Kegiatan Pertemuan APP ke 3 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Kegiatan Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali mengadakan kegiatan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-3 pada hari Kamis, 12 Maret 2026. Pertemuan kali ini dilaksanakan di rumah Mas Himawan dan dihadiri oleh umat lingkungan yang dengan penuh semangat berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan APP selama masa Prapaskah.

Kegiatan diawali dengan doa pembuka yang mengajak seluruh umat untuk mempersiapkan hati dan pikiran dalam menjalani masa pertobatan, refleksi, serta memperdalam iman. Selanjutnya, umat bersama-sama mengikuti pendalaman iman melalui bahan APP yang telah disiapkan. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, peserta diajak untuk merefleksikan tema yang diangkat serta membagikan pengalaman iman dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan berlangsung dengan suasana hangat, penuh kebersamaan, dan saling mendukung satu sama lain dalam perjalanan iman selama masa Prapaskah. Melalui pertemuan ini, umat diharapkan semakin dikuatkan untuk hidup dalam semangat pertobatan, kepedulian, serta tindakan nyata kepada sesama.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa penutup dan ramah tamah sederhana yang semakin mempererat tali persaudaraan antarumat di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.

Semoga melalui rangkaian kegiatan APP ini, umat semakin bertumbuh dalam iman dan mampu mewujudkan nilai-nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Instagram : https://www.instagram.com/reel/DVydCFyD_mt/?igsh=eDY3NTA0YnB4ajJn

Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSuPoXbFe/

Youtube : https://youtube.com/shorts/tpFn5Xbun6o

Misa Arwah 7 Hari Ibu Caecilia Supartijah

Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan misa arwah 7 hari untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartijah pada hari Jumat, 13 Maret 2026 pukul 19.00 WIB. Misa dilaksanakan dalam suasana khidmat dan penuh doa, dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap, serta dihadiri oleh sekitar 27 orang umat.

Ibu Caecilia Supartijah merupakan salah satu umat Lingkungan Santo Petrus yang telah dipanggil Tuhan pada hari Minggu, 8 Maret 2026. Kehadiran umat dalam misa ini menjadi bentuk kebersamaan dan dukungan doa bagi keluarga yang ditinggalkan, sekaligus ungkapan kasih kepada almarhumah.

Dalam perayaan Ekaristi ini, umat diajak untuk mendoakan agar almarhumah memperoleh kedamaian abadi di hadapan Tuhan. Suasana doa bersama ini juga menjadi pengingat bagi umat akan harapan iman akan kehidupan kekal serta pentingnya saling menguatkan dalam komunitas.

Melalui misa arwah 7 hari ini, umat Lingkungan Santo Petrus menunjukkan semangat persaudaraan dan kepedulian dengan bersama-sama memanjatkan doa bagi almarhumah Ibu Caecilia Supartijah, agar Tuhan menerima beliau dalam kebahagiaan abadi di surga.

Doa APP IV dan V Lingkungan Santo Petrus: Pentingnya Pedoman dan Langkah Awal Menolong Sesama

Umat Lingkungan Santo Petrus mengadakan pertemuan doa APP IV dan V pada hari Kamis, 12 Maret 2026 pukul 19.00 WIB di rumah Bapak Hananto. Pertemuan ini dihadiri oleh 12 orang umat yang dengan penuh semangat mengikuti rangkaian kegiatan doa dan refleksi bersama.

Pada awal pertemuan, umat diajak melakukan sebuah aktivitas sederhana namun bermakna. Setiap orang diminta untuk membuat satu goresan gambar yang harus menyambung dengan goresan sebelumnya tanpa adanya instruksi tertentu.

Setelah semua umat memberikan goresannya, terbentuklah sebuah gambar yang oleh sebagian orang diinterpretasikan sebagai seseorang yang sedang membungkuk sambil mengambil mangga. Namun, bentuk gambar tersebut terlihat sangat tidak jelas dan memiliki penafsiran yang berbeda-beda.

Selanjutnya, umat diminta kembali membuat satu goresan gambar, tetapi kali ini dengan mengikuti instruksi yang diberikan, yaitu menggambar pemandangan dua buah gunung. Hasilnya jauh lebih jelas dan terarah. Gambar yang terbentuk memperlihatkan dua gunung dengan sebuah gereja di puncak gunung.

