususnya dalam hal bantuan sosial (bansos).

Sebanyak 30 umat hadir dalam pertemuan tersebut, terdiri dari OMK (Orang Muda Katolik), bapak-ibu, serta para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam membangun lingkungan yang semakin peduli dan solider.

Pertemuan diawali dengan doa pembuka dan pengantar mengenai makna APP sebagai momentum pertobatan yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial. Umat diajak untuk melihat realitas di sekitar: apakah bantuan sosial yang ada selama ini sudah sungguh menyentuh mereka yang paling membutuhkan?

Dalam sesi diskusi, umat diajak merefleksikan beberapa pertanyaan mendalam, antara lain:

  • Apakah saya atau keluarga saya termasuk penerima bantuan sosial yang sebenarnya tidak tepat sasaran?
  • Adakah anggota masyarakat di sekitar saya yang justru lebih membutuhkan bantuan tersebut?
  • Bagaimana peran saya agar bantuan sosial dapat tepat sasaran dan benar-benar membantu yang membutuhkan?

Diskusi berlangsung terbuka dan penuh kejujuran. Beberapa umat menyampaikan keprihatinan atas kondisi di sekitar lingkungan, di mana masih ada warga yang membutuhkan namun belum tersentuh bantuan. Ada pula refleksi pribadi mengenai pentingnya integritas dan kejujuran dalam menerima bantuan.

Melalui pertemuan ini, umat tidak hanya diajak untuk menilai situasi, tetapi juga menggali potensi yang dimiliki lingkungan, seperti semangat gotong royong, komunikasi antarwarga, serta kepedulian yang sudah tumbuh selama ini. Kesadaran bersama ini menjadi dasar untuk merancang aksi nyata selama masa APP, agar bantuan sosial dapat lebih tepat sasaran dan benar-benar menjadi wujud kasih yang konkret.

Pertemuan APP pertama ini menjadi pengingat bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada doa dan puasa, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian bersikap jujur, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Semoga semangat solidaritas yang telah tumbuh dalam pertemuan ini terus berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Lingkungan Santa Monica Gelar Ibadah Mitoni Penuh Sukacita

Dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica mengadakan ibadah mitoni bagi Mbak Veka, putri dari Bapak Luddy dan Ibu Naning, pada Kamis, 12 Februari pukul 19.00 WIB. Ibadah dilaksanakan di Dusun Maguwo dan dihadiri oleh umat lingkungan yang dengan penuh sukacita turut mendoakan keselamatan ibu dan calon buah hati.

Ibadah dipimpin oleh Prodiakon Ibu Tiwi. Dalam permenungannya, beliau mengangkat kisah Injil tentang perjumpaan Maria yang mengunjungi Elisabeth. Keduanya sedang mengandung dan sama-sama merasakan sukacita yang mendalam saat berjumpa. Maria datang membawa kabar keselamatan, dan Elisabeth menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Pertemuan itu menjadi gambaran indah tentang kasih, perhatian, dan persaudaraan yang tulus.

Melalui kisah tersebut, umat diajak untuk merefleksikan makna kunjungan dan perjumpaan dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang mengunjungi maupun yang dikunjungi, keduanya merasakan kebahagiaan karena dapat bertemu dan berbagi kasih dengan sesama. Demikian pula dalam kehidupan menggereja, setiap perjumpaan menjadi sarana menghadirkan sukacita dan penguatan iman.

Ibadah berlangsung dengan khidmat dan penuh pengharapan bagi Mbak Veka dan keluarga. Umat bersama-sama memanjatkan doa agar proses kehamilan hingga persalinan kelak berjalan lancar dan penuh berkat.

Sebagai penutup, tuan rumah menyediakan suguhan sederhana yang semakin mempererat kebersamaan antarumat. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan sosialisasi mengenai kotak APP (Aksi Puasa Pembangunan), mengingat minggu depan umat akan memasuki masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu. Umat diajak untuk mulai mempersiapkan hati, membangun semangat tobat, serta berbagi kasih melalui gerakan APP.

Semoga melalui kebersamaan dan doa yang terjalin dalam kegiatan lingkungan ini, iman umat semakin diteguhkan, Tuhan memberkati.

