Doa Lingkungan Santo Petrus: Sukacita Paskah Membawa Harapan Baru

Pada hari Kamis, 16 April 2026 pukul 19.00, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan doa bersama yang bertempat di rumah Bapak Agus Marjuni. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 orang umat yang dengan penuh semangat berkumpul untuk memperdalam iman dan mempererat kebersamaan dalam suasana Paskah.

Doa lingkungan pada malam hari tersebut dipimpin oleh Ibu Mulyadi. Dalam suasana yang khidmat namun penuh sukacita, umat bersama-sama merenungkan tema “Sukacita Paskah: Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.” Tema ini mengajak setiap umat untuk menyadari bahwa kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga sumber kekuatan dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui doa, bacaan Kitab Suci, serta sharing singkat, umat diajak untuk semakin percaya bahwa di tengah berbagai tantangan hidup, Tuhan selalu hadir membawa terang dan harapan baru. Kebangkitan Kristus menjadi tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus menguatkan iman umat untuk tetap setia dan penuh harapan.

Kegiatan doa berlangsung dengan lancar dan penuh kekeluargaan. Kebersamaan yang terjalin semakin mempererat hubungan antarumat di Lingkungan Santo Petrus. Di akhir doa, umat juga saling menyapa dan berbagi sukacita, mencerminkan semangat Paskah yang hidup dalam komunitas.

Semoga melalui kegiatan doa lingkungan ini, iman umat semakin bertumbuh dan sukacita Paskah terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap pribadi mampu menjadi pembawa harapan bagi sesama.

Peringatan 3 Hari dan 7 Hari Wafatnya Ibu Suitbertha Martiwi

Umat Paroki, khususnya dari Lingkungan Santa Monica, dengan penuh iman dan pengharapan akan kebangkitan mengenang wafatnya Ibu Suitbertha Martiwi, yang telah berpulang ke rumah Bapa di surga.

Sebagai ungkapan kasih dan doa, keluarga bersama umat Lingkungan Santa Monica mengadakan peringatan 3 hari pada tanggal 16 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Tiwi, serta peringatan 7 hari pada tanggal 21 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek. Seluruh rangkaian ibadat dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB.

Dalam suasana doa yang khusyuk, banyak umat Lingkungan Santa Monica hadir untuk turut mendoakan arwah almarhumah. Kehadiran umat menjadi tanda nyata kebersamaan dan kepedulian dalam persekutuan iman, sekaligus memberikan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pada peringatan tanggal 16 April 2026, bendahara Lingkungan Santa Monica juga menyerahkan uang prolenan kepada keluarga yang berduka sebagai bentuk tali asih dan solidaritas umat.

Ibadat peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang teladan hidup almarhumah semasa hidupnya—kesederhanaan, kasih kepada sesama, serta kesetiaan dalam iman. Gereja mengajarkan bahwa doa bagi mereka yang telah berpulang merupakan wujud kasih yang terus hidup dalam persekutuan para kudus.

Semoga melalui doa-doa yang dipanjatkan, Ibu Suitbertha Martiwi beristirahat dalam damai, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan serta penghiburan dalam iman akan kehidupan kekal.

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1)

Misa Arwah 40 Hari Ibu Caecilia Supartijah (Lingkungan Santo Petrus)

Pada hari Rabu, 15 April 2026 pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan misa arwah 40 hari untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartijah. Misa ini dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap dan berlangsung dengan khidmat serta penuh doa.

Perayaan Ekaristi dihadiri oleh 23 orang umat dari Lingkungan Santo Petrus yang dengan setia hadir untuk memberikan dukungan doa bagi almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana yang tenang dan penuh pengharapan, umat bersama-sama memanjatkan doa agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan.

Dalam homilinya, Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap mengajak umat untuk terus menjaga iman dan pengharapan akan kehidupan kekal. Beliau juga mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru bersama Tuhan.

Misa ini menjadi momen kebersamaan yang menguatkan, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh umat yang hadir. Kehadiran dan partisipasi umat menunjukkan rasa kepedulian serta solidaritas yang erat dalam lingkungan.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap yang telah memimpin misa dengan penuh penghayatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh umat Lingkungan Santo Petrus yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan doa dalam mengikuti perayaan ini.