Kegiatan sederhana ini menjadi sarana refleksi yang selaras dengan tema pertemuan APP. Tema pertemuan IV menekankan pentingnya pedoman atau “instruksi” dalam sebuah gerakan agar arah dan tujuan menjadi lebih jelas. Sementara itu, tema pertemuan V mengajak umat untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama.

Pedoman sangat penting dalam kehidupan karena menjadi arah dan dasar dalam bertindak. Dengan adanya pedoman, seseorang dapat mengetahui tujuan yang jelas serta langkah yang tepat untuk mencapainya. Tanpa pedoman, tindakan yang dilakukan sering kali menjadi tidak terarah dan dapat menimbulkan kebingungan atau perbedaan penafsiran.

Pedoman juga membantu seseorang mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab. Dalam kehidupan bersama, pedoman membuat setiap orang dapat bergerak dengan tujuan yang sama sehingga tercipta keteraturan dan kerja sama yang baik.

Dalam kehidupan beriman, pedoman dapat berupa ajaran Tuhan, nilai-nilai moral, maupun nasihat yang membantu umat menjalani hidup dengan benar. Dengan mengikuti pedoman tersebut, seseorang dapat bertindak lebih bijaksana dan mampu melakukan kebaikan, termasuk dalam menolong sesama.

Pada akhir pertemuan, umat saling berbagi pengalaman (sharing) mengenai bagaimana mereka dapat menerapkan kedua tema tersebut dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengikuti tuntunan yang baik dan berani memulai tindakan nyata untuk membantu sesama.

Pertemuan doa ditutup dengan doa bersama dalam suasana kebersamaan dan semangat untuk semakin peduli terhadap sesama di masa Prapaskah ini.

Maguwo bersinar……..


Senam sehat di Maguwo, Sabtu 14 Maret 2026 bersama Romo FX. Murdi Susanto Pr.

Mari yang ingin sehat, kami tunggu setiap sabtu pagi jam 07.00 di belakang gereja.

Anda sehat, kami senang……………….



APP 2 Lingkungan St. Theresia : Potensi Dana Sosial Gereja, Fungsi Dan Sifatnya.

Pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) ke-2 Lingkungan St. Theresia kembali dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, bertempat di rumah Ibu Nanik selaku Ketua Lingkungan. Kegiatan ini dihadiri oleh umat lingkungan yang berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti doa dan pendalaman iman selama masa APP.

Dalam pertemuan ini, umat merenungkan tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.”Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 4:32–37, yang menggambarkan kehidupan jemaat perdana yang hidup dalam persatuan hati dan saling berbagi dengan sesama. Bacaan Kitab Suci ini mengajak umat untuk meneladani semangat solidaritas, di mana segala yang dimiliki dipergunakan untuk kepentingan bersama dan membantu mereka yang membutuhkan.

Selanjutnya, umat mendapatkan pemaparan mengenai berbagai bentuk dana sosial dalam Gereja menurut tingkatannya. Pada tingkat nasional, dana sosial dikelola oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai bentuk kepedulian Gereja secara luas terhadap kebutuhan sosial masyarakat. Kemudian pada tingkat keuskupan, dana sosial digunakan untuk mendukung berbagai karya pastoral dan pelayanan sosial di wilayah keuskupan. Pada tingkat kevikepan, dana sosial berfungsi membantu koordinasi serta pelayanan antar paroki dalam satu wilayah kevikepan. Sementara itu, pada tingkat paroki, dana sosial dimanfaatkan secara langsung untuk membantu umat yang membutuhkan serta mendukung kegiatan sosial di lingkungan paroki.

Pertemuan ini dihadiri oleh umat Lingkungan St. Theresia yang dengan antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Setelah pemaparan materi, umat juga diajak untuk sharing dan refleksi bersama, sehingga setiap peserta dapat memahami lebih dalam pentingnya dana sosial sebagai wujud nyata kepedulian dan kasih kepada sesama.

Kegiatan APP ke-2 ini berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, dimulai dari doa pembuka, pembacaan Kitab Suci, pendalaman materi, sharing bersama, hingga ditutup dengan doa penutup.

Melalui pertemuan ini, umat diharapkan semakin menyadari bahwa dana sosial gereja merupakan sarana untuk mewujudkan semangat solidaritas, kebersamaan, dan pelayanan kasih, sehingga Gereja dapat terus hadir membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan.

Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Stefanus

Tema: Melampaui Materi, Menghidupkan Kepedulian

Pertemuan ketiga dalam rangkaian Aksi Puasa Pembangunan (APP) kali ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai sikap tidak peduli. Seringkali, kita terjebak dalam pola pikir bahwa menjadi “baik” atau “berkat bagi sesama” hanya diukur dari seberapa banyak materi yang kita bagikan. Padahal, tanggung jawab sosial jauh lebih luas dari sekadar dompet.


1. Belajar dari Kisah Si Kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31)

Dosa utama si kaya dalam perumpamaan ini bukanlah karena ia memiliki harta, melainkan karena ia memiliki gerbang. Gerbang itu secara simbolis memisahkan dirinya dengan realitas di sekitarnya—yakni Lazarus yang menderita di depan pintunya.

  • Ketidakpedulian sebagai Dinding: Si kaya tidak berbuat jahat secara aktif (ia tidak mengusir Lazarus), tetapi ia memilih untuk tidak melihat. Ketidakpedulian adalah “dosa kelalaian” yang sering kita lakukan saat kita membiarkan kesulitan orang lain berlalu begitu saja karena merasa itu bukan tanggung jawab kita.
  • Berkat itu Bukan Hanya Harta: Kita sering salah kaprah menganggap berkat hanya berupa uang atau barang. Padahal, berkat yang paling mendasar adalah waktu, perhatian, dan kesediaan kita untuk hadir bagi orang lain.

2. Memperluas Makna “Membantu”

Membantu tidak melulu soal materi. Jika kita merasa tidak memiliki kelebihan harta, bukan berarti kita tidak bisa menjadi berkat. Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan melalui:

  • Kehadiran (Presence): Menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang kesepian atau sedang berbeban berat. Terkadang, didengarkan adalah bentuk bantuan terbesar.
  • Advokasi: Berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, meskipun itu tidak menimpa kita secara langsung.
  • Edukasi & Pendampingan: Membagikan ilmu atau keterampilan yang kita miliki untuk membantu orang lain menjadi lebih mandiri.
  • Empati yang Aktif: Mengakui keberadaan sesama. Mengingat nama mereka, menanyakan kabar, dan memperlakukan setiap orang dengan martabat yang sama—inilah cara merobohkan “gerbang” yang memisahkan kita dari Lazarus-Lazarus di zaman sekarang.

3. Mengubah Sikap: Dari “Melihat” menjadi “Bertindak”

Sikap tidak peduli biasanya berakar dari rasa aman yang semu. Namun, tanggung jawab sosial menuntut kita untuk berani merasa “tidak nyaman” demi orang lain. Di minggu ke-3 ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • Mulai melihat orang-orang yang selama ini kita abaikan dalam keseharian kita.
  • Memberikan apresiasi dan perhatian yang tulus kepada orang-orang di sekitar kita.
  • Menyadari bahwa setiap talenta atau kebaikan kecil yang kita bagikan adalah bagian dari berkat yang harus diteruskan, bukan ditimbun untuk diri sendiri.

Outing Calon Komuni Pertama 2026

Minggu, 8 Maret 2026, sebanyak 116 calon komper se Paroki Kalasan menjadi peserta mengikuti outing “Jalan Bersama Yesus” dengan mengunjungi Museum Misi Muntilan, PPSM Sanjaya, dan Seminari Mertoyudan

Bukan sekadar jalan-jalan tetapi juga belajar mengenal sejarah Gereja dan karya misi Keuskupan Agung Semarang. Seru, menambah ilmu, dan semakin cinta Gereja!.

Dokumentasi selengkapnya di https://www.instagram.com/reel/DVqFZu-kega/?igsh=a21tZ3p3b215dHF4

Kepedulian terhadap Sesama: Menjenguk Orang Sakit sebagai Aksi Sosial di Lingkungan

Pada tanggal 4 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan kunjungan ke rumah Bapak Donal Sinaga. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, semangat, dan mendoakan kesembuhan untuk Bapak Donal Sinaga yang sempat opname di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Kegiatan ini seringkali dilakukan di Lingkungan St. Elisabeth tiap ada umat di lingkungan yang menderita sakit. Aksi ini sebagai wujud kepedulian antarumat di lingkungan.

Kepedulian terhadap sesama merupakan nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencerminkan rasa empati, solidaritas, dan keinginan untuk saling membantu di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan. Salah satu bentuk kepedulian yang sederhana namun sangat bermakna adalah menjenguk orang sakit di lingkungan sekitar serta mendoakan kesembuhannya.