Doa Rutin Lingkungan St. Theresia : Meneladani Iman Perempuan Siro-Fenesia

Lingkungan St. Theresia kembali mengadakan kegiatan doa rutin pada Kamis, 12 Februari 2026, yang diikuti oleh umat lingkungan dengan penuh kekhusyukan dan semangat kebersamaan. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan pengharapan umat dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan doa rutin ini dilaksanakan di rumah Keluarga Bapak Gelung Minangkoro, dengan rangkaian acara meliputi doa pembuka, pujian, pembacaan Injil, renungan, doa umat, serta doa penutup. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana hening, khidmat, dan penuh penghayatan.

Renungan pada kesempatan ini diambil dari Injil Markus 7:24–30 dengan tema “Perempuan Siro-Fenesia yang Percaya.” Bacaan Injil ini mengisahkan seorang perempuan non-Yahudi yang dengan penuh kerendahan hati dan ketekunan iman datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan bagi anaknya. Meskipun awalnya mengalami penolakan, ia tidak menyerah, melainkan tetap percaya penuh pada belas kasih dan kemurahan Tuhan. Keteguhan imannya menunjukkan bahwa iman sejati adalah iman yang gigih, teguh, dan tidak mudah menyerah.

Dalam konteks sosial dan religius pada masa itu, keselamatan dipahami hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi. Namun, melalui kisah ini, Yesus menegaskan bahwa keselamatan Allah terbuka bagi semua bangsa, tanpa dibatasi oleh latar belakang, suku, maupun status sosial. Tuhan hadir untuk menyelamatkan semua orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus dan penuh iman.

Kisah Perempuan Siro-Fenesia juga mengajarkan kepada kita tentang iman yang tidak menuntut, tidak memaksa, tetapi percaya sepenuhnya pada belas kasih dan kemurahan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap datang kepada Tuhan dengan berbagai tuntutan dan harapan. Namun, melalui renungan ini, umat diajak untuk belajar berserah, setia, dan sabar, sebab jawaban atas doa-doa kita selalu lahir dari kasih Tuhan, bukan dari paksaan manusia.

Beberapa pesan iman yang dapat direnungkan bersama dari Injil hari ini adalah:

  1. Mukjizat Tuhan terjadi menurut kehendak-Nya
  2. Jawaban atas doa-doa kita adalah karena belas kasih dan kemurahan Tuhan
  3. Iman yang benar adalah percaya kepada Tuhan tanpa perlu bukti nyata.

Melalui kegiatan doa rutin ini, umat Lingkungan St. Theresia diharapkan semakin diteguhkan dalam iman dan pengharapan. Jangan menyerah, jangan berhenti berharap, dan jangan mundur karena satu penolakan. Tetaplah percaya dan berserah sepenuhnya pada belas kasih serta kemurahan Tuhan, sebab di sanalah sumber kekuatan sejati kita.

Sembayangan Lingkungan St. Gabriel: Iman yang Teguh dan Kerendahan Hati

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan kegiatan sembayangan lingkungan rutin yang bertempat di rumah keluarga Bapak Hanadi. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan berlangsung dengan tertib serta penuh kekhusyukan.

Petugas dalam pelaksanaan ibadat pada malam hari tersebut adalah Bapak Junedi, Bapak Apri, dan Saudara Galang. Sembayangan dihadiri oleh 35 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, OMK, dan orang tua. Kehadiran umat dari berbagai kelompok usia mencerminkan semangat kebersamaan dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja di lingkungan.

Bacaan Injil hari itu diambil dari Injil Markus 7:24–30, tentang iman seorang ibu Siro-Fenisia yang memohon kepada Yesus agar anaknya yang kerasukan roh jahat disembuhkan. Walaupun ia bukan orang Yahudi, ia tetap percaya dan dengan rendah hati memohon pertolongan Yesus. Karena imannya yang besar, Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Melalui bacaan Injil ini, kita diajak untuk memiliki iman yang teguh dan kerendahan hati dalam memohon pertolongan Tuhan. Seperti ibu tersebut, kita pun hendaknya tidak mudah menyerah dalam doa, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan mendengarkan dan menjawab setiap permohonan kita pada waktu-Nya.

Semoga melalui sembayangan lingkungan ini, iman umat Lingkungan St. Gabriel semakin bertumbuh, dan kebersamaan dalam kasih Kristus semakin erat.

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman serta pembahasan agenda dan pembagian tugas Lingkungan St. Gabriel dalam waktu dekat. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan serah terima keuangan kas PWK dari bendahara lama, Ibu Nana, kepada bendahara baru, Ibu Fifin, sebagai bentuk tanggung jawab dan keberlanjutan pelayanan administrasi di lingkungan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada keluarga Bapak Hanadi atas kesediaannya menjadi tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB.

