Menyatukan Suara dalam Pelayanan: Umat YP Latihan Koor Persiapan Jumat Pertama

Kamis, 26 Februari 2026 pukul 20.00 WIB, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan latihan koor sebagai persiapan tugas pelayanan pada Misa Jumat Pertama yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2026.

Sebanyak 27 umat ambil bagian dalam latihan ini, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi tersebut menunjukkan semangat pelayanan yang hidup dalam Lingkungan Yohanes Pembaptis, di mana setiap umat mengambil bagian sesuai talenta yang dimiliki.

Latihan koor dilaksanakan dalam suasana penuh kebersamaan. Lagu demi lagu dilatih dengan tekun, menyatukan nada, irama, dan penghayatan agar pujian yang dipersembahkan nantinya dapat membantu umat semakin khusyuk dalam perayaan Ekaristi. Tidak hanya melatih teknik bernyanyi, latihan ini juga menjadi sarana membangun kekompakan dan mempererat relasi antarumat.

Meski dilakukan setelah rangkaian kegiatan lingkungan sebelumnya, semangat peserta tetap terasa hangat. Tawa ringan, saling mendukung, serta kesediaan untuk terus belajar bersama menjadi warna tersendiri dalam latihan malam itu.

Melalui persiapan ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis berharap dapat memberikan pelayanan terbaik dalam Misa Jumat Pertama nanti. Pujian yang dipersembahkan bukan sekadar nyanyian, melainkan ungkapan iman dan syukur kepada Tuhan.

Mengenal dan Menghidupi Solidaritas: Pertemuan APP Kedua Lingkungan Yohanes Pembaptis

Kamis, 26 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis kembali melaksanakan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang kedua. Sebanyak 27 umat hadir, mulai dari OMK, bapak-ibu, hingga para lansia, menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjalani masa APP tahun ini.

Pertemuan kali ini mengangkat tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.” Melalui tema tersebut, umat diajak semakin memahami bagaimana Gereja menghidupi solidaritas melalui pengelolaan dana sosial.

Dalam sesi pendalaman, umat merefleksikan bacaan dari Kisah Para Rasul 4:32–37. Bacaan tersebut menggambarkan kehidupan Jemaat Perdana yang hidup dalam semangat kebersamaan, di mana harta milik tidak hanya dipandang sebagai milik pribadi, tetapi memiliki dimensi sosial demi kesejahteraan bersama. Semangat solidaritas dan kesetiakawanan membuat tidak ada satu pun anggota jemaat yang berkekurangan.

Sosok Barnabas menjadi contoh nyata pribadi yang menghidupi jiwa sosial. Ia dengan sukarela berbagi dan menghadirkan sukacita bagi komunitas. Teladan ini mengajak umat untuk melihat bahwa kualitas iman juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Selanjutnya, umat diajak mengenal berbagai Dana Sosial Gereja yang dihimpun dari umat dan dikelola secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional melalui KWI, tingkat Keuskupan dan Kevikepan, hingga Paroki. Dana sosial tersebut memiliki fungsi yang beragam, baik untuk mendukung kehidupan internal Gereja, seperti Dana Solidaritas antar Paroki (DSP), maupun untuk membantu mereka yang membutuhkan, khususnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD).

Melalui sesi diskusi, umat diajak merefleksikan kesan mereka terhadap keberadaan dana sosial Gereja serta menyadari bahwa masih banyak umat yang belum memahami secara utuh fungsi dana sosial, termasuk APP. Diskusi ini menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya keterlibatan umat, tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pelaku yang aktif mendukung perkembangan Gereja.

Pertemuan APP kedua ini menjadi kesempatan bagi umat untuk semakin memahami bahwa solidaritas Gereja bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang hidup dari partisipasi umat. Diharapkan, melalui pemahaman ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis semakin tergerak untuk ambil bagian dalam mendukung pelayanan Gereja dan membantu sesama yang membutuhkan.

Doa yang Mengikat, Kasih yang Menguatkan

-APP 1- Paguyuban-Valentine Lingkungan St. Elisabeth-

Kamis, 26 Februari 2026. Senja berganti malam dengan cuaca yang begitu bersahabat. Di kediaman Ibu Asih, umat lingkungan berkumpul dalam suasana penuh syukur. Puji Tuhan, sebanyak 36 umat hadir mengikuti sembayangan lingkungan malam itu.