Menjenguk orang yang sedang sakit bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran kita dapat menjadi sumber semangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Ketika seseorang sakit, sering kali ia merasakan kelemahan, kesedihan, bahkan kesepian. Dengan datang menjenguk, kita menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dan masih ada orang yang peduli terhadap kondisi mereka.

Selain memberikan dukungan moral, aksi ini juga mempererat hubungan sosial antarumat. Interaksi yang terjadi saat menjenguk dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa diperhatikan dan dihargai.

Doa juga memiliki peran penting dalam aksi sosial ini. Mendoakan kesembuhan orang yang sakit merupakan bentuk dukungan spiritual yang memberikan harapan dan ketenangan bagi mereka. Doa yang tulus dapat memberikan kekuatan batin, baik bagi orang yang sakit, keluarga, maupun bagi orang yang mendoakannya.

Aksi sosial seperti ini tidak memerlukan biaya besar atau persiapan yang rumit. Hal yang terpenting adalah niat tulus untuk peduli dan berbagi perhatian. Bahkan kunjungan singkat dengan kata-kata penyemangat dapat memberikan dampak yang sangat berarti bagi orang yang sedang sakit.

Dengan membiasakan diri menjenguk orang sakit dan mendoakan kesembuhannya, kita turut menumbuhkan budaya kepedulian dalam masyarakat. Jika setiap orang memiliki rasa empati dan saling memperhatikan, maka lingkungan akan menjadi tempat yang lebih hangat, penuh kasih, dan saling mendukung.

Pada akhirnya, kepedulian terhadap sesama adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Melalui tindakan sederhana seperti menjenguk orang sakit, kita belajar untuk lebih peka terhadap kondisi orang lain serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Instagram : Tak selalu harus dengan banyak kata,
kadang kehadiran sederhana sudah cukup menyembuhkan.

Dalam kunjungan ini, kami belajar bahwa kasih itu nyata,
hadir, mendengar, menggenggam, dan mendoakan.

Lingkungan Santa Elizabeth Stasi Maguwo,
berjalan bersama dalam kasih, menguatkan dalam harapan.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DW5rrl4j5-8/?igsh=MWxiejF3a2g1bW44ZA==

Ngabuburit Lintas Iman di Sleman, Gus Miftah dan Danrem 072 Pamungkas Serukan Perawatan Kebhinekaan

Yogyakarta – Sekitar 200 tokoh lintas agama mengikuti kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan lintas iman yang digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut mengusung semangat merawat kebhinekaan dan menyemai kerukunan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Acara ini menghadirkan tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman atau yang dikenal sebagai Gus Miftah, serta Danrem 072/Pamungkas Bambang Sujarwo sebagai pembicara dalam orasi kebangsaan.

turut hadir pula perwakilan dari Gereja Maria Marganingsih kalasan, perwakilan dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo dan perangkat pemerintahan di sekitar gereja Maria Bunda Allah

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga membagikan 200 buku karya Gus Miftah berjudul “Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan” kepada para peserta yang hadir.

Buku tersebut lahir dari kegelisahan mendalam terhadap kondisi kebangsaan Indonesia, terutama terkait masih terjadinya berbagai kasus intoleransi yang dinilai mencederai nilai kemanusiaan dan persatuan bangsa.

Menurut Miftah Maulana Habiburrahman, berbagai peristiwa seperti perusakan rumah ibadah, penolakan pembangunan gereja, pembatasan ritual keagamaan kelompok minoritas, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi pertanyaan besar bagi bangsa yang menjunjung tinggi ideologi Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa, baik tokoh agama, masyarakat sipil, maupun setiap warga negara,” tegas Gus Miftah.

Ia menambahkan bahwa tanpa upaya kolektif melawan intoleransi, bangsa Indonesia berisiko kehilangan rumah besar bernama Indonesia yang seharusnya menjadi tempat aman bagi semua orang untuk hidup dan beribadah sesuai keyakinannya.

Selain itu, Gus Miftah juga menekankan pentingnya literasi toleransi, khususnya di era digital. Menurutnya, ujaran kebencian di media sosial dapat memicu konflik di dunia nyata jika tidak disikapi dengan bijak.

