Bulan Rosario Umat Katolik: Paus Leo XIV Serukan Doa untuk Perdamaian


Sebentar lagi bulan Oktober sebagai bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia diajak untuk mendoakan butir-butir Rosario secara lebih intens. Doa sederhana yang lahir dari tradisi panjang Gereja ini mengajak umat merenungkan misteri hidup Kristus melalui bimbingan Maria. Paus Leo XIII (1878-1903) di abad ke-19 bahkan menyebut Rosario sebagai “doa yang paling istimewa” dan menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario.

Tahun ini, Bulan Rosario memperoleh makna khusus. Dalam Audiensi Umum pada 24 September 2025, Paus Leo XIV menyerukan agar umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari sepanjang Oktober, dengan intensi khusus memohon perdamaian dunia.

Paus menekankan agar doa ini dilakukan “secara pribadi, dalam keluarga, dan dalam komunitas,” serta mengundang umat di Roma untuk mendoakan Rosario bersama pada 11 Oktober dalam rangka Yubileum Spiritualitas Marian.

Seruan Bapa Suci hadir di tengah dunia yang penuh luka dan ketidakpastian. Kita melihat perang berkepanjangan di beberapa kawasan, konflik identitas, serta meningkatnya ketegangan sosial dan politik. Paus mengingatkan bahwa dunia sedang ditandai “reruntuhan yang diciptakan oleh kebencian pembunuh.”

Dalam situasi ini, Rosario menjadi lebih dari sekadar doa repetitif: ia adalah tindakan iman, perlawanan rohani terhadap logika kebencian, sekaligus kesaksian bahwa kasih Kristus masih menjadi harapan umat manusia.

RosarioDoa Perdamaian

Rosario adalah doa Kristologis yang berakar pada Kitab Suci (Luk 1:28; Luk 1:42). Salam Maria berasal dari Injil Lukas, dan setiap peristiwa yang direnungkan membawa umat masuk ke dalam misteri Kristus—dari kelahiran, karya, wafat hingga kebangkitan-Nya. Ketika doa ini dipanjatkan untuk perdamaian, umat Katolik sesungguhnya sedang menghubungkan penderitaan dunia dengan jalan salib Yesus, sekaligus berharap pada kebangkitan-Nya yang memberi kehidupan baru.

Selain itu, Rosario juga melatih batin: irama doa yang berulang mengundang ketenangan, membentuk kesabaran, dan membuka hati untuk mengampuni. Karena itu, doa Rosario dapat melahirkan spiritualitas perdamaian—sikap hati yang sabar, rendah hati, dan berani menolak kebencian.

Relevansi bagi Indonesia​​​​​​​

Bagi umat Katolik Indonesia, seruan Paus Leo XIV menemukan konteks yang amat nyata. Kita hidup di negeri yang kaya akan keragaman agama, budaya, dan etnis. Keragaman ini adalah berkat, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber konflik bila tidak dihayati dengan benar. DI beberapa lokasi, kita masih menyaksikan gesekan sosial, ujaran kebencian di media sosial, hingga tindak intoleransi yang melukai persaudaraan.

Dalam situasi ini, doa Rosario dapat menjadi sarana rohani untuk memperkuat komitmen pada kerukunan. Rosario yang didaraskan di rumah-rumah keluarga Katolik sesungguhnya adalah benih damai yang bisa memancar keluar. Umat yang tekun berdoa Rosario dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pribadi yang menyejukkan, sabar dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, serta aktif membangun dialog dan solidaritas lintas iman.

Rosario, dengan demikian, tidak berhenti di dalam tembok gereja atau dalam rumah, melainkan menemukan buahnya dalam kehidupan bersama. Setiap doa “Salam Maria” yang diucapkan seharusnya menumbuhkan kerinduan untuk menyapa sesama dengan hormat. Setiap misteri yang direnungkan seharusnya mendorong umat untuk ikut merawat kehidupan bersama di tanah air. Inilah bentuk nyata spiritualitas perdamaian: doa yang diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Spiritualitas Kerukunan​​​​​​​

Kerukunan bangsa tidak hanya ditopang oleh kebijakan negara atau peraturan hukum, tetapi juga oleh spiritualitas yang dihayati masyarakat. Spiritualitas kerukunan berarti kesediaan untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan ancaman.