Pertemuan APP ke-1 dipimpin oleh Pak Agus dan Mbak Tika. Kegiatan diawali dengan lagu “Di Jenjang Maaf” yang mengalun lembut, membawa setiap hati masuk dalam suasana refleksi, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Tema APP ke-1 kali ini adalah “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawal Aksi.” Dalam pertemuan ini, umat diajak melihat secara nyata kondisi lingkungan—baik tantangan yang dihadapi maupun potensi yang dapat dikembangkan. Umat juga diajak menyadari pentingnya data sebagai dasar perencanaan, agar setiap gerakan dan aksi yang dilakukan sungguh tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dinamika pertemuan terasa hidup. Pemandu membuka ruang sharing tentang kondisi pribadi dan kehidupan sehari-hari. Satu per satu umat berbagi dengan tulus. Setiap tanggapan disambut dengan sukacita, menciptakan suasana hangat yang penuh empati dan persaudaraan.

Usai pertemuan APP, dilaksanakan edaran kolekte untuk mendukung aksi Paskah lingkungan, sebagai wujud nyata solidaritas dan kepedulian bersama.

Momen penuh makna juga hadir dalam pemberian tanda kasih kepada Pak Agus, Bu Agus, dan Michael yang diwakili oleh Pak Suradi, atas penerimaan Sakramen Krisma. Ungkapan syukur dan doa mengiringi perjalanan iman yang semakin diteguhkan.

Karena masih dalam suasana Valentine, kebersamaan malam itu semakin semarak dengan kegiatan tukar kado. Umat kompak mengenakan pakaian serba pink, menambah warna dan keceriaan. Tukar kado berlangsung seru, penuh tawa dan kejutan.

Tidak berhenti di situ, kebersamaan dilanjutkan dengan kegiatan paguyuban seperti arisan dan lotre sederhana. Meski hadiahnya sederhana, kebahagiaan yang terpancar begitu nyata. Tawa dan sorak gembira memenuhi ruangan saat nama-nama pemenang diumumkan.

Malam itu bukan sekadar pertemuan, tetapi perayaan kebersamaan. Semoga Lingkungan Santa Elisabeth semakin romantis dalam kasih, semakin hidup dalam pelayanan, dan semakin guyub dalam persaudaraan. (*Vera)

Link Instagram : https://www.instagram.com/p/DVXzpU4Dw4u/

PERAYAAN EKARISTI PERINGATAN 1000 HARI BERPULANGNYA BPK. ANDREAS SUYANTO

Pada Hari Minggu, 8 Februari 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Perayaan Ekaristi untuk memperingati berpulangnya Bapak Andreas Suyanto, Bapak dari Bapak Mikko Prihantoro Nugroho. Ibadat Ekaristi dimulai pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh 100 umat lebih. Umat terdiri dari umat lingkungan St. Elisabeth dan para tamu undangan. Misa Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Dalam Ekaristi kali ini, Romo Dadang menekankan tentang Tuhan yang Sungguh Hadir.

Dalam bacaan pertama, Kitab 1 Raja-raja 8:1–7, 9–13, diceritakan bagaimana Raja Salomo memindahkan Tabut Perjanjian ke dalam Bait Suci. Ketika para imam keluar dari tempat kudus, awan memenuhi rumah Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu nyata sampai para imam tidak tahan berdiri untuk melayani. Itu tanda bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah umat-Nya.

Menariknya, yang ada di dalam Tabut hanya dua loh batu, tanda perjanjian Tuhan dengan umat-Nya. Artinya, bukan kemegahan bangunan yang membuat Tuhan hadir, tetapi kesetiaan-Nya pada janji dan relasi dengan umat.

Dalam bacaan Injil, pada Injil Markus 6:53–56, kita melihat kehadiran Tuhan dalam diri Yesus Kristus. Ke mana pun Yesus pergi, orang-orang membawa yang sakit kepada-Nya. Bahkan yang hanya menyentuh jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Tidak ada awan atau gemuruh, tetapi hadirat Tuhan sungguh nyata lewat sentuhan, belas kasih, dan pemulihan.