Semoga segala doa yang dipanjatkan membawa ketenangan bagi almarhumah dan menjadi penguatan iman bagi kita semua.

Semangat Paskah dalam Kebersamaan: Ibadah Paskah Lingkungan Santa Monica

Sukacita Paskah terasa begitu hangat dalam kebersamaan umat Lingkungan Santa Monica yang menggelar ibadah Paskah pada Kamis, 9 April 2026. Bertempat di rumah Bapak Saman, ibadah yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek dan dihadiri oleh umat dalam jumlah yang cukup banyak.

Sejak awal acara, suasana penuh khidmat dan kebersamaan sudah terasa. Meskipun sempat terjadi mati lampu di tengah jalannya ibadah, hal tersebut tidak mengurangi semangat umat dalam mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Dengan sederhana namun penuh makna, ibadah tetap berlangsung lancar hingga selesai. Justru dalam keterbatasan tersebut, kebersamaan dan kekhusyukan umat semakin terasa kuat.

Tingginya jumlah kehadiran umat pada malam itu juga dipengaruhi oleh momen penting, yakni hari terakhir pengumpulan kotak APP sebelum nantinya diserahkan ke tingkat stasi pada minggu berikutnya. Umat dengan penuh kesadaran dan sukacita membawa serta hasil pengorbanan mereka selama masa Prapaskah sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.

Setelah ibadah selesai, Ketua Lingkungan, Mas Edo, menyampaikan beberapa pengumuman penting. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa seluruh hasil kolekte selama rangkaian APP dari pertemuan pertama hingga kelima akan disalurkan kepada Panti Asuhan Bakti Luhur Berbah. Rencana penyaluran bantuan ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026.

Adapun total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1.000.000, yang juga mencakup tambahan dari paguyuban ibu-ibu lingkungan. Tidak hanya dalam bentuk dana, umat juga menunjukkan kepedulian melalui donasi berupa beras seberat 25 kilogram. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadah Paskah kali ini tidak hanya menjadi perayaan iman atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi di tengah umat. Dalam kesederhanaan dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica kembali menunjukkan bahwa iman yang hidup senantiasa diwujudkan dalam tindakan kasih yang konkret.

Semoga semangat Paskah yang telah dirayakan ini terus menginspirasi umat untuk hidup dalam terang, harapan, dan kasih di tengah kehidupan sehari-hari.

Semangat Kebangkitan dan Sukacita Saudara Baru: Paskahan Lingkungan St. Maria Immaculata

Kamis, 09 April 2026 , Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan umat Lingkungan St. Maria Immaculata dalam rangka merayakan Paskah tahun ini. Perayaan yang menjadi puncak dari masa Prapaskah ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momen refleksi mendalam mengenai kemenangan iman atas maut.

Makna Paskah: Dari Kegelapan Menuju Terang

Bagi umat di Lingkungan St. Maria Immaculata, Paskah tahun ini dimaknai sebagai titik balik spiritual. Paskah bukan hanya merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari mati, tetapi juga simbol harapan bagi setiap pribadi untuk bangkit dari kegelapan dosa menuju terang kehidupan yang baru.

“Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Kemenangan Kristus adalah jaminan bahwa kasih selalu lebih kuat dari kebencian, dan hidup lebih berkuasa daripada kematian,” ujar salah satu pengurus lingkungan dalam sambutannya.

Sambutan Hangat untuk Para Baptisan Baru

Sukacita Paskah kali ini terasa kian spesial dengan hadirnya wajah-wajah baru di tengah persekutuan. Lingkungan St. Maria Immaculata dengan penuh sukacita menyambut para warga lingkungan yang telah resmi menerima Sakramen Baptis pada Misa Vigili Paskah kemarin malam. Yakni keluarga Bapak Rafael dan Keluarga Ibu Nita.

Prosesi penyambutan dilakukan dengan sederhana namun penuh makna. Warga lingkungan memberikan ucapan selamat datang sebagai anggota baru dalam keluarga besar Gereja Katolik. Kehadiran mereka dipandang sebagai “semangat iman” yang memperkuat paguyuban di lingkungan tersebut.

“Melihat saudara-saudara kita mengenakan kain putih dan menerima lilin Paskah pada saat saudara kita di Misa Vigili Paskah adalah pengingat bagi kita semua akan janji baptis kita sendiri. Kami sangat bahagia menyambut mereka di rumah ini,” ungkap Bapak Kristiantara selaku Ketua Lingkungan St. Maria Immaculata

Doa dan Harapan: Menjadi Katolik yang Teguh

Sebagai bentuk dukungan spiritual, seluruh umat Lingkungan St. Maria Immaculata memanjatkan doa bersama bagi para baptisan baru. Umat berdoa agar para anggota baru ini yaitu Setia pada panggilannya sebagai murid Kristus di tengah tantangan zaman. Lalu menjadi orang Katolik yang baik, yang mampu memancarkan kasih dalam tindakan sehari-hari, serta diharapkan memiliki iman yang teguh, tidak mudah goyah, dan terus bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus.

Perayaan diakhiri dengan ramah tamah bersama, mempererat tali persaudaraan antarwarga tanpa sekat antara anggota lama maupun yang baru dibaptis. Dengan semangat Paskah, Lingkungan St. Maria Immaculata berkomitmen untuk terus berjalan bersama sebagai saksi-saksi kebangkitan Kristus di tengah masyarakat.

Sembayangan Rutin Lingkungan St. Gabriel : “Menjadi Saksi Kebangkitan dalam Kebersamaan”

Sembayangan rutin Lingkungan Santo Gabriel yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan kembali diadakan pada Kamis, 9 April, bertempat di rumah keluarga Bapak Sidiq. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Manik, serta Saudara Darius. Sebanyak 32 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, hingga anak-anak, yang bersama-sama mengikuti ibadat dengan penuh kebersamaan.

Bacaan Injil malam itu diambil dari Lukas 24:35–48 dengan tema: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” Dalam renungan disampaikan bahwa Yesus yang bangkit hadir secara nyata, bukan sekadar gambaran atau pemikiran semata. Ia hadir dengan tubuh-Nya, bahkan membawa luka-luka sebagai tanda kasih-Nya yang nyata bagi manusia. Dari sini kita diingatkan bahwa luka dan penderitaan hidup kita pun dapat menjadi bagian dari karya kasih Tuhan. Yesus juga membuka pikiran para murid untuk memahami Kitab Suci, mengajak kita semua untuk semakin mendalami Sabda Allah sebagai dasar iman. Iman yang bertumbuh bukan hanya dari perasaan, tetapi dari pengenalan yang semakin dalam akan firman Tuhan.

Dalam sesi sharing, beberapa umat dengan tulus membagikan pengalaman iman mereka, yang semakin menguatkan dan menghidupkan suasana kebersamaan malam itu. Di akhir bacaan, kita kembali diingatkan akan panggilan sebagai saksi Kristus yang bangkit, yang diutus untuk membawa damai, pengampunan, dan harapan di tengah kehidupan sehari-hari.

Sembayangan berlangsung dengan lancar dan khidmat. Setelah ibadat, umat melanjutkan kebersamaan dalam suasana santai, menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah sambil bercengkerama dan mempererat tali persaudaraan. Ketua lingkungan juga menyampaikan beberapa pengumuman penting dan pemberian jaminan hidup (jadup) dari stasi untuk Bapak Sidiq.

Acara ditutup pada pukul 20.30 WIB. Bapak Ketua Lingkungan mewakili seluruh umat menyampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak Sidiq atas kebaikan dan keramahtamahannya dalam menerima seluruh umat.

Ibadat Memule 1000 Hari Ibu Yasenta Surajiati Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan

Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Ibadat Memule 1000 hari mengenang berpulangnya Ibu Yasenta Surajiati dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.

Ibadat dipimpin oleh prodiakon, Bapak Naryo, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam rangkaian doa dan permenungan. Umat yang hadir cukup banyak, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian dalam mendampingi keluarga yang berduka.

Selain umat dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, ibadat ini juga dihadiri oleh beberapa umat dari lingkungan lain yang turut hadir untuk memberikan dukungan dan doa. Kehadiran mereka semakin menegaskan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja.

Selama ibadat berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh khusyuk. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar almarhumah Ibu Yasenta Surajiati memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan.

Ibadat memule 1000 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman akan kehidupan kekal serta mempererat tali persaudaraan di tengah komunitas.

Semoga melalui doa bersama ini, kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga dan seluruh umat yang hadir.

Mengambil langkah Pertama Dalam Menolong Sesama

Pertemuan APP ke-5

Pada tanggal 26 Maret 2026, umat Lingkungan Elisabeth mengadakan pertemuan APP kelima di Pendopo Mbah Cipto. pertemuan APP yang terakhir ini dihadiri 27 orang. Petugas pemimpin ibadat APP kali ini mengemas renungan dengan apik. Umat diajak menyaksikan cerita melalui proyektor. Sebuah kisah tentang seorang tukang ojek yang bisu tuli namun tetap menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Pada suatu hari, dia mengalami musibah, barang yang akan dia antar dicuri oleh sekelompok anak. Saat pencuri itu tertangkap dan orang-orang akan menghakimi pencuri tersebut, si bisu tuli ini justru menolong. Saat mengetahui si pencuri kelaparan, dia mengajaknya makan, dan memaafkan. Dari sini kita bisa memetik nilai moral, bahwa cinta kasih dapat berlaku untuk dan oleh siapa saja. Entah dia dalam keadaan yang kekurangan sekalipun, masih bisa berbagi kasih. Bahkan seorang penjahat sekalipun, berhak mendapatkan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat berbagai bentuk penderitaan di sekitar kita, kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, dan berbagai kesulitan lainnya. Namun, tidak jarang kita memilih untuk diam atau menunda untuk bertindak, entah karena merasa tidak mampu, takut, atau menganggap itu bukan tanggung jawab kita. Pertemuan APP ke-5 ini mengajak kita untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 9:1-6.

Dalam bacaan tersebut, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya dan mengutus mereka untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang sakit. Menariknya, Yesus tidak membekali mereka dengan banyak hal secara materi. Ia bahkan melarang mereka membawa bekal berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan keberanian untuk melangkah dan kepercayaan kepada Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa untuk menolong orang lain, kita harus memiliki banyak hal terlebih dahulu. Uang yang cukup, waktu yang longgar, atau kemampuan yang luar biasa. Padahal, Tuhan hanya meminta kita untuk memulai dari apa yang kita punya. Langkah kecil yang kita ambil dengan tulus dapat membawa dampak besar bagi orang lain.

Mengambil langkah pertama memang tidak selalu mudah. Ada rasa ragu, takut ditolak, atau khawatir tidak bisa membantu secara maksimal. Namun, melalui kisah ini, kita diajak untuk percaya bahwa Tuhan menyertai setiap usaha baik kita. Ketika kita berani melangkah, Tuhan bekerja melalui kita.

Menolong sesama tidak harus selalu dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti mendengarkan, memberi perhatian, membantu teman yang kesulitan, atau berbagi dengan yang membutuhkan sudah menjadi wujud nyata kasih. Yang terpenting adalah hati yang peduli dan kemauan untuk bertindak.

Melalui pertemuan ini, kita diajak untuk tidak lagi menunda. Mari mulai dari langkah kecil, dari lingkungan terdekat kita, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ketika kita berani mengambil langkah pertama, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi sesama.


Mari kita berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu. Karena dalam setiap tindakan kasih, Tuhan hadir dan bekerja melalui kita.

Pertemuan APP ke-5 Lingkungan St. Antonius Maguwo

“MENGAMBIL LANGKAH PERTAMA DALAM MENOLONG SESAMA”

Tanggal​​: 26 Maret 2026

Tempat ​​: Rumah Bp Vincentius Soemarno

Pemandu​​: Bp Arief Subyantoro, Bp Widjajanto, Bp Murdiyono

Jumlah Peserta ​: 25 orang

Pertemuan kelima Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 menjadi puncak dari rangkaian permenungan dengan mengangkat tema “Mengambil Langkah Pertama dalam Menolong Sesama.” Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk tidak hanya memahami nilai-nilai kepedulian, tetapi juga berani mengambil tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertemuan diawali dengan nyanyian pembuka, tanda salib, pengantar, serta doa pembuka yang mengarahkan umat pada kesadaran akan panggilan sebagai murid Kristus yang diutus untuk mewartakan kasih melalui tindakan konkret.

Pada bagian pendalaman, umat diajak merefleksikan bahwa iman tidak berhenti pada doa dan niat baik, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata. Melalui bacaan Kitab Suci dan pengantar pertemuan, ditekankan bahwa setiap orang dipanggil untuk peka terhadap kebutuhan sesama dan berani “repot” untuk memulai langkah kecil yang membawa perubahan. Gereja mengajak umat untuk tidak menunda kebaikan, melainkan segera bertindak ketika melihat sesama yang membutuhkan pertolongan. 

Pendalaman semakin diperkaya melalui drama situasi (fragmen) yang dibawakan dengan gaya sederhana dan komunikatif. Dalam fragmen tersebut, para tokoh anak-anak menggambarkan kembali perjalanan materi dari pertemuan pertama hingga keempat: mulai dari pentingnya memahami kondisi sesama, mengenal fungsi dana sosial Gereja, mengembangkan tanggung jawab sosial, hingga memahami pentingnya pedoman dalam menyalurkan bantuan. Melalui dialog yang ringan dan diselingi humor, umat diajak menyadari bahwa kepedulian harus diwujudkan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab. 

Fragmen tersebut mencapai pesan utamanya ketika para tokoh menyimpulkan bahwa menjadi pribadi yang peduli berarti mau melihat, mau berbagi, dan mau membantu dengan cara yang tepat. Pesan ini menegaskan bahwa tindakan kecil sekalipun memiliki arti besar jika dilakukan dengan ketulusan dan kebijaksanaan. Dengan demikian, umat tidak hanya diajak untuk memahami konsep, tetapi juga terdorong untuk mulai bertindak dalam kehidupan nyata, baik di keluarga, lingkungan, maupun masyarakat.

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, Doa Ardas, Doa Bapa Kami, berkat penutup, serta lagu penutup yang meneguhkan komitmen umat. Melalui pertemuan APP kelima ini, umat diharapkan semakin mantap untuk mengambil langkah pertama dalam menolong sesama. Dengan kepekaan hati dan keberanian untuk bertindak, umat dapat menjadi tanda kehadiran Gereja yang sungguh menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Sembayangan Rutin dan PWK Lingkungan St. Gabriel: Meneguhkan Iman dalam Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel mengadakan sembahyangan rutin pada Kamis, 26 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Robby Handoko. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Sembahyangan kali ini bertepatan dengan kegiatan PWK, sehingga umat hadir lebih awal untuk melaksanakan pembayaran iuran wajib, antara lain iuran APBU, Prolenan, GKH Pendidikan, Dahar Romo, dan arisan. Para petugas telah bersiap dan melayani proses pembayaran dengan tertib hingga seluruh kewajiban umat terselesaikan.

Setelah seluruh proses administrasi selesai, sembahyangan pun dimulai dan dipimpin oleh Ibu Ika, Ibu Intan, serta Ibu Ana. Bacaan Injil pada malam itu diambil dari Yohanes 8:51–59. Dalam renungan, umat diajak untuk merefleksikan “batu-batu” yang mungkin masih digenggam dalam hati, yakni sikap menghakimi atau menolak ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan logika dan keinginan manusia. Umat diingatkan bahwa sering kali manusia lebih memilih rasa aman dalam aturan yang kaku daripada kebebasan dalam kasih yang menuntut pertobatan dan perubahan hidup.

Melalui permenungan ini, umat diajak untuk semakin percaya kepada Yesus dengan berani melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana, serta berpegang teguh pada firman-Nya yang membawa kehidupan. Ditekankan pula bahwa mengenal Yesus bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan manusia dari maut terdalam, yaitu keterpisahan kekal dari kasih Allah.

Setelah sembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing seksi serta penyampaian pengumuman penting oleh ketua lingkungan, khususnya terkait tugas-tugas lingkungan dalam persiapan Pekan Suci Paskah. Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.

Demikian rangkaian kegiatan sembahyangan rutin Lingkungan St. Gabriel yang telah berlangsung dengan lancar dan penuh makna. Semoga melalui kebersamaan ini, iman umat semakin diteguhkan dan semangat pelayanan serta persaudaraan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati.

instagram https://www.instagram.com/reel/DWaN_dokzVS/?igsh=eXE1cnF1ZnFnODk1