Dalam konteks Indonesia, ini berarti keberanian untuk membangun jembatan antaragama, mengedepankan musyawarah daripada konflik, serta memperjuangkan keadilan bagi semua warga tanpa diskriminasi.

Rosario, meskipun khas Katolik, dapat menjadi salah satu jalan untuk membentuk spiritualitas kerukunan ini. Umat yang setia mendoakan Rosario akan belajar meneladani Maria yang rendah hati, penuh kasih, dan terbuka pada kehendak Allah. Sikap ini kemudian diterjemahkan dalam hidup sosial: menghormati keyakinan orang lain, memperkuat solidaritas dengan mereka yang lemah, dan menolak segala bentuk kekerasan.

Seruan Profetis​​​​​​​

Ajakan Paus Leo XIV agar umat mendoakan Rosario untuk perdamaian dunia adalah seruan profetis yang melampaui sekat gereja. Dunia haus akan damai, dan Indonesia pun menghadapi tantangan kerukunan yang nyata.

Dengan doa Rosario, umat Katolik tidak hanya memperdalam imannya, tetapi juga mengambil bagian dalam misi besar: menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat majemuk.

Bulan Rosario tahun ini menjadi momentum berharga. Di ruang-ruang keluarga Katolik, di komunitas basis, di paroki-paroki di seluruh Indonesia, doa Rosario yang dipanjatkan akan bersatu dengan doa Paus dan Gereja universal.

Semoga doa ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh melahirkan hati yang lebih damai, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun kerukunan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan perdamaian bagi bangsa.

Akhirnya, doa Rosario di bulan Oktober ini adalah ajakan untuk menyalakan kembali semangat: bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih berdaya daripada balas dendam, dan kerukunan lebih indah daripada perpecahan.

Inilah warisan rohani yang hendak ditumbuhkan oleh Paus Leo XIV: sebuah spiritualitas perdamaian yang dimulai dari butir-butir doa sederhana, tetapi mampu mengubah wajah dunia.

Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten)

“Bersama Bunda Maria, Kita Satukan Doa Rosario”


Memasuki bulan Oktober, Gereja Kudus senantiasa mengajak seluruh umat beriman untuk menimba kekuatan rohani melalui doa Rosario. Dalam semangat itulah, seluruh lingkungan Stasi Maguwo bersatu hati dan serentak melaksanakan doa Rosario, mempersembahkan doa-doa umat beriman bersama Bunda Maria kepada Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus.

Dalam lantunan doa yang sederhana, tetapi penuh kuasa, umat merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang dari kehidupan Kristus. Melalui Rosario, umat diajak memasuki kedalaman misteri keselamatan, sambil meneladani ketaatan dan kerendahan hati Santa Perawan Maria. Doa Rosario menjadi tali emas yang mengikat hati umat agar semakin kokoh dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan berbuah dalam kasih.

Kebersamaan seluruh lingkungan dalam doa Rosario serentak ini adalah tanda nyata kesatuan Gereja Kristus yang hidup di tengah umat. Setiap butir manik-manik yang didaraskan menjadi persembahan doa syukur, permohonan, serta penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam doa ini, umat memohon berkat bagi keluarga, Gereja, bangsa, serta bagi mereka yang menderita, sakit, dan terlupakan.

Kiranya dengan doa Rosario yang dipanjatkan secara serentak ini, Umat Stasi Maguwo semakin diteguhkan sebagai komunitas yang sehati dan sejiwa dalam menghidupi iman. Semoga, berkat doa bersama Bunda Maria, kita semua dipimpin semakin dekat kepada Kristus, Sang Terang Sejati, yang adalah sumber pengharapan dan damai sejahtera.

Tahun Yubileum 2025

Pengertian

Tahun Yubileum 2025 adalah Tahun Suci yang diumumkan oleh Paus Fransiskus untuk Gereja Katolik sedunia. Perayaannya akan berlangsung di Roma dan seluruh dunia mulai 24 Desember 2024 hingga 6 Januari 2026 dengan tema “Peziarah Harapan” (Pilgrims of Hope).

Dalam tradisi Katolik, Yubileum dirayakan setiap 25 tahun sebagai masa rahmat khusus, pertobatan, dan pembaruan iman. Umat diundang untuk:

  1. Berziarah, terutama ke Basilika di Roma atau tempat ziarah lokal.
  2. Mengalami pengampunan dosa secara mendalam (melalui Sakramen Tobat).
  3. Menghidupi harapan Kristen dalam kehidupan sehari-hari, terutama lewat kasih, keadilan, dan solidaritas.

Tahun Yubileum 2025 adalah momen bagi umat Katolik untuk memperbarui iman, meneguhkan harapan, dan menjadi saksi kasih Tuhan di tengah dunia.

Doa Tahun Yubileum

Bapa yang ada di surga,
semoga iman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami
dalam Putra-Mu, Yesus Kristus, saudara kami,
dan nyala api cinta kasih
yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus,
membangkitkan pengharapan yang mulia
akan kedatangan Kerajaan-Mu di dalam diri kami.

Semoga rahmat-Mu mengubah kami
menjadi penabur-penabur yang gigih akan benih- benih Injil
yang menghidupkan umat manusia dan seluruh alam semesta
dalam penantian yang penuh iman
akan surga dan bumi baru,
ketika mengalahkan kekuatan Jahat,
kemuliaan-Mu akan dinyatakan untuk selama- lamanya.

Semoga rahmat Tahun Yubileum ini
menghidupkan kembali dalam diri kami, Peziarah Pengharapan,
kerinduan akan harta surgawi,
dan curahkanlah bagi seluruh dunia,
sukacita dan damai
dari Sang Penebus kami.
Bagi-Mu, ya Allah yang Mahakuasa,
pujian dan kemuliaan sepanjang segala masa.

Amin

Mengenal Maskot Tahun Yubileum 2025

Nama maskot resmi Yubileum 2025 adalah Luce, yang berarti “Cahaya” dalam bahasa Italia. Luce dirancang oleh Simone Legno, pendiri merek budaya pop Italia, tokidoki. Selain Luce, terdapat juga tiga maskot pendamping lainnya, yaitu Fe, Xin, dan Sky, yang bersama-sama melambangkan persatuan umat di seluruh dunia.


Makna dan Simbolisme Maskot:

Luce: Sebagai maskot utama, Luce mewakili peziarah Katolik yang menjadi simbol harapan dan cahaya. Luce mengenakan jas hujan warna kuning.

Fe, Xin, dan Sky:
Keempat maskot (Luce, Fe, Xin, dan Sky) melambangkan peziarah dari empat penjuru dunia, mengenakan sepatu bot kotor dan tongkat untuk menandakan perjalanan menuju tempat-tempat yang terpinggirkan.
Fe mengenakan jas hujan warna merah
Xin mengenakan jas hujan warna hijau
Sky mengenakan jas hujan warna biru

Malaikat (Iubi) juga melambangkan kehadiran Tuhan yang menemani perjalanan setiap orang, dan malaikat pelindung sebagai pendamping sepanjang hidup. Dan anjing (Santino) yang bagi San Rocco (Santo Peziarah) adalah tanda penyelenggaraan Ilahi yang membantunya pada saat yang sangat dibutuhkan, juga melambangkan kesetiaanya pada panggilan Tuhan, anjing juga sebagai simbol persahabatan. Serta terdapat burung merpati (Aura) sebagai simbol Roh Kudus yang melambangkan pendamping perjalanan, kemurnian, pencarian Tuhan, kebebasan, dan pembawa pesan perdamaian.

Desain:
Keempat karakter tersebut, yang dirancang oleh Simone Legno, memiliki jaket berwarna cerah dan dirancang untuk melibatkan kaum muda dalam budaya pop

KRISMA 2025: Dikuatkan dalam Roh, Diutus sebagai Murid


Seluruh umat Paroki Kalasan patut bersukacita sebab pada Sabtu, 6 September 2025, sebanyak 288 umat yang berbahagia telah menerima sakramen penguatan di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Stasi Maguwo. Perayaan Ekaristi di GMBA kali ini memiliki nuansa berbeda karena dilangsungkan Penerimaan Sakramen Penguatan bagi calon penerima Sakramen Krisma dari seluruh wilayah Paroki Kalasan.

Perayaan Penerimaan Sakramen dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko sebagai selebran utama, didampingi oleh Pastor Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. dan Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Ekaristi berlangsung meriah, dihadiri oleh 1.297 umat yang memenuhi bagian dalam hingga luar gereja.

Dalam homilinya, Uskup Mgr. Rubiyatmoko mengajak para umat, khususnya para penerima Sakramen Krisma untuk menghayati kehendak Allah dan membuka diri terhadap karya Roh Kudus. Ia menekankan pentingnya menanggapi panggilan Allah menjadi murid Kristus yang aktif berksaksi dalam kehidupan sehati-hari. Homili berlangsung secara interaktif, dimana Bapak Uskup berdialog langsung dengan para calon serta memberikan cincin rosario kepada mereka yang berani menjawab pertanyaan atau berbagi refleksi iman. Suasana homili yang hangat mencairkan ketegangan dalam diri calon penerima krisma agar lebih mantap dalam menerima Roh Kudus. Selain itu, momen ini turut menjadi ruang pembelajaran iman yang membekas di hati para umat yang hadir.

Rangkaian liturgi Sakramen Penguatan diawali dengan pemberkatan para wali krisma dari masing-masing wilayah agar para wali dapat menjadi teladan dan pendoa yang baik bagi krismawan dan krismawati. Selanjutnya, dilakukan pembaruan janji baptis oleh para calon dan kemudian dilanjutkan dengan pengurapan minyak krisma secara bergantian oleh Bapak Uskup. Meski jumlah penerima sakramen cukup besar, prosesi berlangsung tertib dan lancar. Mgr. Rubiyatmoko mengapresiasi semangat dan kesiapan yang terpancar dari krismawan-krismawati sehingga meski berlangsung cukup lama, menurutnya tidak terasa melelahkan.

Selain itu, misa turut dimeriahkan oleh Cantores GMBA dan Pemusik Muda GMBA (PMG) yang sepenuh hati mempersembahkan lagu-lagu pengiring. Sebanyak 29 lagu dibawakan dengan apik, diiringi alunan kendang, keyboard, violin, hingga flute. Persembahan lagu tersebut merupakan hasil kerja keras sepenuh hati yang dilakukan oleh para petugas guna mendukung suasana yang khusyuk dan meriah. Menurut Bapak Uskup, selain semangat dan kebahagiaan yang terpancar dari krismawan-krismawati, iringan lagu yang indah dan meriah menambah sukacita Perayaan Ekaristi yang tidak terasa panjang meski berlangsung kurang lebih selama 3 jam. Bapak Uskup turut mengapresiasi kelompok pemusik yang bertugas dan berharap dapat menjadi pemantik bagi kaum muda untuk terlibat dalam pelayanan Gereja.