“Literasi digital tentang toleransi harus diajarkan sejak dini, baik di sekolah maupun di keluarga, agar generasi muda menjadi agen perdamaian, bukan penyebar kebencian,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai literasi saja tidak cukup tanpa kehadiran negara melalui regulasi yang adil. Ia menyinggung Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 yang menurutnya masih memiliki keterbatasan dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak kelompok minoritas.

Sementara itu, Bambang Sujarwo dalam orasi kebangsaannya menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, dan ras merupakan identitas bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, toleransi harus menjadi kekuatan utama bangsa dengan cara saling menghormati dan menghargai satu sama lain, tidak hanya sebatas ucapan tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya menghimbau kepada seluruh pemeluk agama agar saling menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi toleransi. Jika ada permasalahan, selesaikanlah dengan musyawarah untuk menemukan jalan terbaik,” ujarnya.


Berita terkait :

https://www.klikanggaran.com/pendidikan/11516833975/ngabuburit-lintas-iman-di-gereja-sleman-gus-miftah-bagikan-200-buku-kebinekaan-dan-serukan-perlawanan-bersama-terhadap-intoleransi-di-indonesia

https://www.harian9.com/nasional/522422653/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-serukan-perlawanan-terhadap-intoleransi#google_vignette

https://www.melintas.id/news/347280660/meneguhkan-semangat-inklusivitas-gus-miftah-dan-pesan-persatuan-dari-mimbar-gereja-di-sleman

https://www.jatengzone.com/komunitas-event/106016833712/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-saat-ngabuburit-soroti-intoleransi-dan-pentingnya-menjaga-kerukunan-di-indonesia#google_vignette

https://www.g-news.id/nasional/1582422636/ngabuburit-kebangsaan-di-gereja-maguwoharjo-gus-miftah-gaungkan-perlawanan-terhadap-intoleransi

https://www.kliktimes.com/news/72916833694/gus-miftah-orasi-kebangsaan-di-gereja-sleman-serukan-perlawanan-terhadap-intoleransi

https://www.arahpublik.com/berita-publik/1257281367/gus-miftah-bagikan-buku-merawat-kebinekaan-ke-200-tokoh-lintas-agama-di-gereja-sleman-ajak-lawan-intoleransi?page=3#google_vignette

https://www.mediapriangan.com/berita/59216834090/ngabuburit-lintas-iman-di-gereja-sleman-gus-miftah-serukan-toleransi-dan-rawat-kebinekaan

https://www.redaksibaru.id/news/1702422794/ngabuburit-di-gereja-sleman-gus-miftah-serukan-perlawanan-intoleransi-di-hadapan-200-tokoh-lintas-agama

https://www.suaramerdeka.com/nasional/0416834131/ngabuburit-kebangsaan-di-sleman-gus-miftah-dan-200-tokoh-lintas-agama-serukan-pentingnya-merawat-toleransi

https://www.instagram.com/reel/DVp9unOkec7/?igsh=czE5eTNkeW9pYjVv

https://www.instagram.com/p/DVp9qN4kZU2/?igsh=YnM4ajVhMTRtYm82

Misa Requiem dan Upacara Pemakaman Ibu Caecilia Supartiyah

Umat Lingkungan Santo Petrus bersama keluarga mengadakan Misa Requiem untuk mendoakan almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah yang telah dipanggil Tuhan pada Minggu, 8 Maret 2026. Misa Requiem dilaksanakan pada hari Senin, 9 Maret 2026 pukul 09.00 pagi.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Jona Joakim Pinem, OFMCap. Dalam suasana doa yang khidmat, umat bersama keluarga memanjatkan doa agar almarhumah Ibu Caecilia Supartiyah mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan abadi di sisi Tuhan. Misa ini juga menjadi penguatan iman bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap berharap pada kasih Tuhan.

Setelah misa selesai, dilanjutkan dengan upacara pelepasan jenazah yang dihadiri oleh keluarga, kerabat, dan umat lingkungan. Selanjutnya jenazah dimakamkan di Sasana Loyo sebagai tempat peristirahatan terakhir almarhumah.

Pada malam harinya, keluarga dan umat kembali berkumpul untuk melaksanakan doa hari ketiga. Doa ini dipimpin oleh ibu prodiakon, Ibu Tiwi. Dalam doa tersebut, umat kembali mendoakan arwah almarhumah serta memohon agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, dan damai dari Tuhan.