Kamis Penuh Berkah Bersama Umat Lingkungan St. Theresia

Doa Rutin yang dilakukan dua kali dalam sebulan, setiap hari Kamis, umat Lingkungan St. Theresia berkumpul untuk mengikuti doa. Di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas sehari-hari, momen ini menjadi waktu yang pas untuk berhenti sejenak, waktu memuji Tuhan bersama seluruh umat lingkungan.

Suasana doa berlangsung sederhana namun penuh makna. Dengan puji-pujian, bacaan Kitab Suci, serta doa bersama, umat diajak untuk saling menguatkan dalam iman dan pengharapan. Kehadiran umat yang setia menjadi bukti nyata kerinduan untuk terus bertumbuh secara rohani.

Tak hanya sebagai sarana pendalaman iman, doa rutin ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan dan kekeluargaan antarumat. Canda ringan, senyum, dan sapaan hangat setelah doa menambah rasa akrab dan memperkuat tali persaudaraan di Lingkungan St. Theresia.

Semoga melalui kegiatan sederhana namun penuh berkat ini, iman umat semakin diteguhkan, hati semakin dikuatkan, dan kasih Tuhan semakin nyata dalam setiap langkah kehidupan.

Ibadat Lingkungan St. Antonius Padua Maguwo

Diutus Menjadi Murid Kristus yang Setia dan Berani Bersaksi

Maguwo, 5 Februari 2026

 


Lingkungan St. Antonius Padua menyelenggarakan ibadat sembahyangan lingkungan rutin pada hari Kamis, 5 Februari 2026 bertempat di rumah Bapak TH. Yani Ismono (salah satu umat lingkungan Antonius). Ibadat sabda ini dipandu oleh Bapak Agustinus Djumingan dan diikuti oleh sekitar 30 umat Lingkungan St. Antonius Padua. 

Ibadat berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghayatan, dengan bacaan Injil dari Markus 6:7–13 yang mengangkat tema “Yesus Mengutus Dua Belas Murid”. Ibadat juga diperkaya dengan pembacaan kisah Santa Agatha, perawan dan martir, dari buku Ensiklopedia Orang Kudus.

Rangkaian Ibadat

Ibadat sabda dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut:

1. Lagu Pembukaan PS 688 
Umat mengawali ibadat dengan lagu pembukaan dari Puji Syukur no 688 “Ya YesusHamba Sedia” sebagai ungkapan syukur dan persiapan hati untuk berdoa bersama.

2. Doa Pembukaan
Doa pembukaan dipanjatkan untuk menyerahkan seluruh rangkaian ibadat kepadaTuhan agar berjalan dengan lancar dan membawa buah rohani.

3. Pembacaan Kisah Santa Agatha
Dibacakan kisah Santa Agatha, seorang perawan dan martir yang dengan teguhmempertahankan kesucian dan imannya kepada Yesus Kristus. Santa Agatha relamenanggung penderitaan dan wafat sebagai martir demi kesetiaannya kepada Tuhan. Kisah ini menjadi teladan iman yang kokoh dan keberanian dalam mempertahankannilai-nilai Kristiani.

4. Pembacaan Injil (Markus 6:7–13)
Injil mewartakan peristiwa Yesus mengutus kedua belas murid-Nya untuk pergiberdua-dua, mewartakan pertobatan, mengusir roh jahat, serta menyembuhkan orang sakit. Yesus mengutus para murid dalam kesederhanaan, tanpa membawa bekalberlebihan, sebagai tanda kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Allah.

5. Sharing
Dalam sharing-nya, Bapak Djumingan menegaskan bahwa pengutusan para murid bukan hanya kisah masa lalu, melainkan panggilan nyata bagi setiap orang berimansaat ini.

Umat diajak menyadari bahwa:

  • Setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi murid yang diutus untuk mewartakan Injil melalui sikap dan perbuatan hidup sehari-hari.
  • Kesederhanaan yang diajarkan Yesus mengingatkan umat untuk lebih mengandalkan Tuhan daripada kekuatan dan kenyamanan pribadi.
  • Keteladanan Santa Agatha menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Kristus menuntut keberanian, pengorbanan, dan keteguhan iman hingga akhir.

Melalui Injil dan kisah Santa Agatha, umat diundang untuk hidup setia, jujur, dan beranimenjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Serta senantiasamengingat Prasetya (janji) babtis disetiap menghadapi godaan iblis.

6. Doa Penutup PS 695
Doa penutup dipanjatkan sebagai ungkapan syukur dan permohonan agar umat diberikekuatan untuk menjalani panggilan perutusan dalam kehidupan sehari-hari.

7. Lagu Penutup
Ibadat ditutup dengan lagu penutup “Aku Dengar Bisikan Suara-Mu”yang meneguhkan semangat perutusan umat sebagai murid-murid Kristus.

Peneguhan Iman Umat

Melalui ibadat sembahyangan lingkungan ini, umat Lingkungan St. Antonius Padua Maguwo diteguhkan kembali dalam iman sebagai murid-murid Kristus yang diutus. Dengan meneladani para rasul dan keteguhan iman Santa Agatha, umat diharapkan semakin berani hidup setia dan mewartakan kasih Kristus melalui kesaksian hidup sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

Ibadat Lingkungan St. Antonius.

Hari/tgl : Kamis, 29 Januari 2026
Tempat : Rumah Bpk. Herjunanto
Pemandu : Bpk. Mikhael Purwanto
Umat yg hadir : 20 orang.

Renungan yg disampaikan bpk. Purwanto kali ini menggabungkan dua pesan penting untuk menguatkan iman kita.
Pertama, kita belajar dr para pelayan Tuhn yg sederhana namun setia. Mereka menghadapi resiko dg hati yg gembira.
Kedua, kita diajak merenungkan kerahiman Allah. Jika Tuhan saja menerima kita tanpa memandang status, mengapa kita sering membuat sekat dg sesama?
Mari temukan kekuatan baru untuk tetap setia melayani dan mengasihi tanpa membeda-bedakan.

https://youtu.be/M_PpEtgLn64

Misa Memule: Mengenang 2 Tahun Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono

Selasa, 20 Januari 2026 – Suasana khidmat dan penuh doa menyelimuti kediaman keluarga almarhumah Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono saat umat berkumpul untuk merayakan Misa Ekaristi peringatan 2 tahun berpulangnya beliau ke rumah Bapa.

Ekaristi yang Penuh Harapan

Misa kudus dipimpin oleh Romo Yos Bintoro, Pr. Dalam homilinya, Romo Yos mengingatkan kembali akan janji keselamatan Kristus. Suasana doa berlangsung begitu tenang, membawa pesan mendalam tentang harapan Kristiani: bahwa wafat bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pintu menuju kehidupan kekal yang penuh sukacita bersama Tuhan di surga. Romo Yos juga menyampaikan pesan bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama, maka dari itu kita diingatkan kembali untuk mempergunakan hidup kita dengan sebaik-baiknya dalam mempersiapkan kehidupan abadi bersma Tuhan.

Kehadiran umat dari Lingkungan St. Stefanus dan Lingkungan St. Gregorius memberikan warna tersendiri. Partisipasi dari dua lingkungan ini menjadi bukti nyata kuatnya tali persaudaraan antarumat beriman. Bersama-sama, seluruh umat yang hadir melambungkan doa permohonan agar jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono diterima dengan penuh cinta dalam kerahiman Allah yang tak terbatas.

Wujud Solidaritas dan Penguatan Iman

Setelah perayaan Ekaristi usai, pihak keluarga menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh umat yang hadir. Dukungan doa dan kehadiran fisik dari para tetangga serta sahabat sejak masa duka hingga peringatan 1000 hari ini menjadi kekuatan luar biasa bagi keluarga yang ditinggalkan.

Solidaritas yang ditunjukkan malam itu tidak hanya sekadar tradisi, tetapi menjadi momen yang memperteguh iman dan mempererat ikatan persaudaraan dalam komunitas lingkungan. Kehadiran umat menjadi saksi bahwa dalam duka maupun syukur, gereja adalah sebuah keluarga yang saling menguatkan.

Doa yang Menghangatkan Hati

Perayaan malam itu berakhir dengan kehangatan yang meresap ke dalam hati. Sebuah ungkapan cinta, doa, dan pengharapan yang tulus telah dihantarkan. Semoga segala amal kasih almarhumah semasa hidup menjadi persembahan yang harum di hadapan-Nya.

“Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan, karena mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, sebab segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Semoga jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono beristirahat dalam damai Tuhan yang abadi. Amin.

Ibadat Sabda Lingkungan St. Antonius Padua Sembego

Kamis, 22 Januari 2026
Pemandu Ibadat          : Bapak Murdiyana
Bacaan Injil                   : Markus 3 : 7–12
Tema                             : “Diselamatkan oleh Belas Kasih”

Tempat                          : Rumah Bapak Puspito

Umat yang hadir          : 20 0rang

Dalam ibadat sabda lingkungan yang dilaksanakan pada hari Kamis, Bapak Murdiyana menyampaikan renungan berdasarkan bacaan Injil Markus 3:7–12 dengan tema “Diselamatkan oleh Belas Kasih”.

Renungan diawali dengan penjelasan singkat mengenai situasi dalam Injil, di mana Yesus diikuti oleh banyak orang dari berbagai daerah. Mereka datang dengan berbagai latar belakang dan persoalan hidup, terutama karena mereka percaya bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan membebaskan dari penderitaan.

Bapak Murdiyana menekankan bahwa dalam perikop ini, Yesus tidak hanya tampil sebagai pengajar, tetapi sebagai pribadi yang penuh belas kasih, yang mau mendekati orang-orang sakit, lemah, dan terpinggirkan. Banyak orang yang sakit berdesakan ingin menyentuh Yesus, dan mereka yang kerasukan roh jahat pun disembuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan yang diberikan Yesus lahir dari belas kasih Allah, bukan karena jasa atau kelayakan manusia.

Iman sejati bukan sekadar pengakuan di bibir bahwa Yesus adalah Tuhan, melainkan wujud ketaatan dan kasih melalui teladan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Kita diundang untuk membangun relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus sebagai Tuhan dan Sahabat, bukan sekadar datang untuk memanfaatkan kuasa-Nya demi kepentingan egois semata. 

Melalui kesabaran, kejujuran, dan pengampunan, kita dipanggil menjadi murid Kristus yang sungguh-sungguh mengenal dan mengikuti-Nya hingga akhir, membawa terang kasih-Nya melalui kesaksian hidup yang tenang namun mendalam.

Menurut teman-teman, tantangan terbesar apa yang sering kita hadapi dalam menunjukkan kasih Yesus melalui perbuatan nyata?

Renungan ditutup dengan ajakan agar umat Lingkungan St. Antonius Padua Maguwo semakin menjadi komunitas yang menghadirkan kasih, penerimaan, dan pengharapan bagi siapa pun yang membutuhkan.

https://youtu.be/_mjLTRmXzUc

Agenda Kegiatan Doa Lingkungan Santa Monica dan Pelayanan Koor di GMBA

Lingkungan Santa Monica kembali mengadakan kegiatan rohani yang penuh makna pada Kamis, 22 Januari 2026, bertempat di rumah Bapak Andre, mulai pukul 19.00 WIB. Kegiatan diawali dengan doa lingkungan yang diikuti oleh sekitar 30 umat.

Dalam doa bersama tersebut, umat diajak merenungkan kisah Saul yang dipenuhi rasa benci dan iri terhadap Daud. Kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh umat akan bahaya perasaan negatif yang dapat merusak relasi, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan. Melalui renungan yang dibagikan, umat diajak untuk belajar menanggapi setiap peristiwa, termasuk berita yang kita dengar atau baca, dengan sikap yang positif, tidak terburu-buru berprasangka atau terjebak dalam pikiran negatif. Sikap iman yang dewasa diharapkan mampu menghadirkan damai dan pengharapan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah doa lingkungan, kegiatan dilanjutkan dengan latihan koor sebagai persiapan pelayanan liturgi. Latihan berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan, mencerminkan komitmen umat Lingkungan Santa Monica dalam melayani Tuhan melalui pujian dan nyanyian.

Pelayanan koor tersebut kemudian dilaksanakan pada Minggu pagi dalam Perayaan Ekaristi pukul 07.00 WIB di Gereja Maguwo – Bunda Allah. Para umat yang bertugas telah berkumpul sejak pukul 06.30 WIB untuk melakukan persiapan. Berkat kerja sama dan kesiapan seluruh petugas, Misa berjalan dengan lancar dan sukses, serta membantu umat semakin khusyuk dalam mengikuti perayaan Ekaristi.

Semoga melalui kegiatan doa lingkungan dan pelayanan koor ini, iman umat semakin diteguhkan dan semangat kebersamaan dalam melayani Tuhan dan Gereja terus bertumbuh.