Bravo dan proficiat kepada segenap tim yang telah bekerja bahu-membahu dengan penuh dedikasi, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan Penerimaan Sakramen Penguatan kali ini. Puji dan syukur kepada Allah karena perayaan dapat berlangsung dengan lancar, khusyuk, dan penuh sukacita. Terima kasih setulus hati kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi mendukung kelancaran perayaan ini, termasuk segenap Dewan Pastoral Paroki Maria Marganingsih Kalasan, Dewan Pastoral Stasi Maria Bunda Allah, Panitia, para Katekis, serta petugas liturgi yang telah melayani sepenuh hati mulai dari misdinar, prodiakon, lektor, koor, pemusik, petugas among tamu dari Wilayah Ignasius Loyola yang cekatan dan memukau dengan dresscode pakaian adat Nusantaranya, serta tim tata bunga & tata altar yang telah menghias dengan apik dan cantik. Terima kasih secara mendalam juga kepada seluruh tim KOMSOS, AV & Monitor, Soundsystem GMBA, parkir warga Kampung Karangploso (Parjo), dan tim keamanan (PAMDAL), serta seluruh elemen yang telah membantu, yang bekerja di balik layar dan tidak dapat disebutkan satu persatu.

Perayaan Sakramen Krisma ini merupakan momen penting dalam perjalanan iman umat Paroki Kalasan. Sebagai kepenuhan inisiasi, mari kita rayakan Sakramen Krisma ini sebagai penanda semangat iman dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita telah dikuatkan dan diteguhkan dalam Roh Kudus. Maka mari kita menanggapi panggilan-Nya untuk menjadi murid Kristus yang siap bersaksi di tengah dunia. Amin.

Dokumentasi kegiatan dapat diakses melalui tautan berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1YLp1zVk1pkSZbB509TGl9kpkzGrCX8G_

Kamis Penuh Harap, Sabtu Siap: Triduum III Krisma, Gladi Bersama Menuju Sakramen Penguatan

Sore hari pada Kamis, 4 September 2025 terasa semakin mendebarkan bagi para calon penerima Sakramen Krisma. Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan kali ini menggelar Triduum III sebagai bagian dari seluruh rangkaian persiapan penerimaan Sakramen Penguatan yang akan diterimakan pada Sabtu, 6 September 2025 secara langsung oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Kegiatan ini merupakan momen penting bagi para calon penerima sakramen sebab tidak hanya memperkuat kesiapan batin para calon, melainkan turut memberikan bekal mengenai teknis pelaksanaan penerimaan Sakramen Krisma agar nantinya berjalan dengan lancar.


Dalam suasana hening dan penuh harap, kegiatan dibuka dengan doa bersama. Para calon kembali dikuatkan untuk merenungkan makna sakramen yang akan diterima dan membuka hati untuk menerima karya Roh Kudus dalam hidup mereka. Doa bersama yang dilakukan menjadi ruang kebersamaan spiritual antar calon penerima untuk menguatkan langkah satu sama lain menuju Sabtu penuh rahmat.

Setelah dilakukan doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan gladi bersama yang melibatkan seluruh calon penerima sakramen, tim liturgi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), dan Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Gladi bersama mencakup simulasi tata perayaan sejak prosesi perarakan, pembacaan sabda, hingga momen yang sangat dinanti, yaitu prosesi penerimaan sakramen. Sebagai tuan rumah, tim liturgi GMBA telah bekerja dengan penuh semangat guna memastikan setiap elemen berjalan selaras mendukung momen penting nanti. Keterlibatan calon penerima dalam gladi juga dimaksudkan agar mereka siap baik secara teknis, maupun secara batin karena tidak hanya berlatih, melainkan turut diajak untuk menghayati setiap gerak dan ucapan sebagai bagian dari wujud iman mereka.

Triduum kali ini tidak hanya sebatas tentang persiapan, tetapi bagian dari pembentukan iman. Melalui doa bersama dan gladi bersama yang dilakukan, para calon penerima sakramen diharapkan dapat menyatukan diri secara penuh dalam semangat pelayanan dan penghayatan iman sebagai wujud karya Roh Kudus dalam diri mereka. Mari kita dukung dalam doa agar perayaan Sakramen Krisma dapat berjalan dengan khidmat dan lancar, serta menjadi momen yang hidup dan memperbarui seluruh umat Allah.

Dokumentasi kegiatan Triduum III dapat diakses melalui tautan berikut ini: https://drive.google.com/drive/folders/1H1xJSUtww2zDbTprrIHScbj6zp8pQ0Qc

Menghitung Hari Menuju Sakramen Penguatan: Triduum I, Membuka Hati untuk Tujuh Karunia Roh Kudus

Semakin dekat, hari ini menandai langkah mantap bagi para calon penerima Sakramen Krisma. Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan pada Senin, 1 September 2025 melaksanakan Triduum I yang bertempat di Gereja Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo. Kegiatan tersebut mengawali Triduum menuju penerimaan Sakramen Krisma yang akan dilangsungkan pada Sabtu, 6 September 2025 nanti. Sebagai pemandu, Bapak Felix Sukardi mengajak dan membimbing calon penerima sakramen krisma untuk memohon tujuh karunia Roh Kudus.

Apa itu Triduum?

Kata “Triduum” berasal dari bahasa Latin yang merupakan gabungan dari kata “tri-” yang berarti “tiga” dan “dies” yang berarti “hari”. Secara harfiah, Triduum bermakna “tiga hari” dan dalam konteks Gereja Katolik, Triduum merujuk pada tiga hari menjelang suatu perayaan penting yang dipenuhi dengan persiapan rohani. Pada konteks Sakramen Krisma, Triduum dimaknai sebagai tiga hari persiapan rohani bagi calon penerima sakramen untuk mempersiapkan hati sebelum menerima perutusan sebagai saksi Kristus melalui Sakramen Krisma. Triduum tersebut merupakan masa penting bagi para calon penerima Sakramen Krisma karena membantu para calon penerima sakramen untuk merenungkan makna Sakramen Krisma secara lebih dalam dan memohon bimbangan serta karunia Roh Kudus dalam hati mereka.

Pada Triduum I ini, fokus utama adalah membuka hati para calon penerima Sakramen Krisma dengan mendoakan Doa Mohon Tujuh Karunia Roh Kudus (PS. 93). Sebagai pemandu, Bapak Felix Sukardi mengajak calon penerima sakramen untuk memohon kehadiran Roh Kudus agar menjadi kekuatan dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini. Tujuh Karunia Roh Kudus tersebut yaitu:
1. Roh Kebijaksanaan, agar dapat memandang berbagai hal dengan terang Illahi;
2. Roh Pengertian, dalam memahami kebenaran iman dalam keseharian;
3. Roh Nasihat, untuk membimbing menuju jalan hidup seturut kehendak Allah;
4. Roh Keperkasaan, agar senantiasa teguh dalam iman;
5. Roh Pengenalan akan Allah, supaya kian dekat dengan kemuliaan-Nya;
6. Roh Kesalehan, mohon hidup dalam kasih dan hormat kepada Allah;
7. Roh Takut akan Allah, agar senantiasa tunduk dalam kuasa dan kebesaran Allah.

Kegiatan Triduum I ini berperan penting dalam memantapkan hati para calon penerima sakramen karena Sakramen Krisma tidak sebatas sebagai tahapan dalam kehidupan Gereja Katolik, melainkan sebuah perutusan untuk menjadi Garam dan Terang di dunia.

Menghitung Hari Menuju Sakramen Krisma 2025

Kegiatan menuju Sakramen Krisma telah dimulai sejak Rekoleksi yang dilaksanakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025 di Syantikara Youth Center sebagai momen pembuka pembinaan rohani secara intensif dalam mempersiapkan calon penerima sakramen. Selanjutnya, rangkaian dilanjutkan dengan Penguatan oleh Romo Paroki, yakni Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dan Ujian Tulis pada Minggu, 31 Agustus 2025. Rangkaian Triduum dilaksanakan pada 1-3 September 2025 untuk mempersiapkan batin para calon penerima Sakramen Krisma secara lebih matang. Selain itu, pada Rabu, 3 September 2025 turut dilaksanakan Pembekalan Wali Krisma. Puncaknya, yakni Penerimaan Sakramen Krisma yang dilaksanakan pada Sabtu, 6 September 2025 di GMBA Maguwo.


Seluruh rangkaian menuju penerimaan Sakramen Krisma dirancang untuk membekali calon penerima secara menyeluruh baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual agar siap menerima rahmat karunia besar dalam Sakramen Krisma. Semoga melalui rangkaian tersebut, para calon penerima Sakramen Krisma dapat melangkah dengan mantap sebagai Saksi Kristus yang penuh sukacita dan tanggung jawab. Mari kita turut menyongsong sukacita dan mendoakan para calon penerima Sakramen Krisma agar dapat mengikuti dengan baik dan menjadi garam dan terang dunia, mewartakan kasih Kristus di tengah keluarga, sekolah, lingkungan kerja, maupun masyarakat luas.

Dokumentasi kegiatan Triduum I Krisma 2025 dapat diakses melalui tautan berikut:

https://drive.google.com/drive/folders/1uNw2IZgCYmSK4NWIWsU9p0Bh2GMt2Uef

https://www.instagram.com/p/DOD8nvkkTmS/?img_index=9&igsh=bGc1Ymc3bXljOWE0

Sembahyangan dan Pemilihan Ketua Lingkungan St Antonius Periode 2026-2028

Sembahyangan dan pemilihan ketua lingkungan St Antonius periode 2026-2028, hari Kamis 28 Agustus 2025 di rumah klg. Bpk. Yani Ismono dan dihadiri oleh 21 orang. Pertemuan dimulai dg sembahyangan yg dipimpin oleh ibu Lia Wiwid, dilanjutkan pemilihan kaling dg cara menuliskan nama salah satu kandidat (bpk. Indarto, bpk. Larno, bpk. Satria) di secarik kertas.

 

 

Stlh kertas dikumpulkan, dibacakan satu persatu dan diperoleh hasil bpk. Indarto memperoleh 18 suara dan bpk. Larno 3 suara. Dg demikian diputuskan bhw kaling St. Antonius periode 2026-2028 adlh bpk. INDARTO dan sbg wakaling adlh bpk. LARNO. Pertemuan dimulai pkl. 19.30 wib dan berakhir pkl. 20.30 wib.

Persiapan Krisma 2025 di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Minggu, 31 Agustus 2025 menjadi momentum penting bagi para calon penerima Sakramen Krisma di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Sebagai bagian dari perjalanan rohani, mereka mengikuti rangkaian kegiatan pembekalan yang menguatkan iman sekaligus memantapkan hati untuk menerima kepenuhan rahmat Roh Kudus.

Agenda pertama adalah Peneguhan oleh Romo Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan Pr, yang berlangsung pukul 10.00 – 11.30 WIB. Dalam suasana penuh doa dan keheningan, Romo menyapa para calon krismawan dan krismawati dengan kata-kata penguatan. Romo menegaskan kembali makna mendalam Sakramen Krisma, yakni anugerah Roh Kudus yang meneguhkan iman dan mengutus setiap orang untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Melalui pengajaran, doa, dan berkat, para calon Krisma diteguhkan agar semakin siap membuka hati bagi karya Roh Kudus yang hidup dan berkarya.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Ujian Tulis pada pukul 11.30 – 12.30 WIB. Ujian ini bukan sekadar evaluasi pengetahuan, melainkan juga kesempatan bagi para calon Krisma untuk merefleksikan pemahaman iman Katolik, ajaran Gereja, serta komitmen mereka dalam menghayati kehidupan Kristiani. Dengan demikian, mereka tidak hanya diperlengkapi secara intelektual, tetapi juga ditantang untuk menghidupi imannya dalam keseharian.

Melalui kedua agenda ini, para calon Krisma diajak untuk semakin menyadari bahwa penerimaan Sakramen Krisma bukan hanya sebuah ritual seremonial, melainkan sebuah panggilan untuk bertumbuh dewasa dalam iman, hidup dalam kasih, dan mewartakan Injil Kristus dengan kata serta perbuatan. Semoga Roh Kudus yang akan mereka terima kelak menjadi sumber kekuatan, peneguhan, dan sukacita dalam perjalanan hidup mereka sebagai bagian dari Gereja.

Bakti Liturgi JBS Joanes Bosco School di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Pada hari Minggu, 31 Agustus 2025, Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo mendapat berkat istimewa melalui pelayanan bakti liturgi dari Joanes Bosco School (JBS). Dalam perayaan Ekaristi pagi ini, para siswa bersama para pendidik mempersembahkan talenta terbaik mereka untuk memuliakan Tuhan dan mendukung umat dalam doa serta pujian.

Koor yang dipimpin oleh Ibu Maria Verawati Alvares mengalun indah, mengangkat hati umat untuk semakin menghayati misteri Ekaristi Kudus. Suara nyanyian yang jernih dan penuh semangat iman berpadu dengan iringan musik ansambel yang dibimbing oleh Miss Desy, menghadirkan harmoni yang syahdu dan mendalam. Liturgi menjadi semakin hidup, khidmat, dan membawa umat masuk dalam suasana doa yang lebih dekat dengan Sang Sabda dan Tubuh Kristus.

Kehadiran JBS dalam bakti liturgi ini bukan hanya sebuah persembahan musik, melainkan juga ungkapan syukur dan kesaksian iman. Melalui nyanyian dan lantunan nada, mereka mewartakan kasih Allah serta mengajak umat untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.

Semoga semangat pelayanan dari keluarga besar Joanes Bosco School ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus mengabdikan talenta dan karya kita demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan Gereja-Nya.


Kunjungan Tim Pelayanan PIUL Stasi Maguwo kepada Lansia Lingkungan St. Fransiskus Asisi


Hari ini, 30 Agustus 2025, Tim Pelayanan PIUL Stasi Maguwo kembali melaksanakan kunjungan kasih kepada para lansia. Kegiatan ini menjadi wujud nyata perhatian, kepedulian, sekaligus ungkapan syukur atas kehadiran para lansia yang telah menapaki perjalanan panjang dalam iman dan menjadi teladan bagi generasi penerus.

Dalam kesempatan tersebut, tim bersama dr. Dysi — seorang dokter sekaligus anggota OMK Stasi Maguwo — menyambangi:

  1. Bapak FX. Radjio (81 tahun) beserta istri tercinta, Ibu Th. M. Tri Nusaningsih.
  2. Ibu Henrica Soeratmi (91 tahun), yang meski telah lanjut usia tetap setia dan bersemangat dalam kehidupan beriman.

Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tercipta sejak awal kunjungan. Para lansia yang ditemui tampak begitu gembira dan bersyukur atas perhatian yang diberikan. Bahkan, suasana menjadi haru ketika dr. Dysi berbincang penuh kelembutan dengan Ibu Soeratmi, yang menyambutnya dengan wajah berseri dan hati penuh rasa syukur.

Kegiatan ini terlaksana berkat pendampingan langsung dari Bapak Franz Sarjiana selaku Koordinator Tim PIUL Stasi Maguwo. Hadir pula Bapak Sudiharto yang dengan telaten membantu pengecekan kesehatan para lansia, Ibu Munarti yang memimpin Doa untuk lansia,ibu Sudiharto dan Bpk/Ibu Rusdiyanto selaku Pendamping Keluarga Lingkungan St Fransiskus Asisi, serta Bapak Jondith, Ketua Lingkungan St. Fransiskus Asisi, yang turut serta menemani dan menyemangati para lansia di lingkungannya.

Bagi kami, kunjungan ini bukan sekadar agenda pelayanan, melainkan kesempatan untuk merajut persaudaraan, meneguhkan iman, sekaligus belajar dari ketabahan dan kesetiaan para lansia. Mereka adalah pilar doa dan sumber inspirasi bagi seluruh umat.

Semoga melalui perhatian sederhana namun tulus ini, para lansia semakin merasakan kasih Tuhan yang nyata, dan semoga semangat pelayanan Tim PIUL Stasi Maguwo terus berkembang demi mendampingi para lansia dengan penuh cinta.