Dari dua bacaan ini kita belajar:

Tuhan hadir dalam kemuliaan-Nya yang agung.

Tuhan juga hadir dalam kelembutan dan kasih-Nya yang menyembuhkan.

Tuhan tidak jauh, Dia hadir ketika kita membuka hati.

Hari ini, Tuhan tidak lagi hadir dalam awan di atas Tabut, tetapi dalam hati kita yang menjadi bait-Nya. Saat kita berdoa dengan tulus, saat kita percaya dan datang kepada-Nya, hadirat-Nya nyata.

Pada bacaan ini, kita merenungkan bahwa orang yang meninggal tidak benar-benar tiada. Dia masih hadir meski dalam wujud yang berbeda. Bagi kita yang ditinggalkan, tidak perlu bersedih, tidak perlu berduka yang berlarut-larut, cukup kita doakan dengan tulus, maka mereka akan tetap hadir di hati kita masing-masing, dan kita harus tetap melanjutkan misi dari Tuhan dalam perziarahan hidup kita.  

Semoga Bapak Andreas Suyanto beristirahat dalam damai abadi di surga, berada di sisi Bapa bersama para kudusNya, dan memperoleh kebahagiaan kekal. Serta kita yang masih berziarah di bumi ini bisa melanjutkan karya Tuhan dan memberi yang terbaik dari diri kita untuk kebaikan sesama dan lingkungan.

Pertemuan APP 2 dan PWK Lingkungan St. Gabriel: Memahami dan Mengawal Dana Sosial Gereja

Kamis, 26 Februari, Lingkungan St. Gabriel menyelenggarakan Pertemuan APP 2 yang dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan PWK. Kegiatan bertempat di rumah keluarga Bapak Candra dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Pertemuan ini dihadiri oleh 33 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.

Sehubungan dengan pelaksanaan APP yang berbarengan dengan kegiatan PWK, umat hadir lebih awal untuk memenuhi kewajiban pembayaran iuran, antara lain iuran prolenan, caos dahar romo, GKH Pendidikan, APBU, PIA, serta arisan. Setelah seluruh proses pembayaran selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Pertemuan APP 2.

Pertemuan dipimpin oleh Ibu Maria Suprapti, Ibu Ana, dan Ibu Watik dengan mengangkat tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.” Dalam pemaparan materi dijelaskan secara rinci mengenai dana sosial yang dikelola pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat paroki, kevikepan, keuskupan, hingga tingkat nasional (KWI). Penjelasan mencakup nama dana, sumber perolehan dana, serta peruntukan dan sasaran penggunaannya. Seluruh materi disampaikan secara jelas dan transparan.

Adapun tujuan pertemuan ini adalah agar umat semakin memahami potensi dana sosial paroki serta terdorong untuk ikut mengawal pemanfaatannya sehingga sungguh-sungguh tepat sasaran bagi mereka yang membutuhkan. Gereja mengelola dana sosial untuk disalurkan secara bertanggung jawab demi kesejahteraan KLMTD.

Selain itu, ditegaskan bahwa dana sosial memiliki sifat “siap habis” secara bertanggung jawab, artinya dana tersebut tidak untuk ditimbun, melainkan segera dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang ada. Dana sosial juga bersifat inklusif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan terbuka bagi siapa pun yang membutuhkan, termasuk saudara-saudari yang berbeda agama.

Dalam sesi sharing, umat menyampaikan bahwa melalui pemaparan tersebut mereka menjadi lebih memahami fungsi dan peruntukan dana sosial Gereja. Umat menyadari bahwa setiap persembahan yang diberikan kepada Gereja pada hakikatnya juga diperuntukkan bagi sesama yang membutuhkan. Oleh karena itu, umat diharapkan senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam setiap program Gereja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.

Setelah Pertemuan APP 2 berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan agenda PWK. Dalam sesi ini disampaikan laporan dari masing-masing seksi serta berbagai pengumuman penting yang perlu diketahui oleh seluruh umat. Penyampaian laporan dan informasi berlangsung dengan tertib dan penuh perhatian dari para peserta yang hadir. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilaksanakan ramah tamah bersama dengan menikmati hidangan makan malam yang telah disediakan oleh tuan rumah. Suasana kebersamaan terjalin dengan hangat dan penuh kekeluargaan. Seluruh rangkaian acara pada malam hari itu selesai pada pukul 21.00 WIB.

Pelayanan Menemani dan Antar Jemput Romo Minggu 8 Februari 2026 – Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Pelayanan dalam Gereja memiliki banyak wajah. Ada yang terlihat di altar, ada pula yang berlangsung dalam kesederhanaan dan kebersamaan. Salah satu bentuk pelayanan yang dijalankan oleh Lingkungan St. Gregorius Kadisoka adalah tugas menemani serta antar jemput Romo yang bertugas memimpin perayaan Ekaristi.

Mungkin bagi sebagian orang, tugas ini terlihat sederhana dan tidak menonjol. Setelah misa selesai dan umat kembali ke rumah masing-masing, pelayanan justru masih berlanjut. Mengantar Romo, memastikan beliau tiba dengan aman, serta menemani dalam kebersamaan setelah perayaan menjadi bagian dari tanggung jawab yang dijalankan dengan penuh sukacita.

Namun di balik kesederhanaannya, kami justru merasakan keindahan pelayanan yang sangat mendalam. Saat menemani Romo makan bersama, terjalin suasana kekeluargaan yang hangat. Dalam percakapan santai, kami dapat mendengarkan cerita-cerita umat, pengalaman pelayanan, kisah panggilan, hingga refleksi rohani yang memperkaya iman. Tidak jarang pula suasana dipenuhi dengan senda gurau yang mencairkan kelelahan setelah misa.

Momen-momen seperti inilah yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi sungguh menguatkan dan membangun. Kami belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang tugas formal, melainkan tentang hadir secara utuh—mendampingi, mendengarkan, dan berbagi hidup. Dalam kebersamaan itu, tumbuh rasa persaudaraan yang tulus antara imam dan umat.

Lingkungan St. Gregorius Kadisoka bersyukur boleh mengambil bagian dalam pelayanan ini. Kami menyadari bahwa setiap kesempatan untuk melayani adalah anugerah. Lewat tugas sederhana ini, kami belajar tentang kerendahan hati, perhatian, dan sukacita dalam memberi diri.

Semoga semangat kebersamaan ini terus terpelihara, dan setiap langkah kecil pelayanan yang kami lakukan menjadi persembahan kasih bagi Tuhan dan Gereja-Nya.

Tuhan memberkati setiap niat baik dan kebersamaan kita.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DUe983kD40o/?igsh=NDBtZTd3Z2t2Ym10
Youtube : https://youtube.com/shorts/I6Izvk-KnN8?si=dcYHOxTR4ZPyGBew
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSmtdxEfR/

Tugas Jaga Parkir Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Misa Rabu Abu – Selasa, 17 Februari 2026

di Gereja Maria Bunda Allah

Misa Rabu Abu pada Selasa, 17 Februari 2026 menjadi awal perjalanan umat memasuki Masa Prapaskah. Pada perayaan yang penuh makna tersebut, Lingkungan St. Gregorius Kadisoka mendapat kesempatan untuk ambil bagian dalam pelayanan melalui tugas jaga parkir di area Gereja Maria Bunda Allah.

Sejak sebelum misa dimulai, para petugas parkir dari lingkungan sudah bersiap di area halaman gereja. Dengan penuh tanggung jawab dan semangat melayani, mereka membantu mengarahkan kendaraan umat agar tertata rapi, aman, dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Kehadiran mereka memberi rasa nyaman bagi umat yang datang untuk beribadah, sehingga dapat mengikuti perayaan Ekaristi dengan tenang dan khusyuk.

Pelayanan ini mengingatkan kita bahwa melayani tidak harus selalu terlihat di altar. Tidak semua pelayanan berlangsung di depan umat, tetapi setiap tugas, sekecil apa pun, memiliki makna yang sama berharganya di hadapan Tuhan. Melalui penataan kendaraan umat, menjaga keamanan, serta memastikan keteraturan, para petugas parkir telah mengambil bagian dalam karya pelayanan Gereja.

Semangat inilah yang menjadi inti Masa Prapaskah: kerendahan hati, pengorbanan, dan kesediaan untuk memberi diri. Dalam kesederhanaan tugas jaga parkir, terpancar nilai kebersamaan dan gotong royong. Setiap arahan yang diberikan, setiap kendaraan yang ditata, menjadi bentuk nyata kasih dan tanggung jawab terhadap sesama.

Lingkungan St. Gregorius Kadisoka patut bersyukur atas kekompakan dan kesediaan umat yang terlibat. Semoga semangat pelayanan ini terus tumbuh, tidak hanya saat mendapat jadwal tugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari—di keluarga, di lingkungan, maupun di tengah masyarakat.

Karena sesungguhnya, pelayanan bukan soal terlihat atau tidak terlihat, melainkan tentang hati yang mau memberi diri dengan tulus.

Tuhan memberkati setiap langkah pelayanan kita.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DU3S801jxpT/?igsh=Y3NmcHR1ZXgyZWtx
Youtube : https://youtube.com/shorts/G0bXZVlSG9g?feature=shared
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSmtJCB9S/

Penyerahan Dua Lukisan Karya Salah satu Umat Link. Gregorius Kadisoka untuk Pembangunan Gereja Maria Bunda Allah

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Sebuah wujud nyata kepedulian dan cinta terhadap Gereja kembali ditunjukkan oleh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka. Pada kesempatan yang penuh sukacita, Mbak Anik, salah satu umat lingkungan, menyerahkan dua lukisan karyanya kepada Panitia Pembangunan Gereja Gereja Maria Bunda Allah.

Penyerahan ini menjadi momen yang istimewa, bukan hanya karena nilai seni yang terkandung di dalamnya, tetapi terlebih karena semangat iman dan ketulusan hati yang melatarbelakanginya. Kedua lukisan tersebut merupakan hasil karya pribadi yang dipersembahkan sepenuhnya sebagai bentuk dukungan terhadap proses pembangunan gereja yang sedang berjalan.

Dalam kesempatan yang sama, kedua lukisan tersebut secara khusus diberkati oleh Romo Adrianus Maradiyo PR. Pemberkatan ini menjadi tanda penyerahan karya dan niat baik kepada Tuhan, sekaligus ungkapan syukur atas talenta yang boleh dipakai untuk kemuliaan-Nya. Suasana doa dan harapan mengiringi momen pemberkatan tersebut, memohon agar setiap proses selanjutnya berjalan lancar dan membawa berkat bagi banyak orang.

Rencananya, kedua lukisan ini akan dilelang, dan seluruh hasil lelang—100% tanpa potongan—akan disumbangkan sepenuhnya untuk pembangunan Gereja Maria Bunda Allah. Langkah ini menjadi inspirasi bahwa dukungan terhadap karya Gereja dapat diwujudkan dalam berbagai cara, sesuai dengan talenta dan kemampuan masing-masing.

Apa yang dilakukan Mbak Anik mengingatkan kita bahwa pembangunan Gereja bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga tentang semangat kebersamaan, gotong royong, dan partisipasi umat. Dari karya seni lahir gerakan kasih; dari talenta pribadi tumbuh berkat bagi komunitas yang lebih luas.

Semoga inisiatif ini menggerakkan hati semakin banyak umat untuk ambil bagian, baik melalui doa, tenaga, pikiran, maupun dukungan materi, demi terwujudnya Gereja Maria Bunda Allah sebagai rumah bersama yang kokoh, indah, dan penuh berkat.

Tuhan memberkati setiap niat baik dan setiap tangan yang terlibat dalam karya pembangunan ini.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DUw-yhlj_Uz/?igsh=ODI0MjZveThraHQ4
Youtube : https://youtube.com/shorts/cVKuu3yJcN4?feature=shared
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSmGosUA1/

Pertemuan APP Pertama Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Pertemuan APP Pertama Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Kamis, 26 Februari 2026

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali memulai rangkaian Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang pertama pada hari Kamis, 26 Februari 2026. Pertemuan ini menjadi momen awal bagi umat untuk bersama-sama memasuki masa tobat dengan hati yang terbuka, penuh refleksi, dan semangat pembaruan diri.

APP bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, tetapi merupakan kesempatan istimewa bagi setiap pribadi untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama. Dalam suasana doa yang khusyuk, umat diajak untuk merenungkan tema APP tahun ini, mendengarkan Sabda Tuhan, berbagi pengalaman hidup, serta saling meneguhkan dalam perjalanan iman.

Pertemuan berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kehangatan. Umat yang hadir mengikuti rangkaian ibadat, pendalaman materi, serta diskusi kelompok dengan antusias. Setiap sharing yang disampaikan menjadi pengingat bahwa panggilan untuk bertobat dan berbuat kasih bukan hanya wacana, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pertemuan APP pertama ini, seluruh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka diharapkan tidak hanya berhenti pada doa dan pertemuan semata. Semangat APP harus dinyatakan dalam aksi nyata: membantu sesama yang membutuhkan, memperhatikan tetangga yang sedang mengalami kesulitan, terlibat dalam kegiatan sosial lingkungan, serta membangun kepedulian yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata. APP menjadi sarana pembinaan iman yang mendorong perubahan sikap, pertobatan hati, dan tindakan kasih yang sederhana namun bermakna. Dari lingkungan kecil inilah, kebaikan dapat bertumbuh dan membawa dampak yang lebih luas.

Semoga melalui rangkaian Pertemuan APP ini, Lingkungan St. Gregorius Kadisoka semakin solid dalam persaudaraan, semakin peka terhadap kebutuhan sesama, dan semakin berani mewujudkan iman dalam tindakan nyata.

Tuhan memberkati setiap niat baik dan langkah pelayanan kita.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DVOeviqD2ZU/?igsh=MTd4a3Rma3dzaTJ6Nw==
Youtube : https://youtu.be/D0Xa-1oqnf0?feature=shared
Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSmG37rCW/

Doa APP III Lingkungan Santo Petrus

Pada hari Kamis, 26 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan Doa APP III di rumah Bapak Supangat. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 orang umat yang dengan penuh semangat berkumpul untuk berdoa dan mendalami Sabda Tuhan bersama.

Tema yang diangkat dalam pertemuan kali ini adalah “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Bacaan Injil yang direnungkan diambil dari Injil Lukas 16:19-31 tentang Orang Kaya dan Lazarus yang miskin. Dalam kisah tersebut, Injil Lukas menggambarkan bagaimana seorang kaya hidup dalam kemewahan, sementara Lazarus yang miskin terbaring di depan pintunya tanpa mendapat perhatian. Kisah ini menjadi pengingat kuat agar kita tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Dalam sesi sharing dan diskusi, umat diajak merenungkan pertanyaan: Masih adakah “Lazarus-Lazarus” di sekitar kita? Umat menyadari bahwa sosok “Lazarus” bisa hadir dalam berbagai bentuk — tetangga yang kesulitan ekonomi, lansia yang hidup sendiri, keluarga yang sakit, atau mereka yang membutuhkan perhatian dan dukungan moral.

Pertanyaan berikutnya yang didiskusikan adalah sumber daya apa yang dimiliki lingkungan untuk memberi perhatian dan bantuan. Umat menyebutkan beberapa potensi, seperti dana kas lingkungan, semangat gotong royong, waktu dan tenaga umat, serta jaringan komunikasi yang baik antaranggota. Selain itu, kepedulian sederhana seperti kunjungan, doa bersama, dan saling menyapa juga menjadi bentuk perhatian yang berarti.

Tidak hanya itu, umat juga membahas peluang yang bisa dimanfaatkan dari Gereja maupun pemerintah. Dari pihak Gereja, terdapat program dana sosial, kegiatan karitatif, dan pelayanan pastoral yang dapat diakses. Sementara dari pemerintah, ada bantuan sosial, layanan kesehatan, serta program pemberdayaan masyarakat yang bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santo Petrus diharapkan semakin peka dan tidak bersikap acuh terhadap sesama. Kisah Orang Kaya dan Lazarus menjadi cermin agar kita tidak terlambat menyadari pentingnya berbagi dan peduli. Semoga melalui Doa APP III ini, semangat tanggung jawab sosial semakin tumbuh dan diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah kehidupan sehari-hari.