Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah stasi Maguwo hari Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 18.00 wib. Doa dipimpin oleh bapak ibu umat lingkungan Antonius, diawali dengan doa Ratu Surga dan diakhiri dengan bacaan BKL hari ke-2. Doa Rosario tadi dihadiri lebih dari 20 orang.
Pertemuan Lingkungan St. Antonius tanggal 30 April 2026 di rumah Bapak Arief S. Diisi dengan latihan koor untuk tugas misa Jumat Pertama dan penyampaian beberapa pengumuman oleh Ketua Lingkungan serta mengobrol santai dan bertukar pikiran antar umat tentang rencana-rencana yang ada di GMBA dan juga Lingkungan Antonius. Latihan koor dihadiri kurang lebih 22 umat.
Pada hari Kamis, 16 April 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti sembahyangan rutin. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi umat untuk memperdalam iman, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan komitmen hidup dalam kebenaran sebagai murid Kristus.
Ibadat dipimpin dengan penuh khidmat, diawali dengan pembukaan dan doa bersama. Dalam kesempatan ini, umat diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan melalui bacaan dari Kisah Para Rasul 5:27-33 dan Injil Yohanes 3:31-36.
Dalam bacaan pertama, para rasul dengan tegas menyatakan bahwa mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, meskipun harus menghadapi ancaman dan risiko. Kesaksian iman ini menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan kebenaran. Sementara itu, dalam bacaan Injil, ditegaskan bahwa siapa yang percaya kepada Anak memiliki hidup yang kekal, dan bahwa kebenaran berasal dari Allah sendiri.
Sebagai pendalaman iman, umat diajak untuk mendengarkan empat kisah reflektif yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai iman dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah pertama tentang Riko, seorang siswa SMA yang memilih untuk tetap jujur saat ujian meskipun memiliki kesempatan untuk menyontek. Keputusannya mengajarkan bahwa kejujuran lebih berharga daripada hasil yang instan.
Kisah kedua tentang Bu Lina, seorang ibu rumah tangga yang mengembalikan uang kembalian yang bukan haknya, meskipun kondisi ekonominya terbatas. Tindakannya menjadi teladan nyata tentang integritas dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.
Kisah ketiga mengenai Pak Arif, seorang staf keuangan yang menolak untuk memanipulasi laporan demi menjaga kejujuran. Keputusannya menunjukkan bahwa kesetiaan pada kebenaran mungkin berisiko, tetapi pada akhirnya membawa kebaikan.
Kisah keempat tentang Pak Markus, seorang pensiunan guru yang memilih jalan damai dalam konflik dengan tetangganya. Ia rela mengalah demi menjaga hubungan dan kedamaian bersama.
Setelah mendengarkan keempat kisah tersebut, umat diajak masuk dalam permenungan yang mendalam. Dari kisah-kisah itu terlihat bahwa setiap tokoh dihadapkan pada pilihan antara yang mudah dan yang benar. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun tidak selalu menguntungkan secara langsung.
Refleksi ini menegaskan bahwa hidup sebagai orang beriman bukanlah tentang mencari kenyamanan, melainkan tentang kesetiaan kepada kehendak Tuhan. Kesetiaan itu sering kali tampak dalam hal-hal kecil: bersikap jujur, berbuat baik tanpa pamrih, mengampuni, dan tetap melakukan kebenaran walaupun tidak mudah.
Pertemuan ini mengingatkan umat bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan kesetiaan. Ia memberikan damai di hati dan kekuatan dalam menjalani hidup. Pada akhirnya, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesetiaan dalam setiap langkah kehidupan.
Sembahyangan ditutup dengan doa bersama, membawa pulang pesan refleksi dalam hati masing-masing. Umat diharapkan mampu menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, umat diajak untuk merenungkan satu pertanyaan penting: Dalam situasi hidup kita hari ini, apakah kita berani memilih yang benar, walaupun tidak mudah?
Lingkungan St. Gabriel kembali menyelenggarakan kegiatan sembahyangan rutin yang dirangkaikan dengan pertemuan PWK pada hari Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Paul dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Umat yang hadir berjumalh 35 orang, terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak.
Ada suasana yang sedikit berbeda dan lebih meriah pada pertemuan kali ini. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, umat yang hadir mengenakan busana tradisional. Ibu-ibu dan anak-anak perempuan tampil anggun dengan kebaya, sementara bapak-bapak mengenakan surjan atau lurik. Nuansa budaya yang kental ini menambah kehangatan dan kebersamaan di antara umat, sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat perjuangan Kartini.
Karena pertemuan ini juga bertepatan dengan agenda PWK, umat diimbau untuk hadir lebih awal. Hal ini dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai kewajiban administrasi, seperti pembayaran iuran caos dahar romo, prolenan, GKH pendidikan, APBU, tabungan PIA, tabungan ziarah, serta arisan. Umat dengan penuh kesadaran menyelesaikan kewajibannya sebelum ibadat dimulai, sehingga saat sembahyangan berlangsung, suasana dapat lebih fokus dan khidmat.
Sembahyangan dipimpin oleh Ibu Nana, Ibu Fifin, dan Aurel. Ibadat berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Umat mengikuti setiap rangkaian doa dan nyanyian dengan baik, menciptakan suasana doa yang mendalam dan menyentuh hati.
Dalam permenungan Injil hari ini, yang diambil dari Yohanes 6:44–51, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan sejati yang berasal dari Allah. Yesus menegaskan bahwa hidup manusia akan mencapai kepenuhannya ketika ia datang kepada Allah dan tinggal dalam kasih-Nya. Sabda ini mengingatkan bahwa relasi dengan Allah bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan sumber kehidupan yang sesungguhnya.
Yesus juga menyampaikan bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya jika tidak ditarik oleh Bapa. Dari sini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa iman yang kita miliki bukanlah semata-mata hasil usaha pribadi, melainkan tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu hadir dalam hidup kita. Sering kali kita merasa bahwa kita yang mencari Allah, namun sesungguhnya Allah-lah yang terlebih dahulu mencari, memanggil, dan menuntun kita.
Kesadaran ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada iman sebagai pengakuan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Iman yang hidup tampak dalam sikap kasih, kepedulian, dan kesetiaan kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu, Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. Melalui Ekaristi, umat diingatkan bahwa Kristus adalah sumber kekuatan yang memberi kita daya untuk terus berjalan dalam iman, harapan, dan kasih di tengah berbagai dinamika kehidupan.
Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian laporan dari masing-masing seksi serta beberapa pengumuman penting yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan ke depan. Suasana kemudian beralih menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Umat menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah, sambil saling bercengkerama dan berbagi cerita.
Kebersamaan semakin terasa hangat ketika umat saling berinteraksi tanpa sekat, mempererat relasi sebagai satu keluarga dalam lingkungan. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, terutama bagi umat yang mungkin jarang bertemu.
Tidak ketinggalan, sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini, umat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto bersama. Busana tradisional yang dikenakan menambah keindahan dokumentasi malam itu, sekaligus menjadi kenangan yang berkesan.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan baik dan penuh sukacita, hingga akhirnya ditutup pada pukul 20.30 WIB. Pertemuan ini tidak hanya menjadi sarana doa bersama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan antarumat.
Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan iman yang telah dibangun dalam pertemuan ini dapat terus tumbuh dan menjadi berkat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa kembali dalam sembahyangan dan pertemuan lingkungan berikutnya.
Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.
Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.
Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.
Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?
Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.
Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.
Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.
Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:
Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?
Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.
Pada hari Kamis, 16 April 2026 pukul 19.00, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan kegiatan doa bersama yang bertempat di rumah Bapak Agus Marjuni. Kegiatan ini dihadiri oleh 14 orang umat yang dengan penuh semangat berkumpul untuk memperdalam iman dan mempererat kebersamaan dalam suasana Paskah.
Doa lingkungan pada malam hari tersebut dipimpin oleh Ibu Mulyadi. Dalam suasana yang khidmat namun penuh sukacita, umat bersama-sama merenungkan tema “Sukacita Paskah: Kebangkitan Kristus Membawa Harapan Baru.” Tema ini mengajak setiap umat untuk menyadari bahwa kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga sumber kekuatan dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui doa, bacaan Kitab Suci, serta sharing singkat, umat diajak untuk semakin percaya bahwa di tengah berbagai tantangan hidup, Tuhan selalu hadir membawa terang dan harapan baru. Kebangkitan Kristus menjadi tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus menguatkan iman umat untuk tetap setia dan penuh harapan.
Kegiatan doa berlangsung dengan lancar dan penuh kekeluargaan. Kebersamaan yang terjalin semakin mempererat hubungan antarumat di Lingkungan Santo Petrus. Di akhir doa, umat juga saling menyapa dan berbagi sukacita, mencerminkan semangat Paskah yang hidup dalam komunitas.
Semoga melalui kegiatan doa lingkungan ini, iman umat semakin bertumbuh dan sukacita Paskah terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap pribadi mampu menjadi pembawa harapan bagi sesama.
Umat Paroki, khususnya dari Lingkungan Santa Monica, dengan penuh iman dan pengharapan akan kebangkitan mengenang wafatnya Ibu Suitbertha Martiwi, yang telah berpulang ke rumah Bapa di surga.
Sebagai ungkapan kasih dan doa, keluarga bersama umat Lingkungan Santa Monica mengadakan peringatan 3 hari pada tanggal 16 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Tiwi, serta peringatan 7 hari pada tanggal 21 April 2026 yang dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek. Seluruh rangkaian ibadat dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB.
Dalam suasana doa yang khusyuk, banyak umat Lingkungan Santa Monica hadir untuk turut mendoakan arwah almarhumah. Kehadiran umat menjadi tanda nyata kebersamaan dan kepedulian dalam persekutuan iman, sekaligus memberikan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Pada peringatan tanggal 16 April 2026, bendahara Lingkungan Santa Monica juga menyerahkan uang prolenan kepada keluarga yang berduka sebagai bentuk tali asih dan solidaritas umat.
Ibadat peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang teladan hidup almarhumah semasa hidupnya—kesederhanaan, kasih kepada sesama, serta kesetiaan dalam iman. Gereja mengajarkan bahwa doa bagi mereka yang telah berpulang merupakan wujud kasih yang terus hidup dalam persekutuan para kudus.
Semoga melalui doa-doa yang dipanjatkan, Ibu Suitbertha Martiwi beristirahat dalam damai, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan serta penghiburan dalam iman akan kehidupan kekal.
“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1)
Pada hari Rabu, 15 April 2026 pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan misa arwah 40 hari untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartijah. Misa ini dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap dan berlangsung dengan khidmat serta penuh doa.
Perayaan Ekaristi dihadiri oleh 23 orang umat dari Lingkungan Santo Petrus yang dengan setia hadir untuk memberikan dukungan doa bagi almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan. Dalam suasana yang tenang dan penuh pengharapan, umat bersama-sama memanjatkan doa agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan.
Dalam homilinya, Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap mengajak umat untuk terus menjaga iman dan pengharapan akan kehidupan kekal. Beliau juga mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru bersama Tuhan.
Misa ini menjadi momen kebersamaan yang menguatkan, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh umat yang hadir. Kehadiran dan partisipasi umat menunjukkan rasa kepedulian serta solidaritas yang erat dalam lingkungan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap yang telah memimpin misa dengan penuh penghayatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh umat Lingkungan Santo Petrus yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan doa dalam mengikuti perayaan ini.
Semoga segala doa yang dipanjatkan membawa ketenangan bagi almarhumah dan menjadi penguatan iman bagi kita semua.
Sukacita Paskah terasa begitu hangat dalam kebersamaan umat Lingkungan Santa Monica yang menggelar ibadah Paskah pada Kamis, 9 April 2026. Bertempat di rumah Bapak Saman, ibadah yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek dan dihadiri oleh umat dalam jumlah yang cukup banyak.
Sejak awal acara, suasana penuh khidmat dan kebersamaan sudah terasa. Meskipun sempat terjadi mati lampu di tengah jalannya ibadah, hal tersebut tidak mengurangi semangat umat dalam mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Dengan sederhana namun penuh makna, ibadah tetap berlangsung lancar hingga selesai. Justru dalam keterbatasan tersebut, kebersamaan dan kekhusyukan umat semakin terasa kuat.
Tingginya jumlah kehadiran umat pada malam itu juga dipengaruhi oleh momen penting, yakni hari terakhir pengumpulan kotak APP sebelum nantinya diserahkan ke tingkat stasi pada minggu berikutnya. Umat dengan penuh kesadaran dan sukacita membawa serta hasil pengorbanan mereka selama masa Prapaskah sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
Setelah ibadah selesai, Ketua Lingkungan, Mas Edo, menyampaikan beberapa pengumuman penting. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa seluruh hasil kolekte selama rangkaian APP dari pertemuan pertama hingga kelima akan disalurkan kepada Panti Asuhan Bakti Luhur Berbah. Rencana penyaluran bantuan ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026.
Adapun total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1.000.000, yang juga mencakup tambahan dari paguyuban ibu-ibu lingkungan. Tidak hanya dalam bentuk dana, umat juga menunjukkan kepedulian melalui donasi berupa beras seberat 25 kilogram. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Ibadah Paskah kali ini tidak hanya menjadi perayaan iman atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi di tengah umat. Dalam kesederhanaan dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica kembali menunjukkan bahwa iman yang hidup senantiasa diwujudkan dalam tindakan kasih yang konkret.
Semoga semangat Paskah yang telah dirayakan ini terus menginspirasi umat untuk hidup dalam terang, harapan, dan kasih di tengah kehidupan sehari-hari.
Kamis, 09 April 2026 , Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan umat Lingkungan St. Maria Immaculata dalam rangka merayakan Paskah tahun ini. Perayaan yang menjadi puncak dari masa Prapaskah ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan momen refleksi mendalam mengenai kemenangan iman atas maut.
Makna Paskah: Dari Kegelapan Menuju Terang
Bagi umat di Lingkungan St. Maria Immaculata, Paskah tahun ini dimaknai sebagai titik balik spiritual. Paskah bukan hanya merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari mati, tetapi juga simbol harapan bagi setiap pribadi untuk bangkit dari kegelapan dosa menuju terang kehidupan yang baru.
“Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Kemenangan Kristus adalah jaminan bahwa kasih selalu lebih kuat dari kebencian, dan hidup lebih berkuasa daripada kematian,” ujar salah satu pengurus lingkungan dalam sambutannya.
Sambutan Hangat untuk Para Baptisan Baru
Sukacita Paskah kali ini terasa kian spesial dengan hadirnya wajah-wajah baru di tengah persekutuan. Lingkungan St. Maria Immaculata dengan penuh sukacita menyambut para warga lingkungan yang telah resmi menerima Sakramen Baptis pada Misa Vigili Paskah kemarin malam. Yakni keluarga Bapak Rafael dan Keluarga Ibu Nita.
Prosesi penyambutan dilakukan dengan sederhana namun penuh makna. Warga lingkungan memberikan ucapan selamat datang sebagai anggota baru dalam keluarga besar Gereja Katolik. Kehadiran mereka dipandang sebagai “semangat iman” yang memperkuat paguyuban di lingkungan tersebut.
“Melihat saudara-saudara kita mengenakan kain putih dan menerima lilin Paskah pada saat saudara kita di Misa Vigili Paskah adalah pengingat bagi kita semua akan janji baptis kita sendiri. Kami sangat bahagia menyambut mereka di rumah ini,” ungkap Bapak Kristiantara selaku Ketua Lingkungan St. Maria Immaculata
Doa dan Harapan: Menjadi Katolik yang Teguh
Sebagai bentuk dukungan spiritual, seluruh umat Lingkungan St. Maria Immaculata memanjatkan doa bersama bagi para baptisan baru. Umat berdoa agar para anggota baru ini yaitu Setia pada panggilannya sebagai murid Kristus di tengah tantangan zaman. Lalu menjadi orang Katolik yang baik, yang mampu memancarkan kasih dalam tindakan sehari-hari, serta diharapkan memiliki iman yang teguh, tidak mudah goyah, dan terus bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus.
Perayaan diakhiri dengan ramah tamah bersama, mempererat tali persaudaraan antarwarga tanpa sekat antara anggota lama maupun yang baru dibaptis. Dengan semangat Paskah, Lingkungan St. Maria Immaculata berkomitmen untuk terus berjalan bersama sebagai saksi-saksi kebangkitan Kristus di tengah masyarakat.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo