Lingkungan St. Antonius Padua Mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso

Yogyakarta, 1 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso, ayahanda dari Ibu Maria Titis Indrayani, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di kediaman keluarga. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 35 umat dari keluarga, kerabat, serta warga lingkungan.

Ibadat dipimpin oleh Ibu Lucia Bernadeta Andayani Budi Lestari selaku prodiakon. Dalam suasana doa yang khusyuk, umat bersama-sama mendoakan almarhum agar memperoleh kedamaian abadi di hadirat Tuhan serta memohon penghiburan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Petugas liturgi yang terlibat dalam ibadat ini antara lain Mbak Cecilia Kiara Indrayanto sebagai pembaca Kitab Suci, Ibu Natalia Purwanti sebagai pembaca doa umat, serta Bapak FX. Dwi Istiya Rusiawan yang memimpin lagu-lagu selama ibadat sehingga seluruh umat dapat berpartisipasi dengan baik dalam perayaan doa.

Setelah doa umat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Cristiana Maria Sudjinarti. Umat mengikuti doa dengan penuh penghayatan sebagai ungkapan iman akan harapan kebangkitan dan kehidupan kekal yang dijanjikan Kristus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Melalui ibadat peringatan tujuh hari ini, umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali menunjukkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kasih persaudaraan dengan mendampingi keluarga yang sedang berduka melalui doa dan kehadiran.

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4)

Lingkungan St. Gregorius Bersatu Dalam Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka, dan Novena 3 Salam Maria – 6 Agustus 2026

Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka &
Novena 3 Salam Maria

Lingkungan St. Gregorius
Paroki Administratif Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kesempatan yang kembali diberikan kepada umat Lingkungan St. Gregorius untuk berkumpul dalam suasana penuh iman melalui Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka, serta Novena 3 Salam Maria yang dipersembahkan secara khusus untuk Pengembangan & Penataan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kebersamaan ini menjadi wujud nyata bahwa doa merupakan kekuatan yang mempersatukan umat dalam kasih Kristus serta menjadi sumber harapan bagi perjalanan Gereja.

  • 📅 Hari/Tanggal : Kamis, 6 Agustus 2026
  • 🕖 Waktu : 19.00 WIB
  • 🏠 Tempat : Rumah Mas Rendy

Dalam doa Sengsara Yesus, umat diajak merenungkan kasih Allah yang begitu besar melalui pengorbanan Putra-Nya demi keselamatan dunia. Melalui Rosario Koronka, setiap butir doa menjadi ungkapan iman, pengharapan, serta penyerahan diri kepada belas kasih Tuhan. Seluruh umat juga memanjatkan doa bagi keluarga, lingkungan, paroki, para imam, para pelayan Gereja, serta seluruh masyarakat agar senantiasa memperoleh damai dan penyertaan Tuhan.

Sebagai penutup, seluruh umat bersama-sama mendaraskan Novena 3 Salam Maria yang dipersembahkan secara khusus untuk mendukung proses Pengembangan dan Penataan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui doa bersama ini, umat memohon penyertaan Tuhan dan perlindungan Bunda Maria agar setiap rencana, pembangunan, serta pelayanan Gereja dapat berjalan dengan baik, menjadi berkat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

📖 Sabda Tuhan

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

— Injil Matius 18:20 —

🙏 Mari Terus Bertumbuh dalam Doa

Sabda Tuhan mengingatkan bahwa setiap pertemuan doa bukan sekadar sebuah kegiatan rutin, melainkan kesempatan untuk mengalami sendiri kehadiran Kristus di tengah umat-Nya. Melalui semangat kebersamaan, umat Lingkungan St. Gregorius diajak untuk terus membangun kehidupan doa dalam keluarga dan lingkungan, saling menguatkan dalam iman, serta mendukung seluruh karya pelayanan dan pembangunan Gereja demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan.


📖

Buku Doa Sengsara Yesus & Rosario Koronka

Lingkungan St. Gregorius

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Mazmur 119:105



✠ 🎵 ✠

🎶 Lagu Lingkungan St. Gregorius 🎶

❦ ✠ ❦
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor

Kasih adalah yang Utama dari Kehidupan Orang Beriman

Pada tanggal 4 Juni, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan Rutin yang bertempat di Pendopo Mbah Cipto. Dalam sembahyangan kali ini, kami merenungkan Injil Markus 12:28–34. Dalam injil ini bercerita bagaimana seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.

Ahli Taurat itu memahami bahwa kasih kepada Allah dan sesama jauh lebih berharga daripada segala kurban dan persembahan. Melihat jawabannya, Yesus berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menjalankan aturan atau mengikuti ibadah secara lahiriah. Iman yang sejati tampak dalam kasih yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengasihi Tuhan berarti menempatkanNya sebagai pusat hidup, setia berdoa, mendengarkan sabdaNya, dan melakukan kehendakNya. Mengasihi sesama berarti menghargai setiap orang, mau mengampuni, menolong yang membutuhkan, serta menjaga martabat setiap manusia.

Yang perlu kita renungkan bersama adalah,

  1. Apakah saya sungguh mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup saya?
  2. Apakah kasih saya kepada sesama terlihat dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar?
  3. Sudahkah saya menunjukkan kasih kepada ciptaan Tuhan dengan mengasihi sesama?

“Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihiMu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kami. Bukalah hati kami agar mampu mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap seluruh ciptaanMu. Semoga setiap perkataan, tindakan, dan keputusan kami menjadi wujud nyata kasih yang Engkau ajarkan. Amin.”

Doa Lingkungan Santo Petrus: Menumbuhkan Cinta Tanah Air Melalui Kedekatan Hati

Lingkungan Santo Petrus kembali mengadakan doa lingkungan pada Senin, 3 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB, bertempat di rumah Ibu Lely. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 orang umat dan dipimpin oleh Ibu Mulyadi.

Pada kesempatan tersebut, umat bersama-sama merenungkan tema kebangsaan, yaitu “Tanah Air Ada di Sana, di Mana Ada Cinta dan Kedekatan Hati.” Melalui tema ini, umat diajak untuk memahami bahwa mencintai tanah air bukan hanya diwujudkan melalui rasa bangga terhadap bangsa, tetapi juga melalui kepedulian, persaudaraan, dan kasih kepada sesama di lingkungan tempat kita hidup.

Bahan permenungan mengangkat kisah hidup Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mangun. Beliau dikenal sebagai sosok imam yang mengabdikan hidupnya bagi masyarakat kecil dan kaum yang terpinggirkan. Melalui karya dan pelayanannya, Romo Mangun menunjukkan bahwa cinta kepada tanah air diwujudkan dengan menghadirkan harapan, memperjuangkan keadilan, serta membangun kehidupan yang lebih baik bagi sesama.

Dalam sesi sharing, umat diajak merefleksikan bagaimana semangat Romo Mangun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada tanah air dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kerukunan, saling membantu, menghargai perbedaan, serta membangun relasi yang penuh kasih di tengah keluarga maupun lingkungan.

Melalui doa bersama dan permenungan ini, diharapkan seluruh umat Lingkungan Santo Petrus semakin terdorong untuk menjadi pribadi yang tidak hanya mencintai bangsa melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa damai, persaudaraan, dan kepedulian kepada sesama. Semoga semangat kebangsaan yang berlandaskan kasih senantiasa tumbuh dalam hati setiap umat, sehingga Lingkungan Santo Petrus semakin menjadi komunitas yang hidup dalam persatuan, iman, dan cinta kasih.

Pertemuan Lingkungan St. Antonius Padua: Menjadi Tanah yang Subur bagi Sabda Tuhan

Pertemuan Lingkungan St. Antonius Padua yang dilaksanakan pada Kamis, 23 Juli 2026 mulai jam 19.00 WIB di kediaman Bapak Bagus berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan. Mengangkat tema “Menjadi Tanah yang Subur bagi Sabda Tuhan”, pertemuan ini mengajak seluruh umat untuk membuka hati agar Sabda Tuhan tidak hanya didengarkan, tetapi juga dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kasih, sukacita, kesabaran, dan pengampunan. Pertemuan dipandu oleh Bapak Andreas dan dihadiri oleh sekitar 20 umat.

Sebelum memasuki bacaan Injil, umat mengikuti kegiatan reflektif bertajuk “Benih yang Akan Saya Tanam”. Melalui simbol sebuah benih, setiap peserta diajak merenungkan nilai atau sikap baik yang ingin mulai ditumbuhkan dalam hidupnya, seperti kesabaran, rasa syukur, semangat mengampuni, ketekunan berdoa, maupun kepedulian kepada sesama. Benih-benih harapan tersebut kemudian secara simbolis “ditanam” sebagai ungkapan komitmen pribadi untuk bertumbuh bersama Tuhan.

Pendalaman Sabda Tuhan berdasarkan Injil Matius 13:18–23 tentang perumpamaan penabur menegaskan bahwa Tuhan senantiasa menaburkan benih kasih-Nya kepada setiap orang. Namun, pertumbuhan benih tersebut sangat bergantung pada kesiapan hati manusia. Melalui refleksi bersama dan sharing pengalaman hidup, umat diajak mengevaluasi diri: apakah hati mereka telah menjadi tanah yang subur atau masih dipenuhi kekhawatiran, kesibukan, dan luka yang menghambat Sabda Tuhan berbuah. Pertemuan ini mengingatkan bahwa iman bertumbuh bukan hanya saat mengikuti pertemuan lingkungan, tetapi terutama ketika diwujudkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan relasi dengan sesama.

Melalui doa umat, Doa Bapa Kami, dan doa penutup, seluruh umat memohon rahmat agar hati mereka senantiasa menjadi tanah yang subur sehingga mampu menghasilkan buah kasih, damai, pengampunan, dan pelayanan. Pertemuan ditutup dengan berkat Tuhan yang dipimpin oleh Ibu Aniek Prodiakon Lingkungan St. Antonius. Semoga benih-benih kebaikan yang telah ditanam dalam hati setiap umat terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang melimpah, sehingga keluarga-keluarga di Lingkungan St. Antonius semakin menjadi saksi kasih Kristus di tengah Gereja dan masyarakat.

Misa Arwah Mengenang 2 Tahun Berpulangnya Ibu Regina Vanessa Rositawati

Pada hari Kamis, 23 Juli 2026, pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus bersama keluarga besar almarhumah mengadakan Misa Arwah untuk mengenang dua tahun berpulangnya Ibu Regina Vanessa Rositawati. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan dipimpin oleh Romo Fransiskus Aprianus Setu, SVD.

Misa dihadiri sekitar 72 orang umat, yang terdiri dari umat Lingkungan Santo Petrus serta para undangan dari berbagai lingkungan lainnya. Kehadiran umat menjadi wujud nyata kasih, kepedulian, dan kebersamaan dalam mendoakan almarhumah serta memberikan penghiburan dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Dalam homilinya, Romo Fransiskus Aprianus Setu, SVD mengajak seluruh umat untuk senantiasa menaruh harapan kepada Allah yang adalah sumber kehidupan kekal. Melalui perayaan Ekaristi, umat diajak mengenang teladan hidup almarhumah, mensyukuri segala kebaikan yang telah diwariskan semasa hidupnya, serta memperteguh iman akan janji kebangkitan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Suasana misa berlangsung dengan khidmat dan penuh doa. Seluruh umat bersama-sama memanjatkan intensi agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, kesehatan, dan penyertaan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perayaan Misa Arwah ini menjadi momen yang mengingatkan seluruh umat akan pentingnya doa bagi saudara-saudari yang telah berpulang serta mempererat persaudaraan dalam komunitas Gereja. Semoga kasih Allah senantiasa menyertai keluarga almarhumah, dan semoga Ibu Regina Vanessa Rositawati beristirahat dalam damai abadi bersama Bapa di surga.

Sembayangan Rutin Umat Lingkungan St. Gregorius – 16 Juli 2026


Kadisoka, 16 Juli 2026 – Umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam Sembayangan Rutin Kamisan yang dilaksanakan pada Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan doa bersama ini dihadiri oleh 26 umat yang dengan penuh sukacita mengambil bagian dalam persekutuan iman untuk memuji, bersyukur, dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Suasana sembayangan berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Melalui doa, nyanyian, dan permenungan Sabda Tuhan, seluruh umat diajak untuk memperbarui harapan serta semakin mengandalkan penyelenggaraan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup.

Pada kesempatan ini, bacaan pertama diambil dari Yesaya 26:7-9, 12, 16-19, yang mengingatkan bahwa Tuhan adalah sumber damai sejahtera bagi umat-Nya. Di tengah berbagai tantangan kehidupan, umat diajak untuk tetap mencari Tuhan dengan sepenuh hati dan menaruh harapan kepada-Nya, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang setia.

Sementara itu, bacaan Injil diambil dari Matius 11:28-30, di mana Yesus mengundang semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Pesan Injil ini menjadi penghiburan sekaligus penguatan bagi setiap umat agar menyerahkan seluruh beban hidup kepada Kristus, karena kuk yang diberikan-Nya adalah kuk yang membawa damai dan kelegaan.

Melalui permenungan Sabda Tuhan, umat diajak untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan hidup dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. Ketika manusia bersedia berjalan bersama Kristus, setiap beban akan terasa lebih ringan karena Tuhan sendiri menyertai dan memberikan kekuatan.

Semoga melalui sembayangan rutin ini, semangat persaudaraan di Lingkungan St. Gregorius semakin erat, iman umat semakin bertumbuh, serta setiap keluarga senantiasa mengalami damai dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
(Matius 11:28–30)






Untuk Terus melihat Update Kegiatan Lingkungan St. Gregorius, dapat mengikuti social media Lingkungan St. Gregorius di
Instagram : @lingk.st.gregorius
Youtube : @Lingk_St.Gregorius.Kadisoka
Tiktok : @lingk.st.gregorius

Doa Lingkungan Santo Petrus: Merenungkan Makna Kerajaan Allah

Pada hari Kamis, 9 Juli 2026, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan doa lingkungan yang berlangsung pada pukul 19.00 WIB di kediaman Bapak Mulyadi. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 23 umat yang hadir dengan penuh semangat untuk berdoa dan memperdalam iman bersama.

Doa dipimpin oleh Bapak Heri dengan mengangkat tema “Kerajaan Allah”. Melalui bacaan Kitab Suci dan renungan, umat diajak untuk memahami bahwa Kerajaan Allah bukan hanya tentang kehidupan di masa depan, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kasih, kejujuran, kepedulian, dan semangat melayani sesama.

Setelah doa dan pendalaman iman, umat berdiskusi mengenai cara-cara sederhana untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah keluarga, lingkungan, maupun masyarakat. Diskusi berlangsung dengan hangat dan memberikan kesempatan bagi setiap peserta untuk saling berbagi pengalaman serta memperkuat iman.

Kegiatan doa lingkungan ditutup dengan doa penutup dan ramah tamah sederhana yang semakin mempererat persaudaraan antarumat. Melalui pertemuan ini, diharapkan seluruh umat Lingkungan Santo Petrus semakin terdorong untuk menjadi saksi Kristus dengan menghadirkan kasih dan damai Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Sembahyangan Rutin Doa Sengsara Yesus dan Rosario Koronka Umat Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka: 02 Juli 2026

Umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali berkumpul dalam kegiatan sembahyangan rutin yang diselenggarakan pada Kamis malam, 2 Juli 2026. Pertemuan sembayangan ini dihadiri oleh 19 umat lingkungan yang dengan penuh sukacita datang untuk Berdoa Doa Sengsara Yesus dan Rosario Koronka.

Ibadat diawali dengan lagu pembuka dan doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan Doa Sengsara Yesus sebagai ungkapan syukur sekaligus permenungan atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan umat manusia. Suasana doa berlangsung dengan penuh kekhusyukan, mengajak setiap umat untuk semakin menghayati makna pengorbanan, kasih, dan kerahiman Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah itu, umat melanjutkan doa bersama dengan Rosario Koronka, memohon belas kasih Tuhan bagi keluarga-keluarga, Gereja, bangsa, serta seluruh umat yang sedang mengalami kesulitan, sakit, maupun pergumulan hidup. Melalui doa bersama ini, setiap peserta diajak untuk semakin mempercayakan hidup kepada Kerahiman Tuhan yang tidak pernah berkesudahan.

Kegiatan sembahyangan rutin ini menjadi sarana yang sangat berharga untuk mempererat persaudaraan antarumat sekaligus memperkokoh kehidupan iman di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka. Kebersamaan dalam doa menjadi kekuatan yang mempersatukan umat untuk saling mendukung, menguatkan, dan bertumbuh dalam semangat pelayanan.

Semoga melalui kebiasaan berkumpul dalam doa, seluruh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka senantiasa memperoleh rahmat, damai sejahtera, serta semakin bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Mari terus menjaga semangat kebersamaan dan tetap setia menghadiri kegiatan-kegiatan lingkungan sebagai wujud nyata hidup menggereja di tengah masyarakat.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)





Untuk Terus melihat Update Kegiatan Lingkungan St. Gregorius, dapat mengikuti social Lingkungan St. Gregorius di :
Instagram : @lingk.st.gregorius
Youtube : @Lingk_St.Gregorius.Kadisoka
Tiktok : @lingk.st.gregorius


Misa Yang Menguatkan, Kebersamaan Yang Menghangatkan.

Melalui Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama Pastor Paroki, umat diajak untuk kembali percaya bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup, bahkan di tengah badai. Kebersamaan yang berlanjut dalam ramah tamah malam itu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bertumbuh dalam iman.

Bersama, Bahagia, Beriman

Selasa malam, 30 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang hangat bagi kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 62 umat hadir dalam Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Malam itu kami berkumpul di Joglo Prasetyan, atau yang lebih akrab kami sebut Joglo Asisi, di kediaman Bapak Paulus Prasetya. Rasanya memang sudah seperti rumah kedua. Banyak kegiatan lingkungan dilaksanakan di sana, jadi setiap kali berkumpul di Joglo Asisi, rasanya selalu ada suasana yang berbeda.

Bahkan sebelum misa dimulai, suasana sudah terasa hidup. Ada yang sibuk mengatur kursi, ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang mengecek sound system, sementara tim koor latihan sebentar bersama organis muda lingkungan, Mbak Ganes dan Mbak Lauda. Di sisi lain, tentu ada juga yang asyik mengobrol. Begitulah Asisi. Selalu ada yang dikerjakan, tapi selalu ada juga waktu untuk saling menyapa.

Dalam homilinya, Romo mengajak kami merenungkan Injil Matius 8:23–27 tentang Yesus yang meredakan angin ribut.

Di tengah homilinya, Romo bertanya,

“Dalam Perayaan Ekaristi, berapa kali Romo mengucapkan ‘Tuhan bersamamu’?”

Kami mulai menghitung dipandu Romo dan mendapatkan jawabannya, 4 kali.

Lalu Romo melanjutkan lagi,

“Kalau sedang punya masalah atau sedang gundah, biasanya mengadu ke siapa?”

Jawabannya langsung bermacam-macam.

“Status WA, Romo!”

Belum selesai tertawa, ada lagi yang menjawab,

“ChatGPT!” tawa umat kembali pecah

“Yo, ChatGPT” kata Romo sambil tertawa

Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, Romo mengingatkan kami bahwa sering kali kita mencari jawaban ke mana-mana, padahal Tuhan selalu hadir lebih dulu. Kalimat “Tuhan bersamamu” yang kita dengar saat misa ternyata bukan hanya bagian dari liturgi. Itu adalah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, bahkan saat hidup sedang seperti diterpa badai, Tuhan tetap menyertai kita.

Setelah misa selesai, kami tidak langsung pulang.

Seperti biasa, sesi foto bersama wajib hukumnya. Setelah itu kami juga membuat video yel-yel Lingkungan Asisi dan video pendek untuk konten Instagram.

Harapannya sederhana. Kalau malam itu kami pulang dengan hati yang penuh sukacita, semoga sukacita yang sama juga bisa dirasakan oleh umat lain yang melihatnya melalui media sosial.

Lalu terdengarlah yel-yel yang sudah begitu akrab di telinga kami.

“Asisi! Bersama, bahagia, beriman!”

Malam itu rasanya tiga kata itu bukan sekadar yel-yel.

Kami benar-benar bersama, mulai dari mempersiapkan misa, melayani, berdoa, sampai membereskan semuanya bersama-sama.

Kami juga bahagia. Bahagia karena bisa bertemu, bercanda, tertawa, dan menikmati malam tanpa harus terburu-buru pulang.

Dan tentu saja kami pulang dengan iman yang kembali dikuatkan. Jadi rasanya, malam itu yel-yel Asisi benar-benar hidup.

Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah bersama Romo.

Sambil menikmati ronde panas, nasi kucing, sate ayam, tahu bacem, kerupuk, dan camilan sederhana lainnya, sesi tanya jawab dimulai.

Pertanyaannya macam-macam.

Ada yang penasaran makanan favorit Romo.

Ada ibu-ibu yang sekalian memberi kode soal menu caos dhahar.

Ada yang bertanya bagaimana Romo akhirnya memutuskan menjadi seorang Imam. Jawabannya pun membawa kami mendengar kembali cerita perjalanan panggilan beliau sejak muda.

Ibu-ibu lansia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Ada yang bertanya tentang Sakramen Minyak Suci. Ada juga yang bertanya, kalau malam sudah capek dan tidak kuat duduk, apakah boleh berdoa sambil tiduran.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin mewakili bapak-bapak.

“Romo, olahraga apa kok tetap bugar?”

Romo menjawab sambil tersenyum, treadmill minimal 30 menit, ditambah squat dan plank setiap hari.

Belum selesai.

Ada lagi yang bertanya,

“Romo, rahasianya apa kok glowing terus?”

Jawaban Romo singkat.

“Karena rutin misa pagi!”

Lalu Romo juga bercerita bahwa yang bertanya tentang “keglowingan” Romo tidak hanya umat Asisi saja, ternyata Romo sering ditanya pertanyaan yang sama.

Malam itu gelak tawa kembali memenuhi Joglo Asisi.

Obrolan kemudian beralih ke topik yang lebih serius. Ada yang bertanya tentang tantangan kaum muda saat ini.

Menurut Romo, salah satunya adalah budaya FOMO. Anak muda sekarang sering ingin semuanya serba cepat. AI memang sangat membantu, tetapi kalau semua diserahkan pada teknologi, lama-lama kita bisa kehilangan kebiasaan berpikir dan menikmati proses. Romo mengajak kami, terutama kaum muda, untuk tetap mau belajar, bertumbuh, dan tidak takut menjalani proses.

Setelah umat puas bertanya, gantian Romo yang bertanya kepada kami. Beliau ingin mendengar bagaimana komitmen Lingkungan Asisi dalam mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah. Romo menekankan bahwa komitmen harus berdasarkan kesepakatan dan tidak memberatkan umat. Selain itu, Romo juga menjelaskan secara singkat mengenai APBU dan kolekte, sehingga kami semakin memahami bagaimana Gereja dikelola bersama-sama.

Tanpa terasa, es krim sebagai hidangan penutup sudah habis dan jam sudah semakin malam.

Acara ditutup dan kami pun berpamitan.

Pulang malam itu rasanya berbeda.

Perut kenyang.

Hati hangat dan penuh.

Dan iman terasa sedikit lebih kuat daripada saat kami datang.

Mungkin memang itu arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Bukan hanya berkumpul, tetapi pulang membawa sesuatu.

Dan malam itu, kami semua pulang membawa berkat Tuhan.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Untuk mengikuti kegiatan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi Maguwo, follow Instagram kami @cerita.asisi.gmba dengan klik